Dulu saya sangat takut jika pasangan saya akan berubah suatu saat setelah beberapa tahun pernikahan kami. Atau lebih buruk lagi, tak lama setelah pernikahan. Oleh karena itu, saya tak pernah berhenti bertanya padanya apakah ia menyayangi saya? Apakah ia akan berubah suatu saat nanti? Apakah ia akan meninggalkan saya jika suatu saat ia menemui seseorang yang lebih istimewa dari saya? Dan jawaban semuanya adalah iya, tidak dan tidak.
Saya takut pernikahan saya akan hambar pada tahun-tahun setelah tahun pertama dan suami saya perlahan-lahan berubah dan semuanya hanyalah tinggal rutinitas belaka. Tak ada lagi kejutan, yang ada hanya perbuatan yang terus diulang-ulang. Ini bermula dari obrolan saya dengan seorang driver direksi saat saya masih bekerja di kantor yang sebelumnya. Hanya ingin belajar dari seorang yang sudah berpengalaman tepatnya, sebab saat itu saya memang belum menikah.
Dan jawabannya sangat mengejutkan saya. Bahwa setelah memiliki beberapa anak, percikan-percikan api cinta – katakanlah seperti itu – yang dulu selalu muncul kini sudah tak ada lagi. Urusan tak pernah lagi menjadi kamu dan aku, tapi anak-anak. Pelukan dan ciuman adalah hal yang jika kini dilakukan akan terasa sangat canggung sekali. Dan bagaimana dengan hubungan suami istri? Tanya saya penasaran. Dan taukah kalian jawabnya, hubungan suami istri pun hanya dilakukan karena kebutuhan biologis semata, hubungan yang satu itu tak lagi dijadikan cara untuk mengungkapkan seluruh perasaan kita pada pasangan kita.
Waktu itu saya hanya mengerenyit, membayangkan semua hal yang saya rasa tak masuk akal di dalam pikiran itu. seolah tau jalan pikiran saya, driver itu mengatakan pada saya, nanti ketika saatnya tiba, kamu juga pasti merasakan hal yang sama. Tapi tentu saja bukan saya jika ingin mengalami hal yang sama. Dengan penuh keyakinan saya katakan padanya, bahwa saya tak akan membiarkan hal yang sama terjadi pada saya. Dan sebagai balasan saya pun mendapatkan seringai ejekan.
“Percaya deh, setelah punya anak, kalian udah gak akan sempat ngapa-ngapain.” Itu ucapannya saat pergi meninggalkan saya. Dan itulah alasan kenapa saya selalu bertanya apa pasangan saya akan berubah setelah menikah nanti.
Hal yang sama juga pernah saya tanyakan pada salah seorang atasan saya. Dan jawabannya adalah, bahwa ia tak pernah mengucapkan I Love You sejak ia menikah dengan suaminya. Dan hal ini lagi-lagi membuat saya bertanya-tanya, bukankah cinta itu sesuatu yang harus ditunjukkan, harus dikatakan? Alasannya, ia bukanlah tipe orang yang suka seperti itu. Tapi tidakkah rasa cinta yang besar untuk pasangan kita bahkan bisa membuat kita melakukan hal-hal yang menurut kita tidak mungkin untuk kita lakukan? Setidaknya untuk saya, cinta harus ditunjukkan dengan perbuatan, dizahirkan dengan ucapan, dan dihembuskan dalam setiap keseharian kita. Tapi ternyata masih terlalu banyak penafsiran cinta diluar sana yang sangat tak bisa saya mengerti.
Maka ketika menikah, saya katakan pada suami saya, saya tak menginginkan perubahan apapun pada sikap kami. Tentu saja ada yang memang harus berubah. Sikap dan tanggung jawab serta status kami harus berubah dan disesuaikan. Tapi bukan berarti cara kami mencintai pun harus berubah bukan? Artinya, saya tak ingin kami merubah gaya kami mencinta satu sama lain. Saya ingin terus memelihara budaya pacaran kami dalam keseharian rumah tangga kami.
Dan memang itulah yang kami lakukan. Ketika jam pulang kantor suami saya tiba, dan mama tiba-tiba menelepon dan bertanya saya sedang apa dan dimana, saya katakan saya sedang di jalan dan ada janji dengan suami. Biasanya beliau hanya tertawa mendengar alasan saya, dan mengatakan kami seolah-olah masih pacaran saja. Masih janji-janji ketemu segala macam, padahal setiap hari tentu saja sudah bertemu dirumah.
Kami tak pernah melepaskan tangan satu sama lain saat berjalan. Selalu bercanda saat suntuk kala macet. Jalan-jalan tanpa tujuan pada weekend yang bokek. Nonton midnite di 21. Berburu makanan murah saat duit sedang tidak banyak dikantong. Bermain monopoli saat sedang tak ingin keluar rumah. Saling mencium dan memeluk saat akan berpisah. Tak pernah absen bilang I Love You atau Aku Sayang Kamu pada setiap kesempatan.
Sama seperti mama, orang-orang dijalanan juga sering kali menduga kami masih pacaran. Hal itu baru akan tertepis jika kami sudah keluar belanja bulanan setelah jam pulang kantor dengan mengenakan baju tidur dan membawa plastik belanja bulanan sambil nongkrong sebentar di burger king plaza semanggi.
Yah, saya memang selalu berusaha untuk tak pernah melepas tangannya ketika berjalan. Memang ada kalanya saya lupa dan membiarkan tangan saya bebas, tapi biasanya tak pernah lama. Jika kebetulan saya berjalan didepannya, saya akan mengulurkan tangan kebelakang dan menunggu tangannya menggenggam tangan saya. Jika saya berjalan di belakangnya, maka saya akan memintanya untuk menggenggam tangan saya dan tak akan mulai berjalan sampai ia menggenggamnya. Mungkin sebagian orang akan mengatakan hal seperti itu terlalu repot. Tapi bagi saya, itu adalah salah satu cara untuk terus memelihara rasa sayang dan cinta saya pada suami. Itu salah satu cara untuk menunjukkan pada dunia bahwa saya bahagia bersamanya.
Kami juga tak pernah melupakan bercanda. Bukan berarti kami selalu bercanda tentang hubungan kami. Tapi daripada diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing – seperti yang kadang sering dilakukan beberapa pasangan lainnya, kami sering melakukan hal-hal yang ajaib dan kadang konyol hanya untuk memancing salah satu dari kami agar tertawa saat jalanan sedang macet parah. Suami saya punya bakat alam bahwa ia tak perlu memancing tawa saya dengan joke-joke apapun, tapi cukup hanya dengan gerakan atau ucapan tak sengajanya saja. Biasanya gerakan anehnya yang spontan sudah berhasil mengundang tawa saya. Atau ucapan aneh lain yang keluar begitu saja dari bibirnya. Sementara saya, perlu usaha lebih dengan melakukan hal-hal kreatif untuk membuatnya menarik garis bibirnya ke atas.
Kadang saya hanya memberikannya teka teki garing. Namun tak jarang saya akan bertingkah aneh menirukan beberapa binatang sambil menghadap kearahnya. Gaya favorit saya adalah simpanse mode:on. Suami saya paling tak tahan jika sudah melihat saya memasang pose seperti itu. Ia akan tertawa dan langsung memalingkan mukanya setelah itu. Ngeri liat monyet, katanya. Tapi tentu saja itu tak pernah membuat saya berhenti melakukannya. Pernah suatu kali ia menggendong saya didepan tubuhnya, dan secara mendadak saya berpose dan berlaku seperti simpanse. Reaksi suami, terbahak tentu saja dan langsung memelorotkan gendongannya. Ia tak ingin melihat pose konyol saya itu berlama-lama.
Jika dulu kami sering menekuk muka jika bokek saat weekend, maka saat ini kami lebih sering melakukan hal-hal spontan untuk mengatasi kebosanan kami. Hal yang paling sering dan memungkinkan tentu saja jalan-jalan. Tapi jalan-jalan kami kali ini tanpa tujuan. Hanya jalan saja. Kemana kaki kami mau melangkah, tanpa berniat singgah dimanapun. Pernah satu kali malam minggu sebelum jadwal gajian, dan kami harus irit sampai gajian tiba. Tentu saja tak ada budget untuk jalan, apalagi makan. Tapi mau diam dirumah saja juga rasanya malas sekali. Jadi kami memutuskan keluar dan berkeliling jakarta dengan busway. Kami naik dari halte kuningan madya, turun di dukuh atas, naik ke arah kota, transit di harmoni, antri di koridor menuju pulogadung, turun di senen, lanjut ke matraman, dan menuju dukuh atas lagi untuk antri kembali di koridor menuju ragunan. Hanya begitu saja. Berkeliling melihat jakarta sambil bercerita tentang banyak hal.
Kalau dulu nonton midnite sering membuat saya merasa tak enak hati karena harus pulang malam dan membiarkan suami saya pulang kerumah tengah malam dengan harap-harap cemas, kini nonton midnite dengannya tak lagi menjadi masalah. Menjadi suami istri artinya kami bebas pulang jam berapapun. Tak lagi risih jika ditanyai orang yang kebetulan melintas, dan jauh lebih bebas mengekspresikan perasaan kami saat saling menggenggam tangan atau menyenderkan kepala saya di bahunya saat nonton atau karena ac bioskop yang terlalu dingin.
Pun saat ingin sekali makan tapi tidak tersedia cukup uang dikantong. Biasanya saya punya keinginan untuk makan yang sangat susah sekali untuk dikendalikan. Sering datangnya tanpa direncanakan dengan baik sebelumnya. Artinya, sering sekali saya tiba-tiba ingin makan sesuatu sementara kantong sedang bokek. Jadi jika sudah begitu, saya dan suami biasanya menyiasatinya dengan berburu makanan murah. Contoh, jika saya sedang ingin makan makanan berkuah. Ada bakso yang memang enak banget, tapi mahal dan isinya dikit bow! Kami tidak akan meliriknya, dan akan terus melangkah ke warteg yang kami tau soto ayamnya enak banget dan murah, plus bisa nambah tempe kering sampe 4 biji lagi!
Jika perut sudah lapar tapi rasanya masih sayang banget membelanjakan uang karena beberapa jam lagi sudah waktunya jam makan besar, yang akan menjadi sasaran kami berikutnya adalah tukang gorengan. Beli ubi, tempe, tahu, dan pisang goreng, dan dimakan berdua, rasanya sudah cukup untuk mengganjal perut yang bahkan tanpa kami sadari sering bertahan lebih lama dari yang kami harapkan.
Hehehe, sungguh bukan karena pelit. Hanya saja ketika keadaan sedang tidak memungkinkan, tentu saja kami harus berpikir cerdas untuk menyelamatkan kantong kami tapi tidak mengorbankan perut kami sendiri.
Beruntunglah plaza semanggi punya satu gerai didalam giant yang khusus menjual mainan dan makanan zaman dahulu kala. Jadi ketika suatu waktu kami mendapati monopoli tanpa pikir panjang kami langsung membelinya, walaupun dihargai 17 ribu rupiah. Padahal dulu tentu saja gak sampai segitu ya? Dan monopoli inilah yang kadang menolong kami jika kami diserang rasa bosan ngapa-ngapain saat dirumah. Main dan mengocok dadu, sambil berteriak-teriak karena berhasil membangun hotel dan memblokade sebuah wilayah adalah sebuah kesenangan tersendiri yang sudