Arsip

All posts for the month November, 2010

Pacaran II: Daftar Film

Published November 14, 2010 by Mrs Nugroho

Saya sedang mencoba tidur, tapi tak juga bisa terpejam. Jadi beginilah saya, berjibaku dengan tumpukan karcis bioskop dari tiap film yang sudah saya tonton dengan suami tercinta saya itu.

15 Agustus ’09; 12.45 pm, Setiabudi

Ini pertama kali kami bertemu, dan masih malu-malu. Kami nonton ‘Merah Putih’. Saat nonton film inilah saya tau, pasangan saya ini orang yang punya otak. Dia ternyata lumayan melek sejarahJ

15 Agustus ’09; 00.15 am, Setiabudi

Sebenarnya gak bisa lagi dibilang tanggal 15 juga ya. Seharusnya sih sudah tanggal 16. Tapi di tiketnya masih tanggal 15. Tapi siapa yang peduli. Hari itu kami benar-benar menghabiskan waktu seharian berdua. Yah, dua orang yang baru ketemu dan maruk. ‘GI Joe’ yang kami tonton lumayan juga. Oh ya, ada satu pose dalam film ini yang sangat saya sukai. Yaitu pose saat Nick melamar gadisnya. It’s amazing! Saya berharap kami berdua bisa berpose seperti itu suatu saat nanti.

17 Agustus ’09; 21.15 pm, Semanggi

Butuh perjuangan bagi saya saat itu untuk keluar dari kantor, sehingga harus berkali-kali me-reschedule pertemuan kami. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk pergi begitu saja. Kami nonton ‘Orphan’, yang sungguh bikin dag dig dug tak karuan. Bukan hanya karena filmnya. Tapi karena saya juga menyadari betapa menyenangkannya orang yang berada disamping saya saat itu. sebelumnya kami makan di Sky Dining. Belakangan saya baru tau, hujan yang turun waktu itu ternyata telah sukses menggagalkan rencana pria saya ituJ

18 Agustus ’09; 19.45 pm, Setiabudi

Hari ini saya yang berjanji untuk mentraktirnya nonton. Tapi yang ingin saya tonton sebenarnya adalah Proposal. Cuma sayang filmnya belum keluar. Jadilah kami nonton ‘Taking of Pelham’. Waktu itu, gak tau kenapa, tangan saya dingin banget, kaya mayat. Dia aja sampai kaget. Hingga entah bagaimana caranya, tangan kami sudah saling menggenggam. Ia bahkan sesekali meniup-niup tangan saya untuk mengalirkan rasa hangat. Jangan tanya perasaan saya waktu itu, campur aduk! Dinihari itu juga ia meminta saya untuk jadi perempuan di hatinya. 19 Agustus ’09; 02.15 pm, taman menteng, tepatnya disebelah meja orang yang lagi main gaple!

20 Agustus ’09; 20.40 pm, Blok M

Akhirnya jadi juga kami nonton ‘Proposal’. Sungguh gak ada yang paling saya sukai selain saat dia menggenggam tangan saya. Rasanya nyamaaaaaaaaaaaaaaaan banget.

1 September ’09; 21.55 pm, Platinum FX

Saya yang memaksanya untuk nonton ‘Hang Over’ kali ini. Dan tentu saja kami melewatkannya dengan tetap saling menggenggam tangan masing-masing. Tapi ada yang lucu, sebelum suami saya itu masuk ke bioskop, ia tersandung sepatunya sendiri yang sudah mangap lebar minta makan. But hey, see how much I love him!

8 September ’09; 21.55 pm, Setiabudi

Akhirnya nonton ‘Final Destination 4’ juga. Tapi kami sempat cemberut-cemberutan. Apa pasal? Suami saya itu ogah ngebeliin cemilan. Katanya harus hemat, kan mau married. Dan ego saya meledak. Saya beli sendiri. Pasang wajah dingin, menolak dipeluknya, bahkan hingga masuk. Tapi begitu duduk, saya baru menyadari, bahwa pria saya ini benar. Kami harus hemat. Hingga akhirnya saya suapi juga kentang yang saya pegang itu. Tadinya ia menolak, it’s yours, katanya. Tapi saya bilang; I am yours, it means mine is yours. Syukurlah malam itu kami masih saling menggenggam tangan masing-masing. I love him much!

