untittled
when we feel love and kindness towards others, it not only makes others feel loved and cared for,
but it helps us also to develop inner happiness and peace.
a little gift from imam bonjol lt.8
3 hai yang lalu neng ngerasa nemuin barang yang berharga banget. mau tau apa? setelah hampir dua minggu neng kerja di kantor ini, baru kemarin ada seseorang yang nawarin neng sholat jamaah.
waktu itu sholat zuhur. tadinya dimusholla cuma ada neng. trus, ada satu cowok – tepatnya bapak-bapak muda kali ya. ngeliat neng masih terlongong-longong, dia langsung nawarin neng buat sholat jamaahan. mau tau yang neng rasa saat itu? doooh….., rasanya seneng…………..banget. serasa nemu durian runtuh. soalnya, neng dapat pahala 27 kali lipat kan? itu makanya neng kesenengan banget.
dari dulu neng selalu takjub ngeliat mereka-mereka yang selalu menjaga sholatnya. apalagi yang sholat itu adalah para esmud-esmud dikantoran (sebenernya semua orang juga sih). betapa kesibukan kerja gak membuat mereka lalai akan kewajiban untuk mengingat tuhannya.
itu jugalah yang ingin neng lakukan saat ini. ngejaga agar sholat neng gak pernah putus, walau dalam keadaan apapun. karena, jika seluruh alam raya aja selalu bertasbih pada sang pencipta, kenapa neng yang cuma manusia biasa ini, berani lalai mengingatNya?
(postingan ini kemaren terhapus. jadi sore ini neng buat lagi. mohon maaf buat mbak olive, karena komennya jadi keapus juga)
ingat-ingatlah lagi…..
dua hari yang lalu neng berangkat kerja naik angkot, dan penumpangnya baru neng dan satu orang cowok. gak lebih 200 meter ke depan ada satu anak SMU yang ikutan naik. tapi tunggu dulu, ada yang lain dari anak ini dan tentu aja gak sama kaya anak-anak yang lainnya.
neng gak tau pasti apa anak itu bener ngalamin keterbelakangan mental ato gak. tapi sejauh yang neng liat, memang mengarah kesana. baiklah, mungkin akan lebih baik kalo neng jelasin aja gimana ‘penampakan’ anak itu ya.
dia pake baju SMU yang dimata orang sangat-sangat lusuh dan kumal. banyak noda di baju dan celananya. dia juga pake baju daleman dengan motif garis-garis putih biru. mengenakan tas sandang warna dongker yang sudah lusuh. dengan sepatu merk dallas yang warna itemnya mulai bulukan plus kaus kaki coklat di dalamnya.
dia punya rambut yang cepak, mata yang sipit dan….oh ya, ia juga sambil merokok dengan gayanya – yang buat neng sangat-sangat sengak. anak itu juga suka sekali menutup bibir bawahnya dengan bibir atasnya. dan dipertengahan jalan, neng ngeliat dia bersusah payah mengeluarkan arloji dari sakunya dan susah payah juga memakaikannya di pergelangan tangannya.
lantas, apa gunanya neng posting yang beginian?
sebenernya sederhana aja. neng bahkan hampir gak menangkap pelajaran dari anak SMU yang satu ini. tapi akhirnya neng ngeh juga. anak itu, dia, meski mengalami cacat, tapi ia tidak menyerah untuk tetap menjalani hidup. buktinya apa? buktinya, dia santai saja berada ditengah-tengah para penumpang angkot yang rata-rata adalah orang normal. dia bahkan gak ngerasa minder sedikitpun.
dan mulailah neng melihat lagi kedalam diri neng. sudahkan selama ini neng bisa berlaku seperti itu? terus hidup dan tidak menyerah pada apapun yang mencoba merintangi sukses? sepertinya memang belum sepenuhnya. ada masa dalam hidup, dimana neng sangat sering mengeluh tentang ketidakberdayaan neng. ada saat dimana neng sering merasa patah dan enggan untuk bangkit kembali. dan ada saat dimana neng terus menangisi diri dalam sunyi tanpa mencoba mencari solusi.
dan lagi-lagi jalanan menyadarkan neng. hidup harus terus dihadapi. sebab kita dilahirkan kedunia ini bukan hanya untuk menjadi seorang pecundang, tapi seorang pemenang. jadi….ingat-ingatlah lagi. apakah kita selalu menyerah dalam ketidakberdayaan kita? jika iya, bangkitlah. seorang anak yang cacat mental saja bisa, kenapa kita yang normal ini enggak?
sebab hidup memang harus melompat dengan memaksa diri untuk bertanggung jawab.
from neng with love……..
kekuatan kata-kata
Mark Twain mengungkapkannya dengan sangat indah ketika
mengatakan “Udara sangat dingin, sehingga jika
termometer ini lebih panjang satu inci saja, kita pasti
akan mati membeku”
Kita memang akan mati beku dalam kata2. Yang menjadi
persoalan bukanlah suhu dingin yang ada diluar, tetapi termometer.
Yang menjadi persoalan bukanlah realitas, tetapi kata-kata yang anda ucapkan
pada diri anda mengenai realitas itu.
Saya pernah mendengar cerita yang menarik mengenai seorang
petani di Finlandia. Ketika garis batas antara Finlandia dan Rusia
sedang ditentukan, petani itu harus memutuskan apakah dia ingin
berada di Finlandia atau di Rusia. Setelah memikirkan cukup lama,
dia memutuskan untuk berada di Finlandia, tetapi dia tidak ingin melukai
perasaan pejabat Rusia. Pejabat Rusia itu datang kepadanya dan bertanya
mengapa dia ingin berada di Finlandia.
Petani itu menjawab,”Sudah merupakan kerinduanku sejak
dulu untuk tinggal ditanah tumpah darahku Rusia, tetapi pada usiaku yang
sudah lanjut seperti ini, aku tidak dapat bertahan menghadapi musim dingin di
Rusia.”
Rusia dan Finlandia hanyalah kata-kata, konsep, tetapi
tidak demikian halnya bagi manusia, tidak bagi manusia yang gila, yang
menganggap kata-kata dan konsep itu sama dengan realitas. Kita hampir tidak
pernah melihat realitas.
Suatu saat seorang guru berusaha untuk menjelaskan kepada
sekelompok orang bagaimana orang2 bereaksi terhadap kata2, menelan kata2,
hidup dalam kata2, ketimbang dalam realitas.
Salah seorang dari kelompok itu berdiri dan mengajukan
protes, dia berkata, “Saya tidak setuju dengan pendapat anda bahwa
kata2 mempunyai efek yang begitu besar terhadap diri kita.”
Guru itu berkata,” Duduklah, ANAK HARAM.”
Muka orang itu menjadi pucat karena marah dan berkata,”
Anda menyebut diri Anda sebagai orang yang sudah mengalami pencerahan,
seorang guru, seorang yang bijaksana, tetapi seharusnya Anda malu dengan diri
Anda sendiri.”
Kemudian Guru itu berkata, “Maafkan saya, saya terbawa
perasaan. Saya benar2 mohon maaf, itu benar2 di luar kesadaran saya, saya mohon
maaf.” Orang itu akhirnya menjadi tenang.
Kemudian Guru berkata lagi,”HANYA DIPERLUKAN BEBERAPA KATA
UNTUK MEMBANGKITKAN KEMARAHAN DALAM DIRI
ANDA; DAN HANYA DIPERLUKAN BEBERAPA KATA UNTUK MENENANGKAN
DIRI ANDA, BENAR BUKAN?”
Sumber: Disadur dari dari buku Awareness – Anthony deMello








