Arsip

All posts for the month Agustus, 2011

Jangan pernah lupa masa pacaran

Published Agustus 14, 2011 by Mrs Nugroho

 

Dulu saya sangat takut jika pasangan saya akan berubah suatu saat setelah beberapa tahun pernikahan kami. Atau lebih buruk lagi, tak lama setelah pernikahan. Oleh karena itu, saya tak pernah berhenti bertanya padanya apakah ia menyayangi saya? Apakah ia akan berubah suatu saat nanti? Apakah ia akan meninggalkan saya jika suatu saat ia menemui seseorang yang lebih istimewa dari saya? Dan jawaban semuanya adalah iya, tidak dan tidak.

Saya takut pernikahan saya akan hambar pada tahun-tahun setelah tahun pertama dan suami saya perlahan-lahan berubah dan semuanya hanyalah tinggal rutinitas belaka. Tak ada lagi kejutan, yang ada hanya perbuatan yang terus diulang-ulang. Ini bermula dari obrolan saya dengan seorang driver direksi saat saya masih bekerja di kantor yang sebelumnya. Hanya ingin belajar dari seorang yang sudah berpengalaman tepatnya, sebab saat itu saya memang belum menikah.

Dan jawabannya sangat mengejutkan saya. Bahwa setelah memiliki beberapa anak, percikan-percikan api cinta – katakanlah seperti itu – yang dulu selalu muncul kini sudah tak ada lagi. Urusan tak pernah lagi menjadi kamu dan aku, tapi anak-anak. Pelukan dan ciuman adalah hal yang jika kini dilakukan akan terasa sangat canggung sekali. Dan bagaimana dengan hubungan suami istri? Tanya saya penasaran. Dan taukah kalian jawabnya, hubungan suami istri pun hanya dilakukan karena kebutuhan biologis semata, hubungan yang satu itu tak lagi dijadikan cara untuk mengungkapkan seluruh perasaan kita pada pasangan kita.

Waktu itu saya hanya mengerenyit, membayangkan semua hal yang  saya rasa tak masuk akal di dalam pikiran itu. seolah tau jalan pikiran saya, driver itu mengatakan pada saya, nanti ketika saatnya tiba, kamu juga pasti merasakan hal yang sama. Tapi tentu saja bukan saya jika ingin mengalami hal yang sama. Dengan penuh keyakinan saya katakan padanya, bahwa saya tak akan membiarkan hal yang sama terjadi pada saya. Dan sebagai balasan saya pun mendapatkan seringai ejekan.

“Percaya deh, setelah punya anak, kalian udah gak akan sempat ngapa-ngapain.” Itu ucapannya saat pergi meninggalkan saya. Dan itulah alasan kenapa saya selalu bertanya apa pasangan saya akan berubah setelah menikah nanti.

Hal yang sama juga pernah saya  tanyakan pada salah seorang atasan saya. Dan jawabannya adalah, bahwa ia tak pernah mengucapkan I Love You sejak ia menikah dengan suaminya. Dan hal ini lagi-lagi membuat saya bertanya-tanya, bukankah cinta itu sesuatu yang harus ditunjukkan, harus dikatakan? Alasannya, ia bukanlah tipe orang yang suka seperti itu. Tapi tidakkah rasa cinta yang besar untuk pasangan kita bahkan bisa membuat kita melakukan hal-hal yang menurut kita tidak mungkin untuk kita lakukan? Setidaknya untuk saya, cinta harus ditunjukkan dengan perbuatan, dizahirkan dengan ucapan, dan dihembuskan dalam setiap keseharian kita. Tapi ternyata masih terlalu banyak penafsiran cinta diluar sana yang sangat tak bisa saya mengerti.

Maka ketika menikah, saya katakan pada suami saya, saya tak menginginkan perubahan apapun pada sikap kami. Tentu saja ada yang memang harus berubah. Sikap dan tanggung jawab serta status kami harus berubah dan disesuaikan. Tapi bukan berarti cara kami mencintai pun harus berubah bukan? Artinya, saya tak ingin kami merubah gaya kami mencinta satu sama lain. Saya ingin terus memelihara budaya pacaran kami dalam keseharian rumah tangga kami.

Dan memang itulah yang kami lakukan. Ketika jam pulang kantor suami saya tiba, dan mama tiba-tiba menelepon dan bertanya saya sedang apa dan dimana, saya katakan saya sedang di  jalan dan ada janji dengan suami. Biasanya beliau hanya tertawa mendengar alasan saya, dan mengatakan kami seolah-olah masih pacaran saja. Masih janji-janji ketemu segala macam, padahal setiap hari tentu saja sudah bertemu dirumah.

Kami tak pernah melepaskan tangan satu sama lain saat berjalan. Selalu bercanda saat suntuk kala macet. Jalan-jalan tanpa tujuan pada weekend yang bokek. Nonton midnite di 21. Berburu makanan murah saat duit sedang tidak banyak dikantong. Bermain monopoli saat sedang tak ingin keluar rumah. Saling mencium dan memeluk saat akan berpisah. Tak pernah absen bilang I Love You atau Aku Sayang Kamu pada setiap kesempatan.

Sama seperti mama, orang-orang dijalanan juga sering kali menduga kami masih pacaran. Hal itu baru akan tertepis jika kami sudah keluar belanja bulanan setelah jam pulang kantor dengan mengenakan baju tidur dan membawa plastik belanja bulanan sambil nongkrong sebentar di burger king plaza semanggi.

Yah, saya memang selalu berusaha untuk tak pernah melepas tangannya ketika berjalan. Memang ada kalanya saya lupa dan membiarkan tangan saya bebas, tapi biasanya tak pernah lama. Jika kebetulan saya berjalan didepannya, saya akan mengulurkan tangan kebelakang dan menunggu tangannya menggenggam tangan saya. Jika saya berjalan di belakangnya, maka saya akan memintanya untuk menggenggam tangan saya dan tak akan mulai berjalan sampai ia menggenggamnya. Mungkin sebagian orang akan mengatakan hal seperti itu terlalu repot. Tapi bagi saya, itu adalah salah satu cara untuk terus memelihara rasa sayang dan cinta saya pada suami. Itu salah satu cara untuk menunjukkan pada dunia bahwa saya bahagia bersamanya.

Kami juga tak pernah melupakan bercanda. Bukan berarti kami selalu bercanda tentang hubungan kami. Tapi daripada diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing – seperti yang kadang sering dilakukan beberapa pasangan lainnya, kami sering melakukan hal-hal yang ajaib dan kadang konyol hanya untuk memancing salah satu dari kami agar tertawa saat jalanan sedang macet parah. Suami saya punya bakat alam bahwa ia tak perlu memancing tawa saya dengan joke-joke apapun, tapi cukup hanya dengan gerakan atau ucapan tak sengajanya saja. Biasanya gerakan anehnya yang spontan sudah berhasil mengundang tawa saya. Atau ucapan aneh lain yang keluar begitu saja dari bibirnya. Sementara saya, perlu usaha lebih dengan melakukan hal-hal kreatif untuk membuatnya menarik garis bibirnya ke atas.

Kadang saya hanya memberikannya teka teki garing. Namun tak jarang saya akan bertingkah aneh menirukan beberapa binatang sambil menghadap kearahnya. Gaya favorit saya adalah simpanse mode:on. Suami saya paling tak tahan jika sudah melihat saya memasang pose seperti itu. Ia akan tertawa dan langsung memalingkan mukanya setelah itu. Ngeri liat monyet, katanya. Tapi tentu saja itu tak pernah membuat saya berhenti melakukannya. Pernah suatu kali ia menggendong saya didepan tubuhnya, dan secara mendadak saya berpose dan berlaku seperti simpanse. Reaksi suami, terbahak tentu saja dan langsung memelorotkan gendongannya. Ia tak ingin melihat pose konyol saya itu berlama-lama.

Jika dulu kami sering menekuk muka jika bokek saat weekend, maka saat ini kami lebih sering melakukan hal-hal spontan untuk mengatasi kebosanan kami. Hal yang paling sering dan memungkinkan tentu saja jalan-jalan. Tapi jalan-jalan kami kali ini tanpa tujuan. Hanya jalan saja. Kemana kaki kami mau melangkah, tanpa berniat singgah dimanapun. Pernah satu kali malam minggu sebelum jadwal gajian, dan kami harus irit sampai gajian tiba. Tentu saja tak ada budget untuk jalan, apalagi makan. Tapi mau diam dirumah saja juga rasanya malas sekali. Jadi kami memutuskan keluar dan berkeliling jakarta dengan busway. Kami naik dari halte kuningan madya, turun di dukuh atas, naik ke arah kota, transit di harmoni, antri di koridor menuju pulogadung, turun di senen, lanjut ke matraman, dan menuju dukuh atas lagi untuk antri kembali di koridor menuju ragunan. Hanya begitu saja. Berkeliling melihat jakarta sambil bercerita tentang banyak hal.

Kalau dulu nonton midnite sering membuat saya merasa tak enak hati karena harus pulang malam dan membiarkan suami saya pulang kerumah tengah malam dengan harap-harap cemas, kini nonton midnite dengannya tak lagi menjadi masalah. Menjadi suami istri artinya kami bebas pulang jam berapapun. Tak lagi risih jika ditanyai orang yang kebetulan melintas, dan jauh lebih bebas mengekspresikan perasaan kami saat saling menggenggam tangan atau menyenderkan kepala saya di bahunya saat nonton atau karena ac bioskop yang terlalu dingin.

