Tulisan ini ada bukan karena sengaja disiapkan. Tapi karena saya sedang kebingungan sendiri mau ngerjain apa lagi dimeja saya sore ini. Bukan, ini bukan karena saya udah gak ada kerjaan deadline lagi, faktanya deadline saya justru numpuk. Tapi apalah daya, dipaksain sekeras apapun juga sama sekali gak ada keinginan saya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan itu. payah sangat!
Baiklah, saya janji besok saya akan geber semua kerjaan hasil dari malas-malasan hari ini. Tapi sekarang saya mau cerita soal film-film yang ada di Indonesia. Bukaaaaaaaaaaaaaan, saya bukan mau bahas soal praktek monopoli PT. Omega yang walaupun baru berdiri tapi sudah berhasil mengimpor film-film hollywood dan diberi keringanan pajak selama 2 tahun. Bukan, bukan yang itu.
Saya hanya ingin nulis betapa gerahnya saya dengan film-film horor selangkangan yang bisa dipastikan akhirnya tak ada yang bisa diingat. gak ada kualitasnya. tumbal kunti lah, kuntilanak kerasukan lah, endesbre, endesbre. Pernah sekali saya khilaf nonton film horor gak jelas kaya gitu yang ada kaitannya dengan Jembatan Semanggi. Maksud hati pengen belajar untuk menikmati film buatan anak negeri. Yang ada malah komentar yang tak berhenti dari awal sampai akhir film terus menerus karena cerita yang saya pikir sangat gak enak sekali dijadikan tontonan (call me stupid yang terus nonton sampai akhir). Ah kepanjangan kalau saya ceritakan semuanya. Pokoknya saya say no sama cerita-cerita film yang berkisah soal hantu dan selangkangan. Gak ada isinya sama sekali.
Tapi memang gak semua film Indonesia seperti itu. Banyak juga yang lain yang berisi dan cerdas. Tapi ya itu, produksinya gak sebanyak hantu-hantu gak jelas yang beredar.
Sementara berkaca pada film Hollywood, rasanya segala ide bisa dijadikan cerita menarik dan berisi serta bisa dijadikan renungan. Well, saya gak membanggakan negara lain dan menjatuhkan negara sendiri. Tapi untuk soal film, kita masih kalah jauh.
Tadi pagi gak sengaja saya lihat perjalanan islam di Trans TV. Berkisah tentang penyebaran islam di bumi Palembang. Dari awal kerajaan yang berkuasa, sampai akhirnya ditumbangkan oleh Majapahit. Seterusnya Pendekar Majapahit (namanya Aryo siapa gitu, saya lupa) yang menikah dengan Putri kerajaan dan masuk islam. Dan mtulailah islam berkambang ditanah sriwijaya itu. Plus diceritakan pula bagaimana perkembangan perdagangan lewat jalur sungai musi dan guru-guru dari tanah arab yang akhirnya menjadi guru agama disana.
And I just wondering, kenapa sih kita gak pernah terpikir untuk menuangkan cerita-cerita epik lokal seperti ini kedalam perfilman kita? Kita begitu seringnya terperangah dengan cerita-cerita epik Hollywood tapi gak pernah nengok sejenak, hey……kita punya cerita sejarah yang hebat loh. Cerita yang andai saja diusahakan dan dipoles dengan professional bisa jadi tak kalah hebat dengan cerita epik dari negeri barat sana.
Andai saya punya duit banyak, saya bakalan filmkan semua cerita sejarah kita (semoga Allah mendengar doa saya dan besok bos saya manggil, naikin gaji saya 50 x lipat).
Intinya, saya cuma ingin bilang, kita punya banyak ide yang bisa digali untuk dijadikan film ketimbang cerita hantu gak jelas yang sedikit-sedikit mengumbar aurat itu. Aghhhr, kasian anak saya nanti kalau film-film seperti itu masih hidup saja.