Catatan Seorang Perempuan Bebas

Juli 30, 2007

For you…

Diarsipkan di bawah: Psikologi — mataharicinta @ 6:30 am

You see things; and you say, “why?”

But I dream things that never were; and I say;

“why not?”

(George Bernard Shaw)

 

“mengapa”,

bisa menjelaskan.

 

“mengapa tidak”,

adalah

awal dari inisiatif yang memimpin.

 

Mengapa kita tidak mengutamakan yang baik,

Padahal kita tahu akhir dari semua yang tidak?

 

Mengapa tidak?

(taken from “becoming a star”)

 

Piranha and us…..?

Diarsipkan di bawah: etos — mataharicinta @ 6:30 am

Pernah merasa bahwa kamu sudah stuck dan gak bisa ngapa-ngapain lagi? bahwa segala sesuatu yang udah dicoba udah sia-sia dan sama sekali gak punya arti? Kalo emank iya, coba deh bandingin kehidupan kamu sama ikan piranha di bawah ini;

Ini adalah oleh-oleh dari kafe etos miliknya pak Jansen Sinamo. Alkisah ada seorang pengusaha yang baru pulang dari amerika selatan. Sebagai oleh-oleh belio membawa setoples ikan piranha dari perairan amazon yang terkenal buas itu. sesampainya ia dirumahnya, ia membagi aquariumnya menjadi dua sekat yang dibatasi juga oleh kaca. Ikan piranha diletakkan di sekat yang satunya, dan ikan-ikan aquarium yang sebelumnya sudah ada disana di letakkan juga dalam tempat yang sama, hanya saja dibatasi dengan kaca sebagai sekatnya.

Melihat ada sekelompok ikan yang berenang megal megol kesana kemari, sontak naluri pemburu (apa pembunuh ya?) sang piranha bangkit. Dengan semangat empat lima ia mencoba menerjang kearah serombongan ikan-ikan itu. kali pertama, ia tersandung sekat kaca. Namun ia masih belum menyerah. Sang piranha kembali mempersiapkan kuda-kudanya untuk kembali menyerang. Namun serangan kali ini juga gagal. Ia masih belum menyerah. Tiga kali, empat kali, lima kali, ia masih terus berusaha memburu ikan-ikan disebelahnya. Namun pada serangan ke enam, moncongnya sudah penyok dan berdarah-darah.

Merasa kehabisan tenaga, sang piranha mungkin mencoba mengembalikan tenaganya. Mereka beristirahat dan untuk keesokan harinya kembali mencoba menyerang ikan-ikan yang berada tepat disebelah mereka. hal seperti itu berlangsung terus selama hampir setengah bulan. Dan selama itu jugalah moncong mereka terus menerus penyok dan berdarah-darah. Akhirnya sang piranha pun mulai mengambil sikap diam, dan tidak lagi mencoba menyerang ikan-ikan tersebut.

Selang beberapa hari kemudian,sang pengusaha pun membuka sekat kaca pembatas ikan-ikan tersebut. dan ajaibnya, piranha-piranha yang terkenal ganas itu tak lagi berniat menyerang dan memburu ikan-ikan lainnya. Mereka malah cenderung menyendiri dan ketakutan. Dan pada akhirnya sang piranha perlahan-lahan bersikap seperti ikan kebanyakan.

Sang piranha memiliki kesempatan untuk memburu ikan-ikan tersebut bukan? Namun pikiran bahwa sekat kaca itu masih ada yang membuat naluri pemburu mereka memudar perlahan-lahan dan selanjutnya hilang. Hal ini juga berlaku buat kita, manusia. Terkadang dalam keadaan realitas kita sering sekali mengalami hal-hal yang gak ngenakin hati. Jika hal yang gak mengenakkan itu terus diingat-ingat, hal ini lah yang akan menjadi virus paling berbahaya bagi kelangsungan prestasi dalam hidup kita.

Bahwa kita merasa jika kita melakukan ini, akan ada halangan lagi yang akan menghambat kita. seterusnya, kita akan mencoba menghindari hal-hal yang memaksa kita untuk berpikir secara out of box. Kita cenderung akan lebih memilih zona nyaman. Dan setelah itu, perlahan tapi pasti, kita pun akan menjelma menjadi manusia kebanyakan.

Jangan lupa, lebih banyak orang dikerdilkan oleh perkiraannya mengenai masalah, daripada oleh masalah itu sendiri (Mario Teguh)

Yang mesti kita pikirkan

Diarsipkan di bawah: Reflection — mataharicinta @ 6:28 am

Selintas teringat kembali perbincangan antara penyiar di radio Smart FM dan Ayah Edy dalam acaranya Indonesian Strong From Home. Dimana saat itu diceritakan tentang hikmah yang perlu kita pikirkan tentang anak-anak kita dari hadirnya bencana gempa dan tsunami yang melanda negeri kita pada penghujung tahun 2004.

Adalah pengalaman dari para rekan-rekan yang bekerja di UNDP dan bertugas untuk mewawancarai anak-anak korban bencana alam tentang apa yang mereka inginkan untuk segera dikerjakan oleh para aktivis tersebut. wawancara ini dilakukan terhadap anak-anak dinegara-negara yang terkena kerusakan parah, yaitu India, Thailand dan termasuk juga negara kita Indonesia.

Yang menarik adalah jawaban dari para anak-anak di tiga negara tersebut. saat anak-anak di India ditanya, hal apa yang mereka sangat mereka inginkan saat ini, jawabannya adalah; “kami menginginkan sekolah-sekolah dan kantor-kantor aktivitas publik dibangun segera agar kegiatan sehari-hari dapat berjalan kembali seperti biasanya.”

Sementara jawaban yang diberikan oleh anak-anak di Thailand atas pertanyaan serupa adalah: “ kami ingin sekolah-sekolah dan tempat-tempat wisata yang ada disini segera diperbaiki agar kami bisa segera bersekolah kembali dan mencari uang seperti biasanya.”

 

Dan jawaban anak-anak Indonesia adalah: “ kami ingin agar segera dibuatkan rumah dan diberikan uang untuk membeli segala keperluan yang kami perlukan.”

 

Ketiga jawaban diatas sekilas memang benar. Tapi jika diperhatikan benar-benar ada perbedaan yang sangat substansial disana. Yaitu pada pola pikir anak-anak itu saat menjawab pertanyaan. Anak-anak di India dan Thailand ternyata lebih menginginkan diberikan kailnya, agar mereka bisa segera berusaha lagi dan tegak diatas kaki mereka kembali. Untuk ukuran anak-anak, bukankah ini sebuah pemikiran yang sangat luar biasa! Bahwa dalam usia mereka yang masih hitungan jari mereka mampu telah mamahami kehidupan dalam arti yang sebenarnya.

 

Sementara anak-anak di negeri kita yang tercinta ini ternyata lebih memerlukan ikan daripada kailnya. Meski terlihat wajar, namun secara pola pikir ternyata anak-anak kita masih belum bisa berpikir mandiri. Bangsa kita masih lebih suka dibuatkan hal-hal yang secara fisik berguna untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan tentang hal-hal lain yang berguna secara jangka panjang buat mereka. alih-alih berpikir untuk mencari uang untuk kehidupan, untuk sekolah saja tidak terpikir dalam jawaban anak-anak tersebut.

 

Aku kembali bertanya-tanya pada diri sendiri, bisakah kelak memberikan pemahaman yang baik untuk generasi-generasi penerusku kelak, jika hari ini fenomena yang terjadi adalah seperti ini? namun kali ini aku gak pengen membiarkan rasa pesimis yang biasanya selalu bertandang lebih dulu itu menang. Negeri ini pasti masih bisa bangkit. Melalui tangan orang-orang yang masih peduli pada kedigjayaan bangsanya. Meski hanya segelintir, tapi pasti akan membuahkan hasil yang nyata.

Semoga pendidikan di negeri ini suatu saat akan kembali menghasilkan orang-orang besar yang mampu berkompetisi di kancah dunia global. Dan seperti kata Cicero:

“ pendidikan yang seharusnya adalah pendidikan yang mampu membangun karakter kepribadian seseorang dengan baik.”

how to…….

Diarsipkan di bawah: etos — mataharicinta @ 6:26 am

Pernah denger internet sehat?

Atau Indonesia gateway?

Atau bagaimana pendapat anda tentang lalu lintas dunia cyber saat ini?

Peduli generasi muda?

Pornografi lewat internet?

Pembobolan rekening lewat internet?

How to solve these problem?

dizy euy!

Diarsipkan di bawah: Psikologi — mataharicinta @ 6:26 am

Aku sekarang masih tercatat sebagai mahasiswi semester 8 di fakultas hukum universitas andalas, padang. Tapi kenapa justru udah semakin di penghujung aku mulai kehilangan minat pada dunia hukum yang udah kucita-citain sejak aku masih kelas 3 SMP dulu ya? Pikiran aku malah mulai sibuk mikirin bidang lain, psikologi. Tau kenapa, sejak semester 5 aku mulai pindah ke lain hati. Koleksi buku ku udah mulai berganti judul. Bukan lagi tentang hukum dan tetek bengeknya, tapi malah buku yang pake judul motivasi dan pengembangan diri.

Sekarang, jadi kena batunya. Skripsi ku malah tergantung gak karuan. Mau ngerampungin draft skripsi aja malesnya ampun-ampunan. Kalo gak dipaksa-paksa pulang ke padang cepat-cepat, mungkin aku masih anteng di medan sekarang ini.

 

Ya allah…..

Kasih aku kekuatan ya buat ngerampungin yang terakhir ini. abis ini aku mau janji deh buat belajar lagi dengan sepenuh hati.

(udah capek ngeliat kondisi ketatanegaraan yang makin gak jelas, dan semakin jatuh hati pada nama-nama berikut ini; andrie wongso, antoni dio martin, tung desem waringin, Mario teguh, etc…etc…)

Candy….?

Diarsipkan di bawah: sense — mataharicinta @ 6:24 am

Aku baru ngeh kalo sinetron candy yang ditayangin di RCTI tiap jam 19.00 itu rupanya adaptasi dari film cartoon nya yang dulu tayang sekitar taun 1994-an gitu. Waktu itu aku masih kecil-kecilnya. Masih sekitar kelas 3 SD gitu deh. Tapi yang aku masih inget banget, cartoon-cartoon zaman dulu masih lebih enak dibanding cartoon-cartoon yang sekarang. Dulu itu masih ada yang namanya magic knigth rayearth, power rangers (yang masih jadi fave-ku sampe sekarang ini), sailor moon, candy-candy, etc…etc….

Tapi satu yang aku perhatiin banget, ternyata candy yang cartoon jauh lebih enak dari candy yang dimanusiakan. Ada gak ya, saluran TV yang mau nayangin cartoon candy-candy lagi???

Juli 21, 2007

Once, Prestasi+Emosi = …..???

Diarsipkan di bawah: Psikologi — mataharicinta @ 12:43 pm

Prestasi dan emosi, adakah kaitannya?

Ada pepatah, your hand will not reach what your heart not desire.

Tanganmu tidak akan mencapai apa yang tidak diinginkan oleh hatimu.  

Bila tangan kamu tidak mencapai apa yang kamu inginkan, mungkin hati kamu sebenarnya tidak menginginkannya. Jadi semuanya dipengaruhi dengan keinginan hati kita. 

Sebuah kisah terjadi dipegunungan himalaya. Di Suatu malam yang dingin dan turun salju yang lebat (bilang salju yang banyak, pake lebat gak ya?), tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu rumah seorang tua yang baru beranjak tidur bersama keluarganya. Dalam hatinya bertanya-tanya. Siapa yang berkeliaran di malam sedingin ini? namun ketika ketukan itu kembali berulang, akhirnya ia pun bergegas membukakan pintu. Dan nampaknya seorang anak muda tengah berdiri kedinginan di depan pintu rumahnya.

Dengan keheranan yang sangat ia kembali bertanya; “kenapa nekat mendaki?”

Namun sang anak muda menjawab dengan wajah yang keras; “saya tau resikonya mendaki dalam kondisi seperti ini. tapi hati saya telah sampai di puncak gunung itu. sehingga saya tidak mungkin lagi berhenti.” 

