Kalimat diatas memang cukup menggambarkan kelakuan saya untuk setiap hal yg bagi saya cukup “menyentuh”.
Setiap kali melihat adegan sedih dalam film (bahkan film paling norak sekalipun), membaca kalimat yg menyentuh, menyanyikan lagu yang membangkitkan memory saya,melihat bapak2 dan ibu2 tua dijalan, membaca tulisan dalam buku atau dimana saja, mampu membuat saya meneteskan air mata yg sungguh tak bisa saya tahan (sumpah,mati2an saya kerap berusaha menahannya,tapi nol besar hasilnya). Pokoknya setiap touching momentlah,apapun itu,seremeh apapun,bisa membuat saya jadi sangat cengeng sekali.
Lalu, saya ingat dulu saat kecil. Saya ingat dulu saya tak pernah menangis. Tak peduli seburuk apapun keadaannya.
Waktu itu saya tinggal jauh dari orang tua saya, terpisah provinsi.
Saya hanya tinggal dengan atok,nenek,dan saudara2 papa.
Saat atok masih ada, saya gak pernah merasa asing.namun saat atok harus pergi selamanya saat saya kelas 4 SD, semua terasa berubah. Waktu jenazah atok dibawa kerumah saya adalah cucu yg tak menangis. Saat kepala kecil saya ditempeleng seorang om gara2 kesalahan seorang sepupu yg hendak ditutupi, saya juga tak menangis. Saya hanya masuk kamar, menutup muka dan berharap saya bisa kuat sampai saya besar nanti. Saat saya kerap disuruh cuci piring saat keluarga besar kumpul dan setelahnya mojok disudut hanya menatap kosong saya juga tak pernah menangis, saat saya didiemin tante hanya karena saya tak ingin mencuci piring saat berkunjung kerumah mereka dan selanjutnya juga tak diajak untuk acara kumpul bareng, saya hanya diam.
Saya melihat papa memperlakukan mama dengan tak pantas lewat mata kecil saya, saya tak juga menangis. Saat kelas 1 SMP saya melihat papa mengamuk dan menghancurkan banyak “hal”, saya pun mengeras. Dan masih banyak saat2 lainnya yg entah bagaimana bisa saya lalui tanpa air mata.
Entah bagaimana, setamat kuliah dan bekerja saya jadi sangat cengeng. Gampang sekali menangis. Hal paling remeh yg menyentuh sekalipun dapat membuat dada saya sesak tak karuan. Saya tak paham psikologi kejiwaan. Saya hanya merasa terlalu banyak beban yg saya tahan dimasa kecil, yg tak pernah berani saya keluarkan karena saya takut, orang2 akan memarahi saya. Saya bahkan baru berani menangis didepan mama saat saya menikah karena tak tahan dengan beban waktu itu yg terlalu menggila.
Sekarang saya jadi begitu mudah nangis dan jatuh iba mungkin karena saya sudah merasa secure dan punya ruang untuk menangis tanpa takut dimarahi. Sekarang saya tak merasa takut mengeluarkan airmata saya untuk sesuatu paling “silly” sekalipun.
Entah, mungkin waktu itu saya memang takut dan merasa sendiri. Saya takut jika saya menangis, orang-orang akan menjadi marah pada saya. Kelak, jika saya punya anak, saya akan berusaha memberikan perlindungan hati dan mental untuk mereka ataupun anak-anak kecil lain yang berada disekitar saya.