Malam ini saya sungguh tidak bisa memejamkan mata sedikitpun. saya tengah kangen dengan seseorang. seseorang yang belum lama ini mulai mengisi kesendirian saya selama ini. Rasa rindu itu semakin menjadi, manakala hati menyadari bahwa kami berdua tengah dilanda masalah. Yang pada akhirnya membuat kami mengambil jarak untuk menjauh dan memulihkan diri.
Hingga tiba-tiba nama itu hadir begitu saja dalam benak saya. Bapak Sarino. Beliau adalah bapak dari kekasih jiwa saya itu. Tapi sayangnya beliau sudah tidak ada. Beliau pergi pada tanggal 28 Oktober 2005 silam karena menjadi korban perampokan taksi yang dikemudikannya saat itu.
Yah, beliau memang supir taksi express, yang harus berakhir hidupnya ditangan perampok-perampok gila di jakarta. Tadinya, saya sungguh tidak berpikir untuk mencari tau. Entah kenapa, malam ini saya begitu penasaran. Dan rasa penasaran saya itu terbayar sudah.
Dari dokumentasi-dokumentasi berita elektronik yang saya baca, Beliau adalah sosok seorang rekan kerja yang sangat berdedikasi. Bayangkan saja, ia sudah bekerja selama 15 tahun dan tidak pernah sekalipun membuat pelanggaran. Hal itu membuatnya dianugrahi predikat karyawan teladan oleh pihak perusahaan.
Tidak hanya itu, di mata tetangganya, Beliau juga seorang yang ramah dan santun. Menurut mereka, ia punya tawa yang khas. Sayang, saya tidak akan pernah lagi melihat tawa yang katanya khas itu.
Dan menurut keluarganya, ia adalah sosok ayah yang sangat bijaksana dan penuh perhatian. Saya mengenal Beliau sekilas dari mulut kekasih jiwa saya. Ia pernah bercerita, bahwa ia tidak malu meski ayahnya hanya seorang supir taksi. Sebab sang ayah punya cita-cita yang begitu tinggi, menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi sehingga berhasil dan jadi orang yang berguna. Dan beliau berhasil, kedua anaknya adalah lulusan dari Universitas Indonesia yang saat ini sudah bekerja sendiri-sendiri.
Ada air mata yang mengalir saat membaca kronologis pembunuhan itu. Ada isak yang saya hasilkan saat membaca baris demi baris dimana kekasih jiwa saya begitu tak mampunya menahan kesedihannya saat harus kehilangan sebelah sayapnya. Pun dengan Ibu, Istri Bapak. Baru saya mengerti mengapa ia jauh lebih banyak diam setelah itu. Kata mereka, ia tak pernah menangis setelah kejadian itu. Tapi saya yakin, ia punya trauma dan kekhawatiran yang dalam terhadap anak-anaknya. Ia juga pasti punya kesedihan yang sangat maha karena harus kehilangan belahan jiwanya.
Saya mulai mengingat lagi perselisihan saya dengan anak sulung Bapak, kekasih jiwa saya itu. Saya tau saya tak akan bisa mengulang waktu. Saya tau saya tak akan bisa membalikkan keadaan seperti semula. Saya tau dia pasti kecewa. Saya memahami semuanya.
Saya hanya ingin menjadi perempuan dibaliknya yang menyokongnya untuk mewujudkan semua mimpi dan harapannya. Seperti yang diharapkan oleh Bapak, untuk menjadi orang yang berguna. Saya hanya ingin menjadi perempuan itu. Saya ingin menemaninya dalam perjalanan yang pasti akan panjang. Saya ingin memeluknya saat ia terjatuh. Dan menghiburnya jika ia menangis.
Saya mungkin tidak akan pernah lagi bertemu dengan Alm.Bapak. Saya tidak akan pernah mempunyai calon ayah mertua. Tapi saya seperti sudah mengenalnya bertahun-tahun. Saya menangis membaca beritanya. Saya menangis membaca kesedihan yang tertera dalam tiap baris ucapan anak dan istri Bapak.
Kesedihan yang membuat saya tiba-tiba begitu rindunya dengan anak sulung Bapak. Kekasih jiwa saya. Selamat Jalan, Bapak. Semoga Diberikan tempat terbaik disisi-Nya. Saya berjanji, jika saya memang diberi kesempatan, saya akan menjaga anak sulung Bapak dengan seluruh jiwa raga saya.

Neng …
Ini cerita yang mengharukan sekali …
Namun demikian …
Hidup tak surut kebelakang …
apa yang bisa kita lakukan sekarang adalah …
Terus merajut hari-hari kita dengan seuatu yang bermanfaat dan berguna …
Salam saya
En satu lagi …
Selamat Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir Bathin yaaa …
Cheer Up … !!!
Mohon maaf lahir batin juga om.
iya om, neng tau hidup harus terus berjalan.
apa yang bisa dilakukan sekarang adalah melakukan yang terbaik. agar alm.bapak disana bisa ikut tersenyum…..
salamun alaikum
puitis bangets…yach