Adakah kita telah berlaku demikian? Maju untukmeraih apapun yang telah kita cita-citakan meski banyak aral menghadang? Yang jelas, kisah ini udah buat aku mikir lagi. bahwa jika kita memang sudah mencita-citakannya, gak ada alasan gak bisa kalo bukan karena kemalasan diri sendiri (jadi inget sama papan cita-cita yang selama ini aku gantung di kamar kost-kostan)

Jojohart pernah bilang; “berpikirlah besar dan letakkan target yang ingin dicapai dengan pikiran yang gembira.” 

Jadi kalo kamu punya cita, nih dia rambunya:

1.     tetapkan cita-cita kamu setinggi mungkin.

2.     bayangkan jika itu tercapai dan bagaimana tanggapan orang atas keberhasilan yang udah kamu raih. Bayangkan momen itu sedetail mungkin yang kamu bisa.

3.     bayangkan perasaan kamu sendiri jika bisa mencapai mimpi-mimpi kamu.

4.     dan jangan lupa, balut cita-cita kamu dengan emosi yang menyenangkan. Sehingga gak kan ada alasan bahwa cita-cita kamu terlalu sulit atau terlalu banyak orang yang tidak menginginkan kamu sukes.

Remember, prestasi kamu dan aku, akan sangat ditentukan oleh emosi kita sendiri. Jadi mari mencerdaskan emosi sedari dini, halah!

From Soe Hok Gie With Love

Diarsipkan di bawah: Poem — mataharicinta @ 12:42 pm

Hari ini aku lihat kembali

wajah-wajah halus yang keras

yang berbicara tentang kemerdekaan dan demokrasi

dan bercita-cita menggulingkan tiran

aku mengenali mereka

yang tanpa tentara

mau berperang melawan diktator

dan yang tanpa uang

mau memberantas korupsi

kawan-kawan

kuberikan padamu cintaku

dan maukah kau berjabat tanganselalu dalam hidup ini?

(soe hok gie) 

Children Learn What They Live

Diarsipkan di bawah: Psikologi — mataharicinta @ 12:40 pm

Children learn what they live 

Bila anak sering dikecam, ia belajar mengumpat

Bila anak sering dikasari, ia belajar berkelahi

Bila anak sering diejek, ia belajar menjadi pemalu

Bila anak sering dipermalukan, ia belajar menjadi merasa bersalah

Bila anak sering dimaklumi, ia belajar menjadi sabar

Bila anak sering disemangati, ia belajar percaya diri

Bila anak mendapat haknya, ia belajar bertindak adil

Bila anak merasa aman, ia belajar menjadi patuh-setia

Bila anak mendapat pengakuan, ia belajar menghargai dirinya

Bila anak diterima dan diakrabi, ia akan belajar menemukan perasaan cinta

{children learn what they live – Dorothy Law Nolte} 

sudahkah kita menjadi contoh bagi anak-anak disekitar kita? sudah cukup bangsa ini kehilangan anak-anak penerus bangsa terbaiknya. Sekarang saatnya melukis masa depan bangsa melalui sosok-sosok anak kita.  

Disiplin + Kontrol Diri

Diarsipkan di bawah: Psikologi — mataharicinta @ 12:39 pm

Pernah denger yang namanya disiplin dan kontrol diri bukan? Pasti lah ya. Sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak kita semua pasti udah diajari bagaimana caranya duduk yang rapi dengan tangan kita sebagai penunjuk tahapannya. Masih inget kan kalo dulu kita duduk, disuruh duduk yang rapi dengan tangan direntangkan ke depan, terus tangan kanan diletakkan di atas lengan kiri, dan begitu pula selanjutnya dengan lengan kiri kita. setelah itu, zap….! Dan kita pun telah duduk rapi dengan tangan terletak diatas meja.  

Sekarang mari melihat disiplin ditambah kontrol diri sebagai bagian dari predictor kesuksesan kita. adakah pengaruhnya? Silahkan jawab masing-masing yah!

Jadi pada zaman dahulu, para ahli mengadakan test yang dinamakan dengan the marsmallow test untuk melihat adakah pengaruh disiplin dan kontrol diri terhadap kesuksesan dimasa depan. 

