Ada yang pernah mengataka hidup ini hanya sekali, maka hiduplah yang berarti. hidup yang berarti yang pada akhirnya sering diartikan menjadi hidup yang penuh kerja keras, hingga kerap kali tak sempat untuk melihat hal-hal kecil nan ajaib.
boleh dikatakan, beberapa saat yang lalu adalah saat dimana hidup saya menjadi terasa sangat berat. hidup sendiri tanpa pekerjaan yang defenitif tentu lumayan berat untuk dijalani kan? saya tentu tidak mungkin merepotkan orang tua saya lagi dan menumpangkan beban hidup saya pada mereka.
itu semua belum termasuk ‘kewajiban’ saya yang belum selesai. jadi lengkaplah sudah. di PHK dari perusahaan karena terimbas krisis global, masih memiliki kewajiban bersisa, serta hanya seorang diri. tanpa orang spesial yang bisa diajak berbagi. untuk sesaat, saya merasa saya benar-benar akan tenggelam. sendirian saja.
hingga suatu hari, saya harus pulang kerumah orang tua saya diRiau. untuk menempuh tempat itu saya selalu lebih suka menaiki kereta api, daripada bus. menurut saya, di kereta kita akan dapat melihat berbagai tipe orang dan macam-macam tingkah mereka. yah, anggap sajalah ini sebuah refreshing hati.
pagi itu saya bergegas membeli karcis di loket. tidak ada siapapun, selain seorang ibu yang saya lihat hanya sendiri saja. ia membawa barang yang lumayan banyak. dan didepan loket, saya lihat ia tengah menyerakkan lembaran uang kertas ribuan disana. well, what’s going on here?
saya mengamati ibu itu dengan tekun. yah, tentu tidak sopan menyerobotnya begitu saja kan?
“wah, kurang seribu, nak”, saya mendengar ia berseru pada petugas tiket. namun tak ditanggapi oleh gadis itu. sesuatu mengusik hati saya. yang lantas segera membuat saya cepat membuka dompet dan menarik seribu dari sana.
“ini sisanya, Bu”. ia menatapku sumringah.
“wah, terima kasih ya, Nak.” saya hanya mengangguk sambil tersenyum. dan senyum saya semakin mengembang tatkala ia menepuk bahu saya lembut sebelum berlalu. jujur, saya senang sekali.
didalam kereta dan saya hanya tertidur. tapi begitu sampai di tebing tinggi, mau tidak mau saya harus membuka mata saya. yah, betapa sangat tidak nyaman resanya tidur, sementara para pengamen dan pengasong berkeliaran di lorong-lorong sambil berlomba berteriak-teriak menjajakan dagangan mereka. biasanya saya selalu kesal dengan saat-saat seperti ini. tapi saat seorang pemuda berusia sekitar 17-an menjajakan dagangannya pada saya, ada yang hangat mengalir di hati saya.
saya mulai terbayang dengan adik saya. anak didepan saya ini harus susah payah berjualan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. sementara hari ini, adik saya sedang anteng duduk dan mengerjakan soal ujian di kelasnya. ia juag tidak perlu repot memikirkan biaya kuliahnya yang akan menjelang dalam 4 bulan kedepan. karena semuanay memang sudah disiapkan orang saya kami.
ia masih menatap saya dengan pandangan yang seolah berarti; “belilah dagangan ini kak”. namun saya hanya bisa menggelengkan kepala saya. bukan, bukan saya tidak mau membantunya. saya hanya tidak pernah tertarik untuk membeli apapun didalam kereta. tapi mata saya sungguh tak lepas menatapnya yang berlalu. entah kenapa, rasanya bersyukur sekali kami tidak harus seperti itu. pelan-pelan saya mulai sadar, jika tadinya saya merasa tenggelam, sepertinya itu bukanlah keadaan yang sebenarnya. saya hanya sedang menyerah saat itu. karena sebenarnya di dunia ini ada banyak orang yang jauh lebih susah dan merana daripada saya.