Ingatkah engkau ketika dahulu engkau mulai belajar berjalan? Ketika engkau mulai melangkahkan kakimu setapak demi setapak? Ingatkah engkau, ketika engkau pertama kali memandang segala sesuatu dari kakimu yang mungil? Segala sesuatunya terasa begitu jauh dan tak terjangkau oleh tangan-tangan mungilmu. Kaki kursi maupun kaki bangku seakan-akan tongkat untuk menahanmu tetap berdiri.
Di bawah meja makan merupakan tempat favoritmu, meja makan cukup untuk menudungi kepalamu. Kau menengadah ke atas dan melihat lampu-lampu indah, kau takjub dan kagum melihatnya, lalu kau mengulurkan tanganmu untuk menjangkaunya. Tapi kau tak sanggup. Segala sesuatunya nampak begitu jauh dan tak terjangkau bagi tangan dan kaki mungilmu yang berusaha untuk mengapainya. …..
Lalu kau mendengar sebuah suara memanggilmu. Kau mencari berkeliling dengan tertatih-tatih, tapi kau tidak menemukannya. Suara itu memanggilmu lagi. Kau semakin penasaran dan menjejakkan kakimu ke lantai cepat-cepat untuk mencari sumber suara itu. Tangan dan kaki kecilmu berusaha menjaga keseimbanganmu ketika kau berlari untuk menemukan siapa yang memanggilmu.
Suara yang begitu lembut, suara yang kau tahu berasal dari orang yang mengasihimu. Suara yang sama terdengar memanggilmu lagi, kau memandang sekelilingmu sekali lagi, tapi kau tetap tidak menemukan suara itu. Yang kau lihat disekitarmu hanyalah mainan mobil-mobilanmu yang berserakkan, 4 buah kaki kursi, sebuah balon, beberapa buah buku, krayon dan nah akhirnya, tempat favoritmu meja makan.
Kau berlari dan melonggok ke bawah meja makan, kalo-kalo sumber suara itu berasal dari sana. Dan kau mendengar suara itu sekali lagi, disertai dengan tawa yang lembut.
“Kemana kau mencari anakku? Lihat aku ada diatasmu.”
Kau pun mendongakkan kepalamu dan melihat sumber suara itu. Ibumu berdiri di hadapanmu dan tersenyum melihatmu. Kau pun tersenyum dan berpikir “Hei, lihat aku dapat menemukanmu. “
Lalu kau mengulurkan tangan mungilmu, mencoba mengapainya. Mencoba menciumnya, mencoba memegang tangannya. Namun, aduhhh!!! tanganmu tidak dapat mencapainya.
Tiba-tiba Ibumu terasa begitu jauh darimu. Ia berdiri menjulang tinggi dan tak dapat kau raih. Kau mulai kecewa dan menangis. Kau menginginkan ibumu!!! Kau ingin menciumnya, memegang pipinya, kau ingin menarik rambutnya. Kau menginginkan ibumu, tapi kau tidak dapat mencapainya … Ibumu terasa begitu jauh.
Dan tiba-tiba kau merasa tubuhmu terangkat. Ada sepasang tangan yang memegang pinggang kecilmu. Kau melihat ibumu tersenyum dan berkata, “Nah, aku menemukanmu! ” Kau mengapai dengan tanganmu, dan HEI lihat, sorakmu kau bisa memegang pipinya. Ia tertawa ketika tangan-tanganmu memegang pipinya. Bahkan ketika salah satu tanganmu menarik rambutnya … Ia tertawa dan ia menarik kau mendekat kepadanya dan mencium pipimu. Kau tertawa kesenangan. Akhirnya kau bisa meraih ibumu. Oh tidak, akhirnya ibumu bisa meraihmu dan mendekapmu.
Berapa sering kita merasa bahwa Tuhan jauh dan tidak terjangkau bagi tangan-tangan kita? Atau mungkin kita ingin sekali menjangkaunya tapi … upsss, tanganmu kurang panjang. Kaki-kakimu kurang tinggi untuk dapat menjangkaunya.