 Nah, dalam test itu para anak-anak berusia 5-7 tahun dimasukkan dalam ruangan yang berisi penuh dengan permen yang beraneka ragam. Tiap anak dibolehkan mengambil permen apapun yang mereka mau dengan jumlah yang tak terbatas. Namun mereka diberi syarat; bahwa mereka tidak boleh memakan dulu permen-permen itu. melainkan mereka harus meletakkan nya diatas meja terlebih dahulu dan menunggu para ahli tadi mendatangi mereka. jika mereka mampu melakukannya, maka mereka akan mendapatkan 5x lipat lagi dari jumlah yang mereka pegang saat ini.  

Sepeninggal ahli tadi, beberapa anak mulai terlihat gelisah. Saling melirik-lirik temannya dan karena tidak tahan melihat permen yang menggoda itu akhirnya  beberapa dari mereka memakannya. Namun beberapa anak terlihat masih bertahan dengan harapan bahwa mereka akan mendapatkan lebih banyak lagi dari yang mereka dapatkan saat ini.  

 Penelitian itu akhirnya berakhir. Namun yang menarik adalah bahwa ternyata perkembangan mereka dipantau terus hingga mereka dewasa. Dan anak-anak yang mampu menahan diri untuk tidak memakan permen sebelum waktunya rata-rata berada pada tingkat kesuksesan diatas anak-anak yang dulunya tidak bisa menahan diri.  

Masih ada satu cerita dari salah seorang pemilik surat kabar nasional tentang disiplin dan menahan diri. Jadi dulu, saat mereka masih kecil-kecil ayah pemilik surat kabar nasional ini selalu mewajibkan anak-anaknya untuk membaca satu saja artikel dari surat kabar untuk mereka diskusikan saat makan malam. Jadi meskipun mereka juga bermain seperti anak-anak lainnya, mereka tetap harus membaca minimal satu artikel per harinya karena mereka akan ditanya pada saat makan malam nanti.

Begitu juga jika mereka hendak membeli mainan. Jika mereka pergi ke pasar dan melihat mainan yang mereka inginkan maka sang ibu akan segera berkata; “tunggu ibu gajian”. Jadi jika mereka menginginkan sesuatu hal, maka mereka sendiri yang akan berkata; “tunggu saat ibu gajian.” meski pada saatnya mereka tetap dibelikan mainan tersebut, namun proses disiplin dan mampu menahan diri akhirnya mampu membuat sang pemilik surat kabar dan saudara-saudaranya ini menjadi orang yang sukses dalam pekerjaannya masing-masing.  

Mendengar kisah ini, aku sempat tertohok dalam sekali. Apa iya aku udah bisa disiplin dan menahan diri at my daily life? Rasanya kok belum juga ya:( aku kadang masih suka gak disiplin dengan agenda yang udah aku buat sendiri. Kadang masih suka gak bisa nahan diri kalo udah liat barang obralan. Wah….masak aku kalah sama anak kecil tadi?

kayanya mulai sekarang mesti belajar disiplin n nahan diri lagi nih. Harus bisa! Bahaya kalo ntar jadi emak-emak dan ternyata masih belum bisa disiplin, gimana nasib anak-anakku ntar dwonk?! 

Oh ya, Pak Antoni Dio Martin juga berbaik hati kok ngasi tips buat melatih disiplin dan menahan diri ini.

nih dia tipsnya!

1.  tuliskan kontrak antar diri anda sendiri untuk berkomitmen melakukan satu hal yang akan membawa anda pada level tertinggi. Berjanjilah untuk melakukannya satu hari selama 12 detik. Kenapa Cuma 12 detik? Hal ini memang sengaja. Kalo anda sudah bisa melakukannya selama 12 detik itu, anda bisa menambah sendiri waktu anda. Namun yang paling sulit dari hal ini adalah mendisiplinkan diri kita untuk konsisten melakukannya setiap hari selama 12 detik.

2.  bayangkan betapa menyenangkan hal yang akan kita peroleh jika kita bisa menahan diri. Dan fokus pada rasa senang yang akan kita peroleh mampu membuat kita menahan diri. Hal ini justru bukanlah menjadi penderitaan. Sebab kita hanya berkonsentrasi pada rasa senang yang akan kita dapatkan. Dan jangan lupa, saat sukses melakukan hal-hal kecil tersebut, berikan reward pada diri sendiri dan katakan bahwa kita hebat karena kita mampu melakukannya. Dare to do it?    

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.