Kepada hati itu aku terlena. dimana kau berada, aku terbawa. kepada hati itu, aku terus mencoba, dimana kau berada, aku terbawa.
Entahlah, kemana dia. sampai pada pucuk cemara jejaknya pun hanya tinggal hembusan angin.
Bahkan angin pun tak lagi menyisakan apa-apa tentang harumnya. membuatku kembali menunduk menatap tanah, mencoba mencari jejak langkahnya. tapi tetap tak ada. segalanya, seperti hilang bersama angin.
Setidaknya, pada tanah ada harapan yang dinyanyikan rindu. setidaknya pada tanah, pelangi selalu menari. setidaknya pada semua, rindu akan selalu menggebu.
Tapi kali ini tak ada rindu yang bermuara harap. tak ada hujan pula yang mencipta semburat warna warni di ujung langit. pun sejujurnya, aku tak tau kemana rindu ini bermuara. ia seolah kehilangan dermaganya. dermaga yang tadinya masih disana. tapi tak lagi kulihat kini.
Jika tak ada rindu lagi, untuk apa perahu itu melaut. hanya pada lambaian selendang nona ditingkahi lenggok nyiur kelapa, pelabuhan menjadi bermakna, dan demi pasir yang mengajarkan tepi pada laut….melati terus berharap.
Rindu itu masih ada. hanya saja, bumi seolah enggan menerimanya. hingga ia melayang kesana kemari tak tentu arah. rindu itu masih ada. hanya saja, ia masih menunggu. ia berharap ada tepi pada laut yang bisa diinjaknya. tapi, ia tetap tak menemukannya. ada rindu, yang tak menemukan tempat berpulangnya, maka kemana langkah harus kubawa?
Bukankah antara langit dan bumi ada horison yang membuat semuanya lebih indah. rindulah pada suatu ketika yang merenggutmu dari kehidupan dan juga pada waktu yang tak pasti menarikmu kedalam bianglala kebahagiaan.
Andai ada horison yang bisa menempatkan rindu itu disana, maka pasti akan kulakukan. rindu itu memang telah menarik jiwaku dari raganya. membawanya pada suatu tempat yang mulai tak kukenali. bukan bianglala kebahagiaan. dan kuharap bukan pula bianglala kesengsaraan. tapi rindu itu hanya berputar-putar disana. ia tak bisa memilih tempatnya menjejak. namun entah kenapa, sejauh mata memandang, hanya ada hamparan gelap. tak ada cahaya yang bisa menuntun rindu ini. aku mulai lelah, tapi masih tak ingin menyerah…..
ada sayap yang terluka, ada gelap yang menghunjam…. dimanakah rindu saat gelap itu mengundang dirimu masuk kedalamnya, disana mungkin tidak ada tarian dengan kipasan sayap… tapi pada kegelapan cahaya lebih berarti, pada kesengsaraan kebahagiaan lebih terasa indah…..
tapi dimana menemukan cahaya saat gelap mengepungku? tak ada tarian yang bisa kulihat karena mataku menjadi buta bersama gelapnya ragaku. andai ada cahaya diujung sana, akan kukejar seberat apapun jalannya. meski mungkin saja akan mengoyak-ngoyak sayapku yang telah terluka. aku hanya ingin melihat setitik saja cahaya. adakah yang bisa menuntunku?
biarlah waktu yang mengobati hati dengan sebentuk senja, bersiullah pada pucuk2 ilalang semoga embun masih tersimpan dibalik kelopak untuk menghilangkan dahaga… biarlah mengalir jejak itu sampai meninggalkan debu.. mungkin pada tikungan sana ada seseorang yang menyambutmu dengan pelukan hangat dan sekuntum mawar…
Maka itulah yang akan kulakukan. terlalu lelah aku melanjutkan perjalanan dan mencari jawab. maka biarkan aku disini, menunggu dalam kesendirian, dalam kegelapan. aku percaya, ada cahaya diujung sana. aku percaya, ada cahaya…..
Writen by: Neng feat Kang Almas
a lonely saturday nite……..