Pernahkah ketika kita merasa bahwa Tuhan jauh dari kita, kita berpikir dan membayangkan diri kita seperti anak kecil dengan pandangan yang serba terbatas sehingga kita tidak bisa melihat bahwa sesungguhnya kita ada dibawah kaki-Nya!!! Kita ada kurang dari 10 cm dari hadapan-Nya. Pandangan kita sangat terbatas. Tidak seperti pandangan-Nya! !! Pada pandangan-Nya kita begitu dekat, sehingga tangan-tangan- Nya bisa menjangkau dan menarik kita mendekat pada-Nya.
Bagi-Nya kita begitu dekat, sehingga bunyi nafas kita pun terdengar oleh-Nya. Ketika Ia menundukkan kepala-Nya, ada kita di dekat kaki-Nya. Ia tersenyum dan tertawa ketika melihatmu mencari-cari- Nya, padahal kau ada di dekat kaki-Nya. Dan akhirnya, ia mengangkat pinggangmu, membawamu naik untuk dapat menciummu. Untuk membiarkanmu memegang pipi-Nya, untuk membiarkanmu menarik rambut-Nya. Ia ada dekat sekali denganmu. Yang kau perlukan hanyalah menjulurkan tanganmu keatas, menengadahkan kepalamu, dan Ia akan mengangkatmu ke atas. Ia akan membungkuk dan mengulurkan tangan-Nya.
Jika kau merasa begitu jauh dari-Nya, INGAT KAU ADA DIDEKATNYA. SANGAT DEKAT!
nice posting…
thanks neng… hanya orang2 yg angkuh yg berusaha mencari kesulitan dalam kemudahan
Subhanallah ..
Posting yang mencerahkan. Kita seperti bayi yang asik dengan mainannya sendiri. Tapi peduli sepasang mata memperhatikan kita. Setelah bosan, kita kemudian mencari2 sepasang mata yang memperhatikan kita.
Indahnya hidup adalah ketika kita menyadari bahwa Dia selalu memperhatikan kita.
Berapa sering kita merasa bahwa Tuhan jauh…..
Sering kali, kadang kapasitas keimanan seseorang naik dan turun. Terima kasih atas pencerahannya..
@almas
makasih kang…
memang gak semestinya kita angkuh sementara sang maha pemurah udah kasih sgalanya buat kita secara free.
@pak erander
yup pak.
kita sering kali terlupa saat kita seneng. giliran lagi susah, mulai deh sibuk mempertanyakan dimana tuhan.
smoga….. ya allah….
neng dan smuanya dikasih hati yang ringan untuk mau dekat pada-Mu.
@Om rivafauziah
padahal ketika kita merasa jauh, allah udah bilang dalam firmannya;
“kemanapun kamu menghadap, disitulah wajahku”
ternyata tuhan kita gak pernah pergi jauh dari kita.
Makasih ah neng sudah dicerahkan.
Mantapz…terima kasih neng.
*mo ikutan manggil ‘neng’ aja kok*
Sesama muslim harus saling mengingatkan n mencerahkan, Emang kita teh suka merasa JAUH dari-Nya. makasih pencerahannya
“Pernahkah ketika kita merasa bahwa Tuhan jauh dari kita, kita berpikir dan membayangkan diri kita seperti anak kecil”….
Itulah neng, kenapa yaa, kita kok tak menyadi kalau Tuhan itu begitu dekat, seakan-akan ia nun jauh di negeri antah berantah… duh Gusti…
koreksi…. menyadi = menyadari
aduuh pake dimoderasi segala Neh,
euh… memang dunia inih teh.. terlalu mengasyikan neng.. sehingga membuat kita lalai biarpun sekedar untuk mengangkat tangan…
wah tulisannya bagus buanget deh mabak mencoba melihat dari doea sisi/ cara pandang….terus berkarya deh…bgmn lututnya udah baikan….boleh kok di link blog saya yang awut-awutan, maklum belajar menulis. Salam neng
hidup ini emang miracle yah
Luar biasa menghentak dan sangat dalam maknanya. Terimakasih banyak telah mengingatkanku akan Allah..