Pun saat ingin sekali makan tapi tidak tersedia cukup uang dikantong. Biasanya saya punya keinginan untuk makan yang sangat susah sekali untuk dikendalikan. Sering datangnya tanpa direncanakan dengan baik sebelumnya. Artinya, sering sekali saya tiba-tiba ingin makan sesuatu sementara kantong sedang bokek. Jadi jika sudah begitu, saya dan suami biasanya menyiasatinya dengan berburu makanan murah. Contoh, jika saya sedang ingin makan makanan berkuah. Ada bakso yang memang enak banget, tapi mahal dan isinya dikit bow! Kami tidak akan meliriknya, dan akan terus melangkah ke warteg yang kami tau soto ayamnya enak banget dan murah, plus bisa nambah tempe kering sampe 4 biji lagi!

Jika perut sudah lapar tapi rasanya masih sayang banget membelanjakan uang karena beberapa jam lagi sudah waktunya jam makan besar, yang akan menjadi sasaran kami berikutnya adalah tukang gorengan. Beli ubi, tempe, tahu, dan pisang goreng, dan dimakan berdua, rasanya sudah cukup untuk mengganjal perut yang bahkan tanpa kami sadari sering bertahan lebih lama dari yang kami harapkan.

Hehehe, sungguh bukan karena pelit. Hanya saja ketika keadaan sedang tidak memungkinkan, tentu saja kami harus berpikir cerdas untuk menyelamatkan kantong kami tapi tidak mengorbankan perut kami sendiri.

Beruntunglah plaza semanggi punya satu gerai didalam giant yang khusus menjual mainan dan makanan zaman dahulu kala. Jadi ketika suatu waktu kami mendapati monopoli tanpa pikir panjang kami langsung membelinya, walaupun dihargai 17 ribu rupiah. Padahal dulu tentu saja gak sampai segitu ya? Dan monopoli inilah yang kadang menolong kami jika kami diserang rasa bosan ngapa-ngapain saat dirumah. Main dan mengocok dadu, sambil berteriak-teriak karena berhasil membangun hotel dan memblokade sebuah wilayah adalah sebuah kesenangan tersendiri yang sudah sedikit susah didapat untuk saat ini.

Dan akan saya katakan pada kalian, bahwa saya tak pernah melupakan untuk memeluk dan mencium suami saya saat akan berpisah. Jika dirumah saya akan memeluknya erat dan memintanya mencium saya. Jika diluar rumah, saya akan merangkulnya dan menyalim tangannya. Tentu saja sedikit ribet untuk memberinya ciuman diluar. Yang ada bisa-bisa kena pasal tindakan asusila.

Tak pernah absen bilang I Love You atau Aku Sayang Kamu pada setiap kesempatan. I really do! Saya mengatakannya dalam sms, dalam telepon, saat akan berangkat kerja, saat akan tidur, saat bangun tidur, bahkan saat tak ada kerjaan dan hanya memandanginya. Saya mengucapkannya dan tak akan berhenti sampai ia mengucapkan hal yang sama pada saya.

Tentu saja, saya tak akan menunggunya untuk berbuat terlebih dahulu baru saya berbuat hal yang sama. Saya percaya cinta adalah bagaimana kita memperlakukan orang yang kita kasihi dengan perlakuan yang terbaik. Cinta adalah bagaimana soal membuat orang yang kita sayangi bernapas dengan nyaman saat berada bersama kita. Bahwa cinta adalah hal yang harus kita tunjukkan dan katakan pada orang yang kita cintai, karena akan kejam sekali rasanya jika kita tak pernah membiarkannya tau betapa kita mencintai mereka. Cinta adalah soal membuat seseorang yang kita pilih untuk bersama kita selama sisa hidup kita selalu tersenyum dalam keadaan apapun.

Memang saya dan suami tak pernah tau apa yang terjadi. Kami baru menikah. Orang-orang pasti akan bilang, wajar saja jika mereka masih hot-hotnya. Sebentar lagi ketika sudah punya anak juga pasti akan berubah. Tapi saya dan suami juga punya pilihan untuk memilih. Dan kami berdua sudah memilih untuk tidak pernah meninggalkan romantisme pacaran kami dalam kehidupan rumah tangga kami. Untuk saat ini, dan mudah-mudahan juga nanti dimasa depan, saat kami diberi kepercayaan oleh Allah untuk mendidik bayi-bayi kecil kami.

Oh ya, apa saya sudah bilang pada kalian, bahwa suami saya masih selalu deg-degan jika berada didekat saya atau saat sedang memeluk saya, sama seperti pertama kali ia mencium saya dulu……

 

 

 

 

Katakan saja apa yang membuatmu menangis

Published Agustus 14, 2011 by Mrs Nugroho

Kami menikah baru satu hari. Dan ia sudah membuat saya menangis hanya berselang satu hari setelah kami mengikat janji. Latar belakang kuliah saya di ranah minang, memang sering membuatnya meledek saya dengan sebutan uni. Saya tak pernah tau apa maksudnya memanggil seperti itu, hanya saja saya tak pernah suka mendengarnya. Saat masih pacaran berulang kali saya  katakan untuk jangan pernah memanggil seperti itu lagi, tak tak pernah diacuhkannya. Sampai pada malam minggu itu, ia memanggil saya uni lagi. Saya masih berusaha untuk menahan kesal karena malam ini kami ada janji pemotretan dengan calon adik ipar saya.

Setelah sesi foto selesai, kami mulai gatal untuk menjelajahi malam. Jadilah kami berkeliling sebentar dan pada akhirnya memutuskan untuk makan saja. Saya dan suami, adik-adik saya dan juga mama. Kami menyinggahi daerah pagaruyung yang terletak di wilayah kampung keling di Medan. Sesungguhnya mood saya  sedang baik-baik saja malam itu. meskipun sebenarnya kami semua sangat kesal dengan sikap pemilik tempat yang tak bisa menjaga mulutnya saat berbicara dengan mantan pekerjanya. Bagaimana tidak kesal, sudahlah berbicara dengan nada yang keras sekali, ia juga menyumpahkan seluruh sumpah serapah dan berbagai penghuni kebun binatang didepan kami, para tamunya.

Masalah dimulai ketika kami selesai makan dan akan bayar. Saya hanya bilang ke mama, makanannya kurang enak, tapi mahal banget. Belum lagi ditambah dengan omongan pemiliknya yang seperti tidak makan sekolahan. Tapi tiba-tiba suami saya yang duduk di sebelah menimpali;

“Memangnya omongan kamu disekolahin yang? Kan sama juga kaya dia.” Oke! Harus saya akui seketika ada dua tanduk yang muncul di atas kepala saya. Entah dia hanya ingin bercanda, tapi saya beritahu bahwa becandaannya tidak lucu, dan bukan pada waktu yang tepat. Saya sontak tak dapat menahan amarah, dan langsung bangkit menuju mobil.

Di perjalanan pulang, tak saya pedulikan dirinya yang sibuk meminta maaf. Saya hempaskan tangannya yang mencoba memeluk saya. Mama dan adik-adik saya tak ada yang berani menyela saat itu. mereka tahu saya bagaimana jika sedang marah. Berkali-kali saya menyindir pria yang baru saja menikahi saya itu. Namun meskipun ia sudah meminta maaf berkali-kali amarah ini masih saja belum surut.

Ketika sudah sampai rumah dan akan bergegas tidur, keadaan masih belum membaik. Saya hanya membelakanginya. Saya tahu ini memang tidak baik. Tapi wajar juga kan kalau saya marah dengan ucapannya tadi? Mendengarnya berkali-kali membujuk dan meminta maaf, justru tak mengubah perasaan kesal saya sedikitpun. Yang ada saya hanya semakin marah. Lantas saya berbalik dan mengancam bahwa saya tak akan ikut pulang ke jakarta besok bersamanya. saya akan tinggal di medan.

I know, I know, kalian pasti akan bilang saya sangat kekanakan sekali. Tapi entahlah, saat itu saya memang sedang marah sekali. Dan saya rasa waktu itu saya tengah memasuki periode datang bulan. Hasilnya, tentu saja sensitif tak karuan seperti itu. Sambil menangis saya katakan padanya, betapa saya tak suka dipanggil uni. Seharusnya dia menggubris rasa tak suka itu. Dan bukannya terus mengulangnya dari hari ke hari. Saya katakan padanya dengan sangat jelas sekali, SAYA TAK SUKA DIPANGGIL UNI LAGI! Saya katakan lagi, ia juga tak bisa seenaknya mengatai saya seperti yang dilakukannya dikafe tadi didepan keluarga saya. Bagaimana bisa dia meledek seperti itu. Lucu sama sekali pun tidak. Jika saya selama ini bisa menahan ucapan saya terhadapnya, maka saya harap ia seharusnya juga bisa melakukan hal yang sama.

Malam itu, ia berjanji dua hal. Tak akan memanggil saya uni lagi – dan ini memang ditepatinya –, dan tak akan mengucapkan sesuatu tentang apapun tanpa berpikir terlebih dahulu. Tapi yang namanya rumah tangga memang tidak bisa diharapkan berjalan selalu indah. Akan selalu ada satu atau dua hal yang lagi-lagi selalu membuat saya menangis.

Seperti siang itu misalnya. Ketika pulang dari medan kami memang tak membawa oleh-oleh apapun. Jadi kami memutuskan untuk membelikan J.Co saja untuk teman-teman kantor suami saya. Waktu itu saya yang membelinya, karena ia nantinya ingin mengenalkan saya pada rekan-rekan kerjanya. Jadilah saya membeli dua lusin J.Co di Plaza Semanggi. Kemudian berjalan kerepotan dengan kotak-kotak besar itu menuju halte busway didepan universitas atmajaya. Didalam busway keadaan tak lebih baik lagi. Himpit-himpitan sana sini sementara saya pasrah dengan kotak donat yang saya pegang. Saya tak tau lagi bagaimana harus menyelamatkannya agar tak remuk dalam keadaan rusuh seperti itu.

Turun di halte bunderan senayan, saya bergegas menuju kantor suami. Menyusuri gedung panin, menyeberangi jalan raya hingga sampai di depan kantornya. Tak berapa lama ia turun, dan mengatakan pada saya bahwa saya tak diperbolehkan masuk kekantornya. Sesungguhnya saya sangat mengerti jika ada kebijakan yang seperti itu. waktu itu memang masih jam 4 sore, masih jam kantor. Saya mengerti jika saya hanya diizinkan masuk sampai di lobi saja. Tapi yang membuat saya meradang adalah betapa tidak pekanya ia pada saya. Ia mengatakan itu tanpa menghiraukan betapa lelahnya saya sudah berlari kesana kemari hanya untuk mengantarkan donat bagi rekan-rekan kerjanya. Ia tak menghibur saya, tak menanyakan keadaan saya. Hanya mengatakan saya tak boleh masuk.  Saya serahkan semua kotak itu padanya.

Saya mencoba mengatakan, mungkin saya bisa datang lagi pukul setengah enam setelah jam kantor selesai. Tapi saya mohon, jangan dimakan dulu donat ini. Karena saya pun mau. Tapi jawabannya adalah;

“Gak mungkin lah yang. Apa kata anak-anak ntar?”

“Jadi kamu lebih peduli sama temen-temen kamu dibandingkan sama istri kamu yang udah capek-capek beli donat itu, gitu?” sungguh, saya benar-benar capek di jalanan tadi.

“Bukan gitu yang, tapi memang…”

“Ini, makan aja semua. aku gak butuh.” Segera saya serahkan kotak-kotak itu padanya dan memotong ucapannya.

“Aku kira kamu bisa belajar lebih peka lagi untukku, tapi ternyata kamu gak pernah belajar.” Yah, kurang lebih itulah yang saya  katakan pada suami saya. Dan sungguh, saya kecewa padanya. Sambil melepaskan tangannya yang berusaha menarik saya, saya segera berjalan keluar pagar dan mulai menyeberang jalan tanpa menoleh lagi. Tak saya pedulikan panggilan satpam yang memanggil saya agar kembali. Saya marah!

Selepas magrib saya punya janji untuk bertemu dengan teman kantor saya. Tapi urusan yang belum selesai dengan suami membuat hati saya masih belum tenang. Hati saya masih marah. Tapi saya tak tau apa yang saya ingin dia lakukan. Hingga akhirnya kami bertemu. Dan ia mengikuti saya sampai Blok M, tempat dimana saya dan teman akan bertemu. Mati-matian saya  usir dia agar pulang kerumah duluan. Tak saya pedulikan pandangan mata memelasnya yang biasanya tak pernah bisa membuat saya tahan berlama-lama marah padanya. Saat itu, saya mengucapkan semua hal buruk yang bisa saya katakan padanya. Saya bilang, jika ia tak pernah peka pada saya. Saya bilang ia tak pernah peduli apa yang saya suka dan tak saya suka. Saya bilang bahwa ia sering kali membuat saya menangis, dan segala macam hal yang saya rasa tak pernah ia coba lakukan untuk saya.

Tapi yang membuat saya terbalalak adalah bahwa ia tak merasa melakukan semua itu selama ini. Memang ia tak mencoba membela diri, ia hanya mengatakan bahwa ia tak mengerti seperti apa jelasnya ketika saya katakan ia tak pernah peka pada saya. Pun sama halnya ketika saya katakan ia sering membuat saya menangis, ia lagi-lagi tak mengerti apa yang telah dilakukannya sampai-sampai membuat saya menangis, karena selama ini saya  memang sering tiba-tiba menangis tanpa sebab.

Saya hanya terpana menatapnya, antara mencoba kembali pada akal sehat saya dan membaca ekspresi wajahnya saat ini. Sungguh, hal terburuk yang tak pernah saya suka dari pertengkaran adalah bahwa saya tak pernah bisa menatap orang yang saya cintai ini terluka. Hal itu justru sangat membuat hati saya menangis. Tapi kadang, mulut memang tak pernah bisa mengontrol apa yang diucapkannya.

Jadi saya katakan padanya; bahwa kita akan pulang kerumah dan akan duduk berdua untuk membicarakan apa yang saya sukai dan tak saya sukai. Apa yang saya maksudkan agar ia belajar untuk peka. Dan mengapa kadang-kadang saya suka menangis, dan apa yang saya ingin dia lakukan saat hal itu terjadi.

So ladies….., apa yang ingin saya katakan adalah, bahwa pasangan kita bukanlah dukun atau cenayang yang bisa membaca pikiran kita. Mereka makhluk pragmatis yang tak terbiasa membaca emosi. Jadi, jika kita marah lantas mendiamkannya dan berharap agar ia mengerti kesalahannya, percayalah itu tak akan pernah terjadi.

Akan lebih mudah menghadapi mereka ketika kita benar-benar mengomunikasikan kepada mereka apa yang kita inginkan, mengapa kita menangis, kenapa kita marah, daripada membiarkan mereka menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Karena jika kita lebih menuruti emosi kita dan membiarkan mereka dalam tebak-tebakan mereka, keadaan tak pernah akan menjadi lebih baik. Mereka tak akan pernah mengerti dan kita akan menjadi semakin uring-uringan.

Sejak itu saya belajar untuk mengatakan apa yang ada dalam kepala saya. Tentu tak semuanya, hanya hal-hal yang menyangkut kepentingan kami berdua dan baik untuk kami berdua. Saya belajar untuk mengatakan saya tak suka cara yang ini. Saya berlatih dari hari ke hari untuk belajar mengontrol amarah saya secara sehat dan mengomunikasikan penyebabnya secara dewasa kepada suami. Dan tak hanya itu, saya juga belajar untuk memujinya. Jadi seperti apa yang dikampanyekan oleh Teh Sari Wangi, mari bicara ladies, dan lihatlah apa yang akan terjadi.

Belajar Melayani

Published Agustus 14, 2011 by Mrs Nugroho

Well, saya sangat serius ketika menuliskan tentang hal ini. Belajar melayani. Yah…karena inilah yang sangat-sangat tak pernah saya lakukan selama masa lajang saya. Hari pertama saya menjadi istri, kami masih berada di rumah keluarga saya di tanah sumatra sana. Masih ada mama, yang entah kenapa selalu saja menyediakan segala keperluan untuk putra-putrinya, meski kami semua sudah menginjak usia dewasa. Tapi perlakuan mama sedikit berbeda ketika menyangkut soal Oho – suami saya. Mama tak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan mama untuk adik-adik yang lainnya. Beliau justru meminta saya untuk menyiapkannya sendiri.

“Bukannya mama udah nyiapin semuanya?” begitu kata saya waktu itu, tentu saja alasan sebenarnya malas.

“Memang. Tapi ika mesti belajar buat melayani suami. Belajar bikin tehnya, belajar nyiapin makannya. Pokoknya belajar nyiapin semua keperluannya.” Itu kata mama. Dan saya hanya mengerutkan kening. Bukannya itu bisa nanti, ketika di Jakarta? Tapi mama tak memberi saya kesempatan. Ia bahkan mendelikkan matanya saat saya tak juga bergerak untuk melakukan apa yang dikatakannya.

Sungguh, saya mungkin tipe orang yang sedikit malas, jika tak mau dibilang sangat malasJ. Saat lajang saya sudah terbiasa sendiri. Terbiasa tak sarapan dan minum teh saat akan berangkat ngantor. Dibanding masak untuk makan malam, saya lebih sering membeli makanan jadi.

So, saya dibuat mama belajar melayani suami saya. Membuatkan tehnya, yang mana masih saja malas-malasan. Menyiapkan makannya, menyiapkan bajunya setelah mandi, pokoknya apapun yang dibutuhkannya, harus saya layani. Sungguh, diperlukan sebuah ketekunan untuk melakukannya tanpa menggerundel. Dan saya akan berterus terang, bahwa tak mudah bagi saya yang terbiasa bekerja kantoran untuk melakukan semuanya. Jangankan melakukan untuk orang lain, melakukan untuk diri sendiri saja malasnya minta ampun.

Dan begitulah,  kami kembali ke jakarta. Kembali pada kesibukan sehari-hari kami lagi. Dan saya, tentu saja kembali pada kebiasaan saya sebelum menikah lagi. Terbiasa tidur lagi setelah subuh, dan baru bangun saat akan berangkat ke kantor. Alhasil, jangankan sarapan, susu dan teh pun tak akan dijumpai. Pun, ketika saya tak memiliki kesibukan ngantor karena sesuatu hal yang telah saya sebutkan sebelumnya, kebiasaan saya masih sama. Masih belum bisa bangun pagi untuk sekedar memanjakan suami saya dengan sarapan sederhana.

Gosh……! Hampir seminggu saya terlena dalam keadaan seperti ini. Ketika akhirnya saya tersadar, bahwa suami saya itu sering kali terlambat ke kantor gara-gara tak  saya bangunkan. Saya tersadar, ketika suami saya harus terburu-buru berangkat ke  kantor, dan ia bahkan belum sarapan sama sekali! Saya mulai berpikir, ini harus segera diubah. Sebagai istri, saya mestinya bisa melayani dia dengan lebih baik lagi. Ya ampun….., saya ternyata masih saja membawa pola kehidupan lajang dalam keseharian kami.

Sejak itu saya berusaha lebih baik lagi. Saya sengaja memasang alarm pukul 5 pagi. Itu saatnya kami subuh berjamaah. Jikapun ingin tidur lagi setelah itu, saya hanya membatasi sampai pukul 6.30 saja. Saat itu, saya harus sudah bangun untuk menyetrika pakaian kerjanya, menyiapkan sarapan dan susu atau teh untuknya. Sebab setelah itu saya masih harus melakukan sesuatu yang lumayan sangat sulit, yaitu membangunkan suami saya!

Oke…., persiapan sebelum ngantor sudah beres. Setelah merapikan penampilan suami, saya mulai belajar untuk menyiapkan tas kerjanya. Mengabsen satu-satu barang-barang miliknya yang masih berada di luar tas. Memastikan ia sudah membawa semuanya, dan tak ketinggalan apapun. Setelah itu tentu saja, menyiapkan sepatunya tepat didepan kamar agar ia bisa langsung mengenakannya.

Dan sudah, ia pun berangkat kerja setelah mencium kening saya. Yang saya pikirkan setelah itu adalah bahwa ternyata mau tak mau, saya pun ternyata mengikuti pakem yang berada dalam lingkungan saya bahwa sebagai istri pada kenyataannya saya harus melayani suami. Saya tak tau harus menangis atau tertawa dengan apa yang saya  lakukan. Bagaimana tidak, saya terlihat seperti orang yang sangat tidak konsisten dengan apa yang saya ucapkan dan lakukan. Diawal pernikahan saya mati-matian meminta pengertian suami, bahwa saya tak ingin ada pembagian kerja domestik. Saya tak ingin sebagai istri, saya lantas boleh-boleh saja mendapat porsi pekerjaan paling banyak menyangkut urusan dalam negeri rumah tangga. Yang saya inginkan adalah pembagian kerja sama yang adil.

Itu adalah saya pada minggu pertama pernikahan kami. Namun pada akhirnya saya mengerti, bahwa pernikahan sesungguhnya adalah sebuah proses pembelajaran. Entah kenapa lambat laut pikiran saya membingkai gambarannya sendiri, bahwa terlepas dari apapun yang saya lakukan sebagai bentuk pemenuhan eksistensi saya sebagai seorang individu, satu sisi yang lain dalam diri saya ternyata juga menikmati apa yang selama ini saya lakukan untuk suami saya. Sosok istri yang baru muncul dalam diri ini ternyata menyukai apa yang saya lakukan setiap pagi untuk suami saya. Saya sungguh menikmati segala kerepotan di pagi hari demi menyiapkan segala kebutuhannya.

Pun setelah pulang kantor, saya mulai mencari tau apa yang bisa saya lakukan untuknya. Jadi setiap dia pulang kantor, saya pasti sudah akan menyiapkan handuk dan segera menggiringnya ke kamar mandi. Lantas menyiapkan baju bersih dan menyeduh secangkir teh atau susu untuknya.

Sungguh, masih sangat sedikit yang saya tahu tentang ilmu melayani suami dalam kehidupan pernikahan kami. Bagaimanapun saat ini pernikahan kami masih sangat seumur jagung. Tapi satu hal yang mulai saya mengerti, ini bukan soal pakem, bukan soal budaya, bukan soal ego, tapi melayani suami adalah sesuatu yang lebih besar dari itu semua. Ini tentang melihat seseorang yang sangat kita cintai tersenyum saat bersama kita.

Mungkin ada istri yang memang telah mengerti apa yang harus dilakukannya sejak awal hari pernikahannya. Ada seseorang yang telah begitu sempurna untuk menjadi istri bagi suaminya. Tapi saya hanya seorang perempuan biasa, yang punya kehidupan sendiri sebelumnya. Diperlukan banyak penyesuaian-penyesuaian diri ketika saya sudah tinggal bersama seorang lainnya yang berjudul suami. Bukan berarti saya protes, saya hanya membutuhkan waktu dalam prosesnya. Dan yang kita perlukan sesungguhnya hanya tersenyum saat menjalani semuanya. Toh, melayani suami ternyata tak sejelek apa yang selama ini dikeluhkan para aktivis feminis yang kebablasan ^_^

Tidak ada saya atau kamu, hanya kita

Published Agustus 14, 2011 by Mrs Nugroho

Saya tadinya seorang sekretaris yang bekerja disalah satu perusahaan konsultan besar di Jakarta. Perempuan muda diusia hampir seperempat abad yang kata orang-orang memiliki paras yang ‘nice looking’, otak yang bisa diajak jalan kesana kemari untuk berdiskusi tentang berbagai hal, serta seseorang yang masih begitu antusias menghadapi dunia untuk ditaklukkan.

Saya seorang perempuan diusia yang nyaris menyentuh seperempat abad yang sudah begitu terbiasa dengan kehidupan mandiri. Bagaimana tidak, saya sudah menjalani tahun ketiga saya di bangku sekolah dasar, tanpa keberadaan orang tua disisi saya. Masa sekolah menengah pertama dan atas juga  saya habiskan di asrama. Pun saat kuliah, alih-alih memilih tempat yang dekat dengan keluarga saja, saya justru memilih kampus negeri di tanah lain yang tak pernah saya datangi.

Hal yang sama juga berlaku saat saya mulai masuk dalam dunia kerja formal. Saya melakukan semuanya sendiri. Tak meminta bantuan siapapun, karena saya termasuk orang yang kurang pandai untuk itu. Pengalaman kerja pertama saya bertempat di Padang, kota yang menjadi tempat menimba ilmu dibangku universitas. Tapi tak beberapa lama, saya sudah pindah ke medan. Alasannya, saya tak lagi bisa mengabaikan kekhawatiran mama yang begitu cemas setiap kali gempa mengguncang ranah minang. Hanya beberapa bulan di medan, saya sudah kembali bertualang ke pelosok hutan. Batang toru tepatnya. Bekerja di sektor pertambangan. Saya berharap bisa tinggal disana lebih lama. Paling tidak setahun atau dua tahun. Tapi sepertinya keinginan saya belum dikabulkan. Sebab proyek itu harus dipending karena krisis ekonomi yang menghantam dunia di akhir 2008.

Dalam keadaan jobless itulah saya pergi ke jakarta. Sungguh tak ada maksud mengadu nasib di jakarta. Ibukota tak pernah mampir dalam keinginan hati saya untuk ditempati. Saya hanya berencana liburan untuk melepaskan seluruh kesal dengan semua keadaan sebelumnya. Tapi tentunya keadaan jobless tak bisa membuat saya untuk enak-enakan ongkang-ongkang kaki di sini. Sehingga singkat kata akhirnya saya mulai mencari pekerjaan, dan akhirnya diterima diperusahaan konsultan seperti yang saya sebutkan diatas. So…., inilah saya. Perempuan yang terbiasa hidup sendiri dan melakukan segalanya sendiri.

Dan pria ini, hanyalah seseorang yang kebetulan berkantor tepat disebelah kantor saya. Tak ada satupun yang saya tahu tentangnya, selain fakta bahwa saya  rasa ia mulai memperhatikan saya beberapa saat terakhir ini. Dan sama seperti saya,  ia juga pasti punya kehidupannya sendiri.

Ketika pada suatu malam ia meminta saya untuk menjadi perempuan dalam hatinya, saya sungguh masih menjadi diri saya sendiri. Masih menjadi saya yang saya. Dan tentu saja tetap membiarkannya menjadi dia yang selama ini dan melakukan apa yang telah dilakukan sebelumnya sebelum bertemu saya.

Gegar itu mulai terjadi saat saya mengizinkannya membawa saya ke pelaminan bak pelari sprint. Kisah kami memang terjadi cepat sekali. Jika diibaratkan air, maka ia layaknya sebuah air terjun. Bagaimana tidak, kami baru berkenalan 12 agustus 2009. Memutuskan keluar untuk dating pertama kami tanggal 15 agustus 2009. Selanjutnya kencan berturut-turut pada tanggal 17 & 18. Dan meminta saya jadi kekasihnya pada dini hari tanggal 19 agustus 2009. Hari-hari setelah itu, masih terasa manis. Tapi kami bertengkar hebat, sangat hebat pada tanggal 23 september 2009. Pertengkaran yang memakan waktu sampai berhari-hari. Hingga akhirnya memutuskan untuk menikah diminggu kedua oktober 2009. Dan begitulah, secara resmi, ia akhirnya menikahi saya.

Meski saya memang menginginkannya, tapi mau tak mau saya masih terbengong-bengong dengan semua yang sudah terjadi. Memikirkan betapa semuanya terasa cepat sekali membuat saya berpikir bahwa memang tak pernah ada orang yang siap untuk menjadi suami dan istri.

Sama seperti pasangan suami istri baru lainnya, kami tak serta merta sempurna melafalkan status baru kami dalam kehidupan kami berdua. Menyadari betapa kompleksnya hidup setelah berdua, beradaptasi dengan perubahan-perubahan disekitar, hingga melihat hal-hal yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saya rasa, minggu-minggu pertama itu kami masih melihat segalanya dalam kacamata saya  dan dia. Kami masih memakai kacamata kami masing-masing dalam melihat segala hal disekitar kami yang mendadak berubah. Dan akibatnya tentu saja tak sepenuhnya lancar. Saya melihat hidup masih seperti hidup saya sebelumnya, begitu juga dia. Kami masih memegang uang kami masing-masing. Masih belum membicarakan seperti apa seharusnya kami harus masuk dalam pintu pernikahan ini. Singkat kata, kami belum menyatukan visi kami. Kalau mungkin bukan karena kami berdua yang bekerja sangat keras untuk menghindarkan gesekan demi gesekan ego diantara kami berdua, saya rasa setiap hari pertengkaran akan selalu menjadi suara latar kami dalam mengawali hari.

Hingga suatu ketika, masalah yang sangat klise terjadi juga diantara kami. Masalah uang! Yah…., berapa banyak suami istri yang bertengkar gara-gara makhluk yang satu ini. Tak terhitung juga banyaknya istri yang memilih meninggalkan suaminya gara-gara keinginannya yang tak terpenuhi lantaran tak memiliki uang yang cukup.

Sungguh tadinya tak ada masalah dengan uang diantara kami. Toh, masing-masing kami masih bekerja, dan itu artinya kami memiliki uang kami masing-masing. Tapi sesuatu terjadi, dan akhirnya hanya ia yang bekerja. Saya jobless! Yah, saya jobless karena sebuah alasan emosional yang sangat tak masuk akal. Keadaan seperti ini membuat saya berubah menjadi sangat sensitif. Bayangkan saja, kau terbiasa mandiri dengan memegang uangmu sendiri dan tiba-tiba harus selalu menadah pada suami barumu karena tiba-tiba kehilangan pekerjaan?

Dan mulailah kami mengawali pertengkaran-pertengkaran yang sebenarnya tak perlu. Hanya saja saya dan dia memang belum mengganti kacamata kami. Kami masih memandang semuanya dari sudut kami masing-masing. Hingga akhirnya, pada puncaknya saya mengancam untuk pulang kerumah orang tua saya. Yah…., saya akhirnya bertingkah seperti anak-anak ABG yang tak terbiasa berpikir secara dewasa. Namun jauh didalam lubuk hati, saya tau dengan sangat baik, bahwa saya hanya berani mengancam.  Sejujurnya saya tak pernah benar-benar ingin meninggalkannya dan pulang kerumah orang tua saya. Hanya saja,  saya sudah tak tau harus melakukan apa.

Hingga akhirnya saya sadar satu hal. Pernikahan ini bukan hanya tanggung jawab saya atau dia saja. Pernikahan ini  adalah tanggung jawab kami berdua. Jika ingin mempertahankannya, dalam arti benar-benar menjaganya dengan baik, alih-alih menjadikannya bak ‘api dalam sekam’, kami harus mengubah sikap kami. Harusnya kami tak lagi memakai saya atau kamu, ketika membicarakan hidup kami. Tetapi menggunakan subjek kami! Tentu saja selalu akan ada porsi ‘me time’ pada saatnya nanti. Tapi saat ini kami benar-benar harus menyamakan persepsi kami mengenai subjek yang akan kami pakai dalam memaknai hari-hari pernikahan kami.

Saya katakan padanya, bahwa saya tak ingin menghabiskan sisa hidup saya untuk bertengkar. Maka sebagaimana saya tak ingin membuat keruh rumah tangga ini, saya pun memintanya untuk belajar hal yang sama. Belajar untuk memakai kata ‘kami’ ketika menyangkut urusan kami berdua, dan bukan saya atau kamu. Meski  saya sadar sekali, terkadang saya lah yang sering kali memandang segalanya dari kacamata saya sendiri. Sebab itu saya harus terus memaksa diri saya untuk selalu membahasakan ‘kami’ dalam setiap hal yang menyangkut kami berdua.

Dan kau tau, hal yang remeh ini, jika tidak dikendalikan dengan benar sejak awal pernikahanmu, sungguh akan membuatmu jatuh dalam kelelahan yang amat sangat dalam perjalanan selanjutnya. Sebab alangkah lelahnya berada dalam satu kapal yang memiliki dua kapten kapal dengan arah pandangan yang saling berseberangan.

Sungguh, saya harus bersyukur memiliki seorang pasangan yang tak jenuh untuk terus diajak berbenah diri. Termasuk juga berbesar hati ketika istrinya ini terkadang masih memakai kacamata ‘saya’ nya yang subjektif saat memandang beberapa hal dalam hidup kami.

Tapi benar bukan, untuk apa kita menikah jika masih melihat segala hal secara parsial, sementara kita telah menyebabkan seseorang berada disisi kita selama sisa hidupnya?

Saya istri, dan dia suami

Published Agustus 14, 2011 by Mrs Nugroho

Well, apa yang kau harapkan setelah menikah? Kehidupan yang happily ever after? Tak pernah ada aral dan kesulitan, hanya kesenangan dimana-mana. Entah kenapa, beberapa orang dalam industri film sepertinya sering mengidentikkan ide bahwa bahagia selama-lamanya setelah pernikahan adalah sesuatu yang harus. Oke, saya bukan berniat membantahnya, saya hanya ingin menambahkan, bahwa untuk mendapatkan kehidupan yang happily ever after itu diperlukan sebuah kerja sama kedua belah pihak. Pernikahan bukanlah akhir dari perjalanan kebahagiaan. Sebaliknya, ia adalah awal perjalanan, dimana hanya kitalah yang dapat memilih kehidupan seperti apa yang kita inginkan.

Jika kau menginginkan kehidupan yang indah, penuh tawa, kebahagiaan, diperlukan kerja sama dan perjuangan yang tidak mudah. Kenapa tidak mudah, karena suami dan istri adalah dua orang asing berbeda yang ditakdirkan oleh kehidupan untuk menjalani hidup bersama-sama. Suami dan istri bukanlah kembar siam yang dapat saling membaca pikiran satu sama lain, bukan juga kakak atau adik yang dapat mengerti keinginan saudaranya yang lain bahkan sebelum saudaranya mengucapkan keinginannya.

Hal lainnya, istri adalah perempuan, sementara suami adalah laki-laki. Sudah menjadi rahasia umum bahwa terdapat hal-hal signifikan yang sangat berbeda diantara makhluk mars dan venus ini. Perbedaan dari cara berkomunikasi, kadang bisa berakibat dua hal. Kemungkinan terbaik adalah, kedua belah pihak mengerti apa yang diinginkan oleh masing-masing. Sementara jika tidak, maka yang satu akan berakhir dengan menangis tersedu-sedu.

Budaya patriarki dalam kehidupan masyarakat timur juga seolah begitu berurat akar. Bahwa perempuan sebagai istri wajib melayani suami dalam keadaan apapun dan kapanpun. Sementara suami sebagai kepala rumah tangga mendapat hak penuh untuk dilayani bak seorang raja.

Namun pelajaran yang terpenting sesungguhnya bukan terletak pada suami yang ini atau istri yang itu. Pelajaran pertama setelah mengucapkan akad nikah dan terbangun keesokan harinya sebagai pasangan suami istri adalah bahwa masing-masing kita berdua ibaratnya malaikat bersayap satu yang tak mampu terbang sendiri-sendiri, melainkan akan terbang sempurna jika keduanya saling berpelukan.

Memang butuh waktu beberapa saat untuk memahaminya dengan baik. 24 tahun kehidupan saya sebagai lajang tentunya butuh penyesuaian diri untuk menjadikan diri saya sebagai seseorang yang berpikir sebagai layaknya seorang istri. Saya tak begitu pasti akan apa yang saya pikirkan mengenai sosok seorang istri yang sempurna saat itu. tapi yang saya ingat dengan pasti, saya tak ingin menjadi seorang istri yang hanya ‘nrimo’ dengan segala macam hal yang seolah sudah menjadi pakem mutlak dalam masyarakat. Dan jika kau tanya apa itu, jangan harap saya tau jawabannya. Karena saya pun tak tau apa yang dibentuk sebagai pakem oleh masyarakat terhadap profil seorang istri. Yang saya tau, saya hanya ingin menjadi istri yang luar biasa bagi suami saya. Bukan istri biasa-biasa yang sekedar mengurus seluruh kebutuhan dan keperluan suami. Lebih dari itu, saya ingin menjadi sosok yang memang mengurusnya secara domestik, tapi juga mampu menjadi partnernya ketika harus bertarung didunia persaingan yang keras ini.

Sungguh, saya belum sempurna dalam menterjemahkan sosok seorang istri dalam keseluruhan tindak tanduk kehidupan saya. Saya masih mengeja satu persatu ritmenya. Sama seperti suami saya yang juga masih belajar menjadi suami untuk saya, istrinya.

Dan ketika saya katakan bahwa sosok suami istri adalah para malaikat bersayap satu yang hanya dapat terbang sempurna ketika keduanya berpelukan, saya ingin mengatakan bahwa dalam kehidupan pernikahan, bukan hanya satu pihak saja yang harus dituntut untuk mencintai atau memperhatikan lebih banyak dari yang lainnya. Tapi tugas keduanya untuk saling melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk menghadirkan dunia pernikahan yang sempurna dalam kehidupan mereka.

Ini bukan soal istri yang begitu mencintai suaminya, atau suami yang begitu memperhatikan istrinya. Tapi ini soal dua orang manusia yang belajar mencintai secara purna. Sebab ketika keduanya melihat segala sesuatu dalam porsi yang seimbang, tak akan ada yang cemburu dengan porsi yang lainnya.

Terasa begitu mengawang-awang dan tak menjejak bumi? Tak apa, karena saya pun masih terlalu bingung untuk mencerna semuanya saat ini. Tapi menjadi suami dan istri adalah salah satu keindahan dunia. Sehingga yang perlu dilakukan hanyalah menjalaninya sambil terus memeluk pasangan kita erat-erat.

 

 

 

 

How did I met Him

Published Agustus 14, 2011 by Mrs Nugroho

“Dalam perkawinan, anda bukanlah si suami atau si istri; anda adalah cinta diantara anda berdua ” – Nisargadatta

 


 

Para pasangan pengantin baru sering kali ketiban banyak pertanyaan dari orang-orang di sekitarnya. Banyak yang mendoakan agar selalu langgeng sampai kakek nenek, ada yang menanyakan tujuan bulan madu, hingga pertanyaan-pertanyaan tak penting lainnya. Begitu juga yang terjadi pada saya, salah seorang pengantin yang baru saja menikah. Tapi diantara semua pertanyaan itu, yang paling saya sukai adalah jika ada yang bertanya bagaimana cara saya bertemu dengan suami saya.

Well, saya telah menemukan banyak orang yang salah sebelum saya melabuhkan hati saya padanya. Saya telah membiarkan diri saya disakiti begitu rupa hanya untuk mendapatkan cinta yang benar-benar pas untuk saya. Penolakan, hempasan dan ratapan telah berkali-kali saya rasakan. Tapi saya tak lantas trauma dengan segalanya. Toh, ini hanya soal waktu. Sang pencipta saya pasti punya skenario lain dibalik semua kegagalan ini.

Jujur harus saya akui bahwa saya tak terlalu bersemangat lagi untuk mencari cinta baru sejak terakhir kali saya ditinggal begitu saja oleh seseorang yang tadinya mengumbar cinta untuk saya. Bukan, ini bukan soal trauma. Karena sejujurnya saya sudah sangat kenyang dengan hal seperti itu. ini soal betapa saya menyadari, meskipun terdengar sangat miris ditelinga, bahwa mungkin saya belum pantas untuk siapapun. Maksud saya, yah kalian tau hidup disaat seperti ini tak semudah hidup dizaman dahulu kan? Coz, everybody needs cost.

Tapi tentu saja bukan alam namanya jika ia bisa diprediksi. Setidaknya begitulah saya bertemu dengan dia. Jika mau jujur bahkan saya tak pernah menyadari keberadaan dirinya yang waktu itu masih bekerja di sebelah kantor saya. Yah, kita memang bekerja di gedung dan lantai yang sama. Tapi saya nyaris tak pernah melihatnya.

Jadi, bagaimana bisa dia melihat saya. Saya rasa, ia harus berterimakasih pada kebiasaan tak lazim saya yang selalu mondar mandir ke toilet setiap beberapa menit sekali. Orang-orang dikantor jelas sangat terganggung dengan kebiasaan saya yang selalu lewat didepan mereka dan kemudian meneriakkan, pup or pee. Tapi kurasa ada seseorang yang diuntungkan dengan kondisi ini.

Kebiasaan saya ini sudah berjalan selama beberapa bulan sampai ketika saya mulai menyadari bahwa selalu ada sepasang mata yang mengawasi saya. Saya memang tak tau pasti, karena saya tak pernah benar-benar mendapatinya langsung. Tapi insting perempuan selalu berkata, hey berhenti sebentar, ada seseorang yang tengah mengawasimu. Tidakkah kau mau melihatnya? Saat itu saya hanya mencoba mengacuhkannya. Pasti hanya orang iseng yang tak punya kerjaan.

Tapi semakin lama, saya semakin sering mendapatinya mengawasi saya setiap kali menuju toilet. Entahlah, kadang ia berada di meja resepsionis depan. Kadang ia seolah ingin berjalan kesisi lain kantornya dan berhenti di tengah-tengah ruangan dimana ia bisa memandang saya yang baru saja keluar dari toilet. Kadang ia tengah menerima telepon diluar lobi saat saya baru menuju toilet. Sepertinya setiap saya ingin ke kamar kecil, ia selalu beredar disekeliling saya. Yah….meski ia juga tak pernah mengatakan apa pun. Seperti saat kami berdua berpapasan secara tak sengaja di depan lift. Ia tak juga berani berkata apapun. Hanya memandang saya sebentar kemudian melayangkan pandangannya ke arah lain. Saya? Jelas saja saya tak akan mengatakan apapun. It’s not really my business.

Namun lama kelamaan tak urung saya merasa penasaran dengan tingkahnya yang terus saja mengawasi saya dari hari kehari. Hingga akhirnya saya menyambangi OB di kantor dan bertanya padanya. Asumsi saya,  sebagai orang yang terlebih dahulu disini dia pasti mengenal orang-orang di gedung ini. Pertanyaan saya hanya satu, saya ingin tau dia sudah menikah atau belum. Itu saja, agar saya tau bagaimana harus menyikapi tingkahnya.

Tapi sungguh, saya hanya ingin tau satu hal itu saja. OB tersebut datang pada saya dan bilang bahwa dia belum menikah. Well, bukan berarti harus dipacari kan? Begitu pikir saya waktu itu. Namun ternyata OB yang satu ini begitu maju dalam bertindak. Jadi, ceritanya begini; suatu pagi saat pria ini sedang cuci muka di toilet, OB kantor saya kebetulan tengah memandikan pot bunga kecil yang biasa di taruh di ruangan bos saya. Tanpa dinyana, sang OB ini tiba-tiba mengatakan bahwa seseorang dari kantor sebelah – yang mana tak lain adalah saya – sedang mencarinya. Sebagai pria yang merasa tengah ditaksir oleh seseorang, tentu saja saat itu ia merasa berada diatas angin. Ia berpura-pura tak antusias dan mengatakan bahwa OB saya ini tengah bercanda.

Tapi ceritanya tak berhenti sampai disana. Ketika dia memasuki kantor, ia bertanya pada sang OB, apakah ia tau seseorang dikantor sebelah yang kata-katanya tengah mencarinya. Tapi saat itu tak ada satupun yang menyangka itu adalah saya. Sahabat pria ini bahkan berpikir saya terlalu bagus untuknya dan tak mungkin mencarinya. Melalui OB kantor saya, akhirnya mereka tau, bahwa yang kata-katanya mencari teman mereka adalah saya, gadis berjilbab yang mirip orang arab dan selalu mengenakan celak dimatanya.

Hingga sehari setelah ulang tahun saya ke 24 waktu itu, saya menerima sms yang isinya ajakan perkenalan. Tadinya saya tak menyangka itu adalah dia. Tapi begitu menjawab satu dua sms saya langsung tau kalau itu adalah dia. Well, I don’t like this way. When someone just given your number before your approval. Saya seharusnya marah. Biasanya saya selalu marah. Tapi entah kenapa, hari itu tidak. Mungkin saya sedang bahagia karena baru saja bertambah umur. Entahlah.

Perkenalan kami berlanjut. Saling balas sms satu dengan yang lain, hingga pada suatu ketika ia bertanya apakah ia boleh menelpon saya. Saya iyakan saja, toh tidak ada ruginya. Tapi saya sepenuhnya tak benar waktu itu. Saya tipe orang yang mudah simpati hanya dengan mendengar suara seseorang. Dan suaranya adalah tipe yang bisa membuat saya seperti itu. Dari telepon yang satu berlanjut pada telepon yang lain. Dari sms yang ini berlanjut pada sms yang itu. Akhirnya janji jalan bareng pun dibuat juga.

Tapi saya tak pernah ingin berinisiatif untuk sms atau meneleponnya terlebih dahulu. Jika ia ingin serius dengan saya, maka dialah yang harus berusaha. Saya sedang berusaha untuk tidak lebih agresif, seperti sebelum-sebelumnya. Mungkin saja, karena memang saya tak mengharapkan sesuatu yang berlebih dari perkenalan ini. Saya hanya ingin berteman, that’s it!

Tapi ia ternyata mengajak saya keluar. Beban kerja yang sangat berat waktu itu rasanya juga seperti sangat mendukung. Saya sudah terlalu lama terkungkung dikantor tanpa sempat untuk merefresh pikiran sedikitpun. Bagaimana tidak, bahkan akhir pekan pun saya masih harus bergadang dikantor. Jadilah, saya mengiyakan tawarannya untuk keluar bareng, hari sabtu itu, 15 Agustus 2009.

First date on Gelora Bung Karno, watching chees Festival. Ow, now you guys must begin start laughing on me. Kegeeran mengatakan first date, ha? Tak taulah, tapi sepertinya ia memang tak punya niat untuk sekedar berteman dengan saya. Saya seolah membaui niat lain di belakangnya. Hahaha, sok detektif. Yah, hanya mengikuti feeling saya, guys. Hari itu ia menunjukkan pada saya grogi yang lain dari grogi-grogi lainnya yang pernah saya lihat. Ia berkali-kali melihat jam tangannya. Saya hanya bertanya apakah mungkin ia punya appoinment lainnya? Tapi tidak, ia hanya menggeleng, dan kemudian bilang, “jamnya mahal, hehehe”. Well, interesting. Saya tak tau apakah dia benar-benar grogi saat itu atau memang mau narsis. But, he got my fully attention already.

Berkenalan, saling telepon dan sms, jalan bareng, diskusi seru soal apa saja, ternyata membuat saya menemukan sesuatu yang saya cari selama ini. Saya nyaman didekatnya. Saya bisa menjadi diri saya sendiri pada saat bersamanya. Ia membuat saya bertumbuh lebih baik saat menyadari ada bagian dari diri saya yang ingin selalu ada disampingnya.

Kami menjalani masa pacaran yang bisa dibilang terlalu singkat. Kami tak membutuhkan masa pacaran bertahun-tahun hanya untuk menjajaki satu sama lain. Toh, pada kenyataannya terlalu banyak orang yang menyembunyikan keadaan diri mereka yang sebenarnya saat pacaran, dan terhenyak heran saat memasuki masa pernikahan. Hanya saja sejak awal memutuskan untuk pacaran kami memang sudah sepakat untuk saling jujur mengenai diri kami masing-masing. Hal itulah yang membuat saya percaya padanya.

Dan begitulah, saya tak mengira bahwa orang yang akan menjadi imam saya adalah tetangga kantor saya sendiri. Sama sekali tak menyangka sebab saya tak pernah meliriknya. Dia biasa saja. Itu sebabnya saya tak pernah memperhatikannya. Hehehe, maaf ya sayang……J

Sampai sekarang, jika orang-orang bertanya bagaimana saya bertemu suami, senyum saya selalu mengembang sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Yah, sebab hobi pipis dan pup sayalah yang ternyata mempertemukan saya dan suami. Meski dia juga mengatakan pada saya bahwa ia pertama kali melihat saya saat berada di dalam lift – yang tentu saja saya tak menyadarinya –, pada kenyataannya di daerah kamar kecil lah ia menemukan saya.

From toilet with love, isn’t it lovely?

 

Being a Husband and Wife

Published Agustus 13, 2011 by Mrs Nugroho

“Apapun yang anda lakukan, capai, atau beli tak akan mampu meredupkan kedamaian, kegembiraan, dan kebahagiaan karena anda merasa satu dan saling memahami dengan pasangan yang anda cintai”

Drs.Evelyn & Paul Moschetta

Seorang istri! Akhirnya saya menyandang predikat tersebut. Seolah tak pernah terpikirkan bahwa saya akan lekat dengan panggilan tersebut. Istriku. Yah…., selama ini pernikahan tak pernah dekat dengan pikiran saya. Setiap kali orang-orang terdekat menanyakan dimana kekasih saya, kapan akan menikah, dan pertanyaan-pertanyaan sejenisnya, saya hanya menggeleng. Ketika mereka memaksa sebuah jawaban, saya dengan ringannya hanya akan menjawab: “well, saya masih jalan sendiri, dan mungkin baru akan menikah nanti, di usia 27 atau 28, saat saya sudah menyelesaikan S2 dan memiliki bisnis saya sendiri”.

Tentu saja, banyak yang menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban saya barusan. Bagi mereka saya terlalu mengawang-awang dan tak realistis. Sebagian lagi bahkan berpikir saya terlalu repot hanya untuk menjadi seorang perempuan yang kelak akan menjadi istri. Lantas mati-matian menyangkal bahwa semua hal yang  saya bicarakan tak akan ada artinya. Bahwa sebagai perempuan, saya harus selalu mengikuti suami saya. Sebagai perempuan saya harus ada di dapur. Jadi…., tentu saja tak diperlukan hal-hal yang saya katakan seperti diatas.

Waktu itu saya hanya tertawa. saya tak ingin berkata apapun. Saat itu saya menginginkan seperti itu, tentu saja itu yang saya katakan, bukan? saya masih sendiri, dan tengah merencanakan untuk kuliah S2. Maka apa lagi yang akan saya jawab sementara dua hal itu yang saat itu begitu jelas dimata saya. Sebab, bagaimana saya akan berkata bahwa saya akan menikah secepatnya, sementara yang mau menikahi pun belum tampak diujung hidung.

Tapi tentu saja, Allah maha hebat dalam mengatur segala sesuatunya. Yah, manusia hanya bisa merencanakan, tapi diatas semuanya Dialah yang menentukan. Saya bertemu dengan seseorang hanya sehari setelah ulang tahun saya yang ke 24. Seseorang yang tak pernah saya pikirkan akan menjadi suami saya. Seseorang yang biasa saja, tiba-tiba datang dan menawarkan sesuatu yang saya tak tau dengan jelas. Belum jelas bagi saya apakah ia hanya ingin berteman atau menginginkan sesuatu yang lebih dari saya. Bagi saya, segala pembicaraan tentang hal-hal yang serius itu masih jauh. Belum saatnya.

Tapi ada kalanya, kepala dan hati tak pernah kompak dalam menginginkan sesuatu. Kepala saya jelas-jelas tidak menginginkan sesuatu yang serius terjadi sebelum saya meraih apa yang saya inginkan untuk masa depan saya. Sementara hati saya, mulai merancang-rancang sebuah kompromi untuk dinegoisasikan dengan kepala mengenai apa yang saat ini diinginkannya. Dan itulah yang terjadi, entah kenapa kepala saya mengizinkan hati saya begitu saja untuk membuat sebuah keputusan saat itu.

Bukannya mengusirnya untuk tak terlalu dekat-dekat dalam hidup saya, saya malah menanyakan maksudnya mendekati saya. Waktu itu pertanyaan saya begitu terangnya; “apa yang kau inginkan? Jika hanya ingin main sana-sini, jelas itu bukan tipeku. Dan aku tak akan menunggu waktu lama untuk menyudahinya. Tapi jika kau punya maksud lain, maka kau lebih baik mengatakannya padaku.”

Benar, saya memang menantangnya. Bagi saya, daripada melakukan pedekate berbulan-bulan lamanya, kau lebih baik mengatakan padaku apa maumu. Tapi tentu saja saya tidak akan mengatakan hal itu pada setiap pria yang mendekati saya. Saya hanya mengatakan hal tersebut jika saya merasa nyaman didekat seseorang. Tapi jika tidak, sikap saya juga sama. Saya tak perlu menunggu waktu yang lama untuk mengatakan bahwa saya tak ingin lagi jalan dengan mereka. That’s all.

Singkat kata, pria inilah yang berhasil membuat saya jatuh cinta dengan buta. Yah saya rasa saya memang mengalami jatuh cinta dengan kebutaan yang sangat. Ia membuat saya menyimpan ego saya rapat-rapat dalam kotak pandora hati saya. Ia membuat saya berkompromi lagi dengan mimpi-mimpi saya dan terus-terusan menyakinkan kepala saya bahwa saya masih dapat melakukannya nanti, bersamanya. Ia membuat saya belajar untuk mencintai seseorang benar-benar dalam satu paket, tanpa memilah-milah mana yang ingin saya ambil dan mana yang ingin saya buang. Dan ia membuat saya untuk belajar menerima sebuah keadaan dengan realistis.

Dan disinilah ia. Menjadi orang yang saya temui pertama kali saat membuka mata dipagi hari sekaligus orang terakhir yang saya temui sebelum menutup mata di malam hari. Sebuah perjalanan yang sangat singkat, dan ia sudah berhasil membawa saya kehadapan penghulu. Berjanji atas nama Allah untuk menjadi pasangan suami istri yang baik satu sama lain.

Dan segala hal yang saya katakan sebelum saya menikah kini bukanlah apa-apa lagi. Sebab pada kenyataannya saya menikah justru sebelum semuanya terjadi. Tapi apa saya menyesal? Tidak. Saya tak pernah menyesal dengan pernikahan saya. Lebih dari itu saya sangat mensyukurinya. Meski ada kalanya saya merasa tersengat dengan beberapa ucapan orang yang mengingatkan tentang semua mimpi saya. Hanya saja saat ini rasanya semuanya sangat berbeda. Keberadaan seorang suami disamping saya benar-benar telah mengubah sebagian hidup saya, tapi ini bukan perubahan yang saya tangisi, tapi sebaliknya membuat saya tersenyum dengannya.

Kuliah strata 2 tak lagi menjadi mimpi saya, karena pada akhirnya saya menemukan passion saya yang sebenarnya. Yang sangat ingin saya lakukan dari dulu. Dan anehnya, kadang hanya suamimu yang benar-benar bisa menjadi pendukung terhebatmu saat semua orang mengatakan tak mungkin pada semua keinginanmu. Yah…., suami saya tak pernah melarang saya untuk ini dan itu. sejauh semuanya dilakukan dengan integritas. Ia tak protes saat saya memilih untuk berurusan dengan hal-hal rumahan yang mungkin saja tak pernah dilirik oleh perempuan yang tadinya menjadi pekerja kantoran. Ia tak pernah protes saat saya berkali-kali bingung dan pusing akibat banyaknya keinginan yang ingin saya lakukan. Alih-alih memarahi, ia hanya mengatakan bahwa hanya saya yang lebih tau apa yang ingin saya lakukan dengan pasti. Dan apapun yang saya lakukan itu, sejauh itu membuat saya bahagia dan merasa baik, ia akan selalu mendukung saya.

Dulu…., saya pikir akan sulit menjalani kehidupan sebagai suami dan istri. Itu karena saya melihat kedua orang tua saya sepertinya sangat kerepotan dengan status yang mereka sandang. Pertikaian demi pertikaian dari hari ke hari, seolah tak pernah menemui muaranya. Kadang pertikaian itu membuat salah seorang diantara mereka melayangkan tangannya ke pihak yang satunya. Jika sudah begitu, akan ada banyak barang pecah belah yang hancur berantakan dan seseorang lagi yang menangis di pojok kamar. Demi tuhan, saya sudah lelah melihat semua hal itu sejak kecil. Dan jika saya punya kesempatan untuk menjalani kehidupan berumah tangga kelak, maka saya tak pernah ingin mengalaminya.

Memang terlalu dini melihat semuanya akan baik-baik saja. Karena pada kenyataannya saya masih sering menangis sejak menikah. Tapi saya juga belajar, bahwa kehidupan pernikahan bukanlah segala sesuatu yang hanya menawarkan tawa dan kebahagiaan semata. Seharmonis apapun kita dan pasangan, tetap diperlukan ramuan tangis dan pertengkaran kecil didalamnya. Sebab hal-hal itulah yang akan membuat kita belajar melihat kehidupan yang sebenarnya. Hanya saja, segalanya harus dilakukan dengan sehat, tanpa berpotensi menyakiti satu dan yang lainnya.

Ada kalanya kau merasa tak bisa menerima sebuah kesalahan. Tapi memang seperti itulah adanya, jika kita memiliki seorang suami yang manusia. Tak selalu indah, tak selalu baik, tak selalu sempurna. Tapi dengan semua kekurangan dan kelebihan yang ada padanya, percaya pada saya, kau akan temukan banyak pelajaran kehidupan dalam sebuah dunia kecil yang telah kalian ikrarkan berdua dihadapan pencipta kalian.

Bagi saya, memilih untuk hidup bersama orang lain sepanjang sisa kehidupan kita adalah sebuah keputusan maha besar. Ia bukan hanya sekedar karena kita mencintainya. Tapi ada konsekuensi besar yang harus kita jalani dibaliknya. Cinta saja sudah pasti tidak akan cukup untuk mengarungi bahtera itu berdua. Pada perjalanannya diperlukan pengertian-pengertian untuk selalu saling terhadap satu sama lain. Saling menghormati, saling mencintai, saling menghargai dan banyak lagi saling-saling lainnya.

Tentu saja tak hanya tawa didalamnya. Ada juga banyak tangis dan kemarahan. Tapi jika kau sudah meletakkan cinta sebagai dasarnya, semua tak akan pernah terasa berat dan tak akan pernah terlihat sebagai masalah yang benar-benar berarti.

Have a nice day, couples!

Malam ini, biarkan aku memelukmu…..

Published Agustus 13, 2011 by Mrs Nugroho

Sudah tiga hari ini suami saya harus berbaring terus karena sakit. Panas yang naik turun, batuk serta flu yang mengganggu sukses besar membuat weekend kali ini sendu, meski cuaca jakarta sangat cerah. Tapi mau gimana lagi, mungkin kali ini saatnya bagi badannya untuk istirahat.

Well, kalau tidak sedang sakit, kami pasti akan melewatkan waktu berdua kami dengan melakukan banyak hal, bercerita tentang apa saja, nonton, mengomentari apapun yang terpikir, dan bercanda gak keruan kalau sudah mati gaya. Tapi tiga hari ini rasanya berbeda banget. Suami saya itu seperti kehilangan energinya. Lemas, dan nyaris absen tertawa.

Maka malam ini, setelah makan malam selesai, saya mengultimatumnya untuk segera tidur kalau memang besok mau masuk kantor. Tapi saya masih kangen (padahal 3 hari barengan mulu). Alih-alih mengerjakan sesuatu yang harus saya lakukan sebelumnya, saya lebih memilih untuk memeluk suami saya. Mengelus rambutnya, Memeluk tubuh montoknya, dan memintanya untuk memperagakan tangan gempalnya yang seolah-olah sedang mengulek-ulek maju mundur dilengan saya (maap kalo kepanjangan dan jadi gak ngerti yak). Paling tidak, saya bisa melihat senyum dan tawanya lagi.

Saya juga memutar lagu brown eyesnya destiny’s child yang merupakan love theme song kami. Dan terus diulang-ulang sampai akhirnya si montok tercinta itu tertidur. Ah, saya begitu sangat mencintainya. Dulu saya tak pernah berpikir bisa mencintai orang sehebat ini. Dulu saya pikir, untuk mencinta perlu banyak syarat. Tapi ternyata, saya salah. Saya hanya butuh bertemu dengan orang yang tepat untuk memberikan cinta saya padanya.

Malam ini, biarkan aku memelukmu sampai pagi ya sayang…….

Ketika kemarahan terasa sangat menyakitkan

Published Agustus 13, 2011 by Mrs Nugroho

Rasanya semua dari kita akan memaklumi bahwa rumah tangga tak selalu berisi senyum dan kebahagiaan. Ada juga kemarahan dan kesal didalamnya. Termasuk rumah tangga saya. Meski saya tak ingin lagi marah dengan suami saya, terkadang rasa itu sangat menyesaki dada. Sehingga akhirnya dia keluar begitu saja.

Well, ceritanya saya dan suami sudah janjian untuk makan malam diluar sepulang kantor. Sebelumnya suami bahkan sudah menelpon untuk memastikan bahwa saya tidak lupa dan jadi bertemu dengannya. Waktu itu saya katakan bahwa saya baru akan jalan kesana. Tak lupa menyisipkan pesan bahwa saya tak ingin menunggu terlalu lama seperti biasa. Saya ingin begitu saya sampai, dia juga langsung turun. And we have a deal!

Tapi begitu sampai disana, suami yang sudah sangat ingin saya temui itu tak kunjung turun. Saya mencoba menelpon ke kantornya, namun tak ada yang mengangkat. Saat akhirnya saya menelpon lewat ponselnya, ia mengatakan bahwa ia sedang makan bersama manajer dan supervisornya. Mendengarnya, saya sontak marah dan mulai meracau tak jelas. Saya marah, saya marah padanya karena ia seolah melupakan janji kami berdua. Saya marah, karena ia lagi-lagi membuat saya lama menunggunya. Diseberang telepon ia berjanji untuk segera kembali kekantor dan menemui saya secepatnya. Tapi lagi-lagi cepat menurutnya tak sama dengan cepat menurut saya.

Hingga akhirnya ia dan teman-temannya muncul juga dari kejauhan. Waktu itu hanya selang dua hari setelah ulang tahun saya. Ketika ia dan teman-temannya sampai dihadapan saya, beberapa diantaranya segera memberikan selamat pada saya. Sang supervisor bertanya tentang hadiah apa yang diberikan suami saya, tapi dengan tega dan ketus saya menjawab ia bahkan tak punya uang untuk membelikan saya sesuatu. Tentu saja, ucapan saya itu membuat menajernya tertawa dan bilang saya tidak boleh begitu padanya.

Begitu mereka semua kembali masuk ke kantor, saya masih diluar bersama suami saya. Saya hanya diam saat suami mencoba membujuk saya agar tidak marah lagi. Tapi emosi saya masih di ubun-ubun. Saya juga tidak tahu kenapa saya bisa begitu uring-uringan hanya karena soal seperti itu. Tapi akal sehat saya saat itu tak juga kunjung datang. Alih-alih memaafkan suami, saya justru terus marah dan menyindirnya habis-habisan. Padahal saya tak pernah tega jika harus melihat wajahnya bersedih. Ketika saya tak bisa menahan diri saya lagi, saya tiba-tiba meninju perut bagian sampingnya. Ia sontak mengaduh, wajahnya pias.

“Kalo kamu mau, bunuh aja sekalian suami kamu,” begitu katanya. Saya langsung merasa bersalah. Tapi rasa-rasanya untuk berbaikan begitu saja, saya masih belum rela. Lihatlah, saya ternyata belum bisa jadi istri yang ikhlasL

Entah berapa lama kami saling diam dan menyindir satu sama lain. Hingga akhirnya saya benar-benar harus memaksa kepala saya untuk segera dingin dan mengikuti suami saya kedalam kantornya. Dan setelahnya, semua mengalir begitu saja.

Ketika pada akhirnya kami sampai dirumah, saya memukul perut bagian samping saya. Ternyata rasanya memang menyakitkan. Apalagi ketika dilakukan setelah selesai makan. Pantas saja suami saya mengatakan hal seperti itu saat saya memukulnya. Pun juga dengan ucapan ketus saya soal hadiah ulang tahun yang ditanyakan rekannya, saya merasa sangat menyesal. Bagaimanapun adanya, seharusnya saya tak boleh merendahkan suami saya, apalagi didepan teman-temannya. Saya benar-benar merasa sangat bodoh dan bersalah. Kemarahan saya nyatanya tak membawa hal positif apapun selain rasa menyakitkan di hati kami masing-masing. Suami saya mungkin merasakan sakit lahir dan batin saat itu. Dan pada kenyataannya saya memang tak sanggup melihat kesakitannya saat itu.

Saya tau saya masih harus terus belajar untuk menjadi istri yang baik dan lebih ikhlas. Saya masih harus banyak belajar untuk menekan emosi saya yang kadang kerap naik tanpa bisa saya tahan. Tapi saya ingin suami saya tau, bahwa saya sangat menyesal sekali setiap selesai bertengkar dengannya. Sampai saat ini saya masih terus belajar untuk tidak lagi marah-marah dengan cara yang menyakitkan. Memang susah, tapi bagaimanapun saya harus. Kecuali saya tega melihat suami saya bersedih dengan tingkah saya.

Tapi keinginan saya, adalah selalu melihatnya tersenyum. Hanya melihatnya tersenyum. Selama sisa hidup kami kelak……..

Mrs Nugroho dan Resolusi 2011nya

Published Agustus 11, 2011 by Mrs Nugroho

Hi All,

Sudah 2011 saja ya. Well, sebenernya ini postingan yang sedikit sangat terlambat untuk bicara soal resolusi. Tapi tak apalah, toh mendingan terlambat daripada tidak sama sekali, bukan?

Seperti yang kita ketahui juga, setiap tahun orang-orang pasti terbiasa bikin resolusi baru untuk dicapai. Tak peduli apakah itu resolusi sebelumnya yang belum tercapai, pokoknya semua orang mau bikin resolusi, termasuk saya.

So….beginilah resolusi 2011 saya;

1. Dapet Advocate license by Peradi. Saya pengen jadi lawyer seperti background pendidikan yang saya tempuh, guys. Maka resolusi ini jadi item pertama saya. Waktunya sih end of 2011, tapi kalo bisa lebih cepat dari itu, it would be great.

2. Working at law firm!

3. Learning Japanese/Mandarin (choose one) start from first quarter or midle 2011.

4. Producing 2 novels during 2011!

5. Menulis artikel tentang perempuan sekali sebulan (mulai donk dari januari ini)

6. Look for another income through writing, relationship corner idea, or small business trial ‘n error.

7. Holiday schedule arrangement with my beloved hubby twice a year (must!)

Well, mencoba untuk terus berpikir bahwa tidak ada yang tidak mungkin ketika segalanya berusaha untuk dicapai. Maka seluruh resolusi ini sebisa mungkin harus dapat tercapai seluruhnya. meanwhile, ketika saya menuliskan ini, Big Cimoyi saya masih belum juga menuliskan resolusinya ditahun 2011 ini dengan alasan kerjaan yang ribet. Ya sudah, kita tunggu saja lah ya.

Have a nice day, all!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.