9 September ’09; 20.20 pm, Setiabudi

Nonton ‘Grudge 3’, dan hasilnya ketakutan setengah mampus. Jangan tanya seberapa kencang saya memeluk pria saya itu. Saya memeluknya sekencang yang saya bisa. Dan semakin hari, saya semakin bersyukur masih ada seseorang yang bersedia menemani saya.

10 September ’09; 21.10 pm, Semanggi

Ini rekor kami. Nonton selama tiga hari berturut-turut. ‘Evening’ ini sungguh-sungguh menyentuh hati saya. Bercerita tentang cinta yang tak sampai tujuannya. Sampai-sampai saya juga ikutan nangis. Tapi saya nangis bukan karena sang tokoh yang meninggal. Saya menangis karena sang tokoh yang meninggal itu meminta Nina, anaknya, untuk berbahagia. Juga saat Nina memohon kepada kekasihnya untuk tak akan meninggalkannya. Tak peduli seberapa bingung, aneh dan mengerikan ia kelak. Saat itu saya pun mulai bertanya, akahkah pria disebelah saya ini tetap setia bersama saya hingga tutup usia nanti?

21 September ’09; 21.25 pm, Bintaro

‘KCB 2’ dihari lebaran kedua. Saat saya selesai mengunjungi dua orang tua dari orang yang sangat saya cintai ini. Hari itu, saya memang mengunjungi ibu dirumah, dan almarhum bapak di jagakarsa. After all, saya hanya tak ingin kehilangan pria yang belakangan selalu setia bersama saya ini.

Baru saya sadari berpegangan tangan sudah menjadi ritual kami setiap kali nonton. Tapi sebenarnya saya ingin, semua orang tau betapa saya sangat mencintainya. Itu sebabnya saya selalu menggenggam tangannya saat berjalan diluar. Karena dia sudah menjadi hidup saya.

Ode Untuk Negeriku…

Published November 13, 2010 by Mrs Nugroho

Seolah tak henti rasanya bumi pertiwi ini dihantam berbagai masalah yang datang silih berganti. Belum selesai satu yang lain, telah menyusul satu yang lainnya tanpa peringatan sama sekali. Belum kering air mata yang tertumpah untuk banjir yang meluluhlantakkan Wasior 4 Oktober 2010 silam. Ketika sebuah gempa diiringi tsunami mengoyak keheningan malam di Mentawai dan menyentak seluruh persada nusantara. Hanya selang sehari, tepatnya 26 Oktober 2010, kita masih terus mendapat kabar duka cita kembali dari sebuah gunung merapi yang tegak di dekat dusun kinahrejo, jawa tengah. Dan air mata itu masih belum berhenti. Air mata ini masih mengalir, seiring dengan seluruh pemberitaan yang membombardir segenap hati.

Banjir wasior telah meluluhlantakkan kota ini senin pagi saat semua orang tengah bersiap-siap melakukan segala aktivitas. Tentu saja takkan ada yang pernah menyangka bahwa tumpahan air hujan tengah bersiap untuk melumat pagi itu. Tak ada yang bermimpi bahwa itu mungkin adalah hari terakhir bagi setiap orang untuk melihat orang-orang terdekat mereka. Hingga ketika banjir itu datang menghampiri dan melumat semuanya, yang tersisa hanyalah kehancuran dan air mata. Tak terhitung para suami yang kehilangan istri atau sebaliknya. Pun begitu juga dengan anak-anak yang menangis karena tak kunjung menemukan sosok orang tua tercinta didekatnya. Kesedihan itu sungguh masih sangat nyata, tak peduli dengan apapun analisa dan segala macam komentar orang-orang tentang apa yang menjadikan banjir itu mewujud di bumi indonesia timur terujung itu.

Mereka yang kehilangan itu sudah tak peduli dengan pemberitaan mengenai illegal logging atau apapun yang mengakibatkan banjir terjadi. Toh, mereka sudah memprotesnya, terus dan terus. Hingga akhirnya mereka berhenti. Mereka lelah, sampai mungkin mengikhlaskan alamnya dikeruk oleh orang tamak tak bertanggung jawab. Dan ketika bencana terjadi, lagi-lagi merekalah yang menangis. Yah, masyarakat mungkin turut berduka atas kehilangan itu. Tapi hanya mereka yang tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicintai didepan mata, meski kita terus menepuk-nepuk pundaknya dan berharap bisa menenangkan mereka.

Gempa di gugusan barat sumatra sesungguhnya adalah sesuatu yang lazim terjadi. Bagaimanapun, dibawahnya berkumpul tiga patahan gempa yang akan terus membuat gempa sering terjadi didaerah-daerah yang dilaluinya. Sumatera Barat salah satunya, sejak dulu sudah menjadi daerah yang paling diantisipasi akibat potensi bencana yang kerap menghantui. Termasuk gempa yang terjadi malam itu, senih 25 Oktober 2010. Gempa itu terjadi pukul 9 malam. Saat pengumuman dikeluarkan, potensi terjadi tsunami juga disiarkan ke khalayak ramai. Namun entah kenapa, setelah itu potensi tsunami itu ditarik kembali. Merasa segalanya akan baik-baik saja, penduduk kembali kedalam rumah dan tidur. Namun siapa menyangka, kurang lebih hanya dua puluh menit setelah itu, terjangan ombak setinggi 3 meter dan bervariasi dibeberapa daerah telah melumat mereka.

Saya tak tau bagaimana rasanya menghadapi tsunami seperti itu. Saya toh belum pernah mengalaminya. Yang saya bisa katakan, rasanya pasti sangat pedih sekali. Semua orang mungkin berharap, mereka menutup mata malam itu, meski gempa baru saja menggoyang tanah mereka sebelumnya, namun mereka berharap keesokan pagi, keadaan akan baik-baik saja dan mereka bisa kembali melanjutkan hidup seperti semula.

Namun tsunami malam itu tak memberikan kesempatan apapun. Tak hanya sekedar menyapu tanah, tsunami juga menghancurkan ratusan rumah, melumat ratusan orang dan menciptakan duka baru di tanah nusantara ini. Tsunami membuat para anak melolong karena kehilangan orang tua terkasih. Para istri atau suami mengucurkan air mata tak terperi kala menyadari mereka tak lagi akan bisa bersama orang-orang yang mereka kasihi itu selama-lamanya.

Dan dalam keadaan seperti itu, seorang manusia yang kebetulan saja menjadi ketua DPR  dengan entengnya berkomentar bahwa itulah resiko jika tinggal di kepulauan. Jika tak mau seperti itu, silahkan pindah ke daratan. Manusia yang satu ini, mungkin harus merasakan kehilangan dulu baru bisa merasakan duka orang lain. Tidakkah kepalanya itu berpikir, bahwa Indonesia adalah sebuah negeri maha cantik yang terdiri dari daratan dan lautan. Keberadaan masyarakat mentawai dipulau itu bukan karena keadaan instan, tapi sebuah akar kehidupan yang telah ada selama ratusan tahun.

Dan tak cukup disana, sehari setelahnya disebuah sore menjelang magrib, merapi nan gagah perkasa itu menunjukkan kekuataannya. Awan panas, guguran lava, mengalir dan menyambar siapa saja yang berada dijalurnya. Desa kinahrejo yang kebetulan berada paling dekat dengan sang merapi pun hancur tak menyisakan kehidupan. Rumah terbakar, hewan ternak terpanggang, dan manusia meregang menahan panas tak terhingga. Merapi itu juga merenggut nyawa sang juru kunci, mbak maridjan.

Seperti yang sudah-sudah, setiap bencana selalu menggores luka di hati setiap mereka yang melaluinya. Mereka yang kehilangan masih berduka. Merapi masih berdiri dengan tegaknya, namun semuanya tak akan pernah kembali lagi menjadi sama, seperti semula.

Disaat-saat seperti itu, anggota DPR diam-diam tetap pergi ke Yunani dengan sebuah alasan untuk studi banding tentang kode etik. Sebuah perjalanan dinas yang pada akhirnya juga menyertakan perjalanan tamasya ke Turki. Mereka tak perduli dengan keberatan dan protes rakyat. Bagi mereka, ini penting dan punya manfaat untuk bangsa ini kedepannya. DPR yang sejatinya adalah Dewan Perwakilan Rakyat, hari ini berubah menjadi Raja yang haus akan fasilitas dan anehnya masih saja mengharap akan mendapatkan pemakluman dari rakyat yang diwakilinya bahwa ini akan berguna untuk mereka kelak. Tentu saja tidak semuanya seperti itu. Tapi sayangnya tak banyak prestasi yang bisa kita ingat dari anggota dewan kita yang terhormat ini. Jikapun ada prestasi yang tertoreh semuanya akan terbenam oleh ragam kejelekan orang-orang didalamnya.

Bahkan, semakin hari diamati, para anggota dewan tak ubahnya ibarat orang kaya kemaruk yang baru saja terbebas dari jerat kemiskinan sehingga begitu berambisi untuk mengumpulkan semua pundi-pundi emas yang bisa dihasilkannya dengan cara apa saja. Mobil dinas royal saloon, dana aspirasi 15 milyar perdapil, hanya beberapa dari kemanjaan mereka yang amat sangat. Padahal gaji tak pernah terlambat disetorkan kerekening mereka. Tapi lihatlah, berapa RUU yang sudah dibahas untuk disahkan menjadi undang-undang? Bahkan tak mencapai 10 persen dari jumlah yang ditargetkan!

Maka, alasan studi banding soal etika hanyalah sebuah alasan belaka. Alasan utama sesungguhnya adalah jalan-jalan itu sendiri. Dengan teganya mereka mengatakan etika, sementara yang mereka lakukan dengan tetap pergi bahkan secara diam-diam ketika semua orang memprotes rencana itupun tak menunjukkan sebuah etika dari seorang anggota dewan yang harusnya menjadi panutan rakyat.

Saya tak hendak membicarakan lebih banyak tentang keburukan aparat negeri ini. Semuanya hanya menghabiskan tenaga dan pikiran saja. Tapi bagaimanapun saya ingin katakan, bahwa cukup sudah rakyat yang menanggung semua derita dari bencana yang terjadi. Benar, bencana adalah ujian. Ia adalah musibah. Dan itulah takdir. Saya tidak akan menghakimi hak tuhan untuk melakukan yang sudah dikehendakinya. Saya hanya ingin, beberapa orang yang kebetulan menjadi pejabat dan masih hanya mempedulikan dirinya sendiri itu kelak sadar, bahwa rakyat sudah lelah menangis dan menanggung semua beban. Kami tak ingin lagi menanggung beban hati karena sesak melihat seluruh ulah aparat tak bertanggung jawab di negeri ini. Andai kemiskinan memang sudah menjadi takdir negeri ini, pasti akan dengan senang hati kami tanggung jika kami memiliki pemimpin yang benar-benar mampu merangkul rakyat tanpa berniat sedikitpun mengambil apa-apa yang bukan haknya.

Tapi disitulah ironisnya. Ketika Indonesia yang kaya raya ini ternyata masih saja memproduksi rakyat miskin. Penyebabnya, orang-orang yang memegang keputusan itu telah menjual kekayaan alam kita demi hasil yang tak seberapa. Mereka lebih rela membuncitkan perutnya dan tenang tenang saja kala mendengar ada seorang anak yang nekat gantung diri karena malu tak bisa membayar uang sekolah.

Sekali saja, saat bencana silih berganti menghantam negeri ini, tolonglah merasa dengan hati kalian. Rakyat tak sepantasnya selalu merasakan penderitaan. Rakyat harusnya disejahterakan. Untuk itulah kami menjadikan kalian pemimpin.

 

Jakarta, 30 Oktober 2010

Akhirnya menulis lagi!

Published November 13, 2010 by Mrs Nugroho

Pagi semua!

Kayanya udah lama bangeeeeet deh gak liat blog ini. Bayangin, terakhir update aja tanggal 27 april lalu. Fuh, dan sekaran sudah 14 november??? Tapi ya sudahlah, toh sekarang saya sudah menulis lagi. Anyway, sekarang udah makin bingung liat wordpress, banyak tampilan yang berubah :) Tapi sekali lagi, it doesn’t matter lah.Yang penting, nulis lagi nulis lagi, ayayayayayyyy…….

Buka blog, ada komen yang mesti dibaca. dan diapprove tentunya. Ya sudah, kita approve sajalah ya. Semoga mulai hari ini bisa lebih konsisten lagi dalam menulis. Amin.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.