Kalau ada yang mengatakan betapa tak belajarnya saya tentang sebuah rasa sakit akibat mencintai, mungkin itu memang benar. Betapa tidak, sekian pengelaman menyakitkan ternyata tak juga menyurutkan rasa hati ini untuk mencintai seseorang. Bahkan meskipun rasa itu harus membuat hati berdarah-darah karenanya.
Tapi memang bukan saya namanya jika pernah kapok. Toh, saya pada akhirnya jatuh cinta lagi. Jatuh cinta yang membuat saya merasa selalu cerah. Meski tak selalu melihat sosoknya, rasa itu sanggup melukis berbagai siluet warna setiap kali saya menatap cahaya.
Hah…, berubah puitis pula saya. Tapi, biarlah. Intinya, saya saat ini tengah terpesona. Saya tengah terpesona akan semua gerak-geriknya. Saya terpesona pada semua yang ditulisnya. Saya terpesona pada semua yang dijadikannya indah penuh warna diatas frame. Saya……, memang sedang terpesona agaknya.
Saya ingin terus terpesona. Karena itu, sedikit banyak membuat saya merasa menjadi perempuan. Perempuan yang tengah mencintai seseorang, dengan apa adanya dirinya.
Saya ingin terus terpesona. Karena itu membuat saya merasa paling ahli dalam bidang seni, meskipun saya tak menyandang gelar untuk itu. Keterpesonaan itu mendadak mampu membuat saya mengerti apa kata angin. Membuat saya mengerti apa yang tengah dimaksud bumi saat dicurah ribuan tetes air dari langit.
Ah, semakin tak karuan saja rasanya puitis ini. Satu yang saya rasa, saat ini saya memang terpesona padanya. pada dia yang disana, yang terpisah oleh batasan-batasan tembok gedung ibukota.
Tapi saya tak peduli. karena keterpesonaan saya, ternyata mampu merubuhkan batasan itu……..

saya senga Desperate … gmn dun… ^^ ”
hiks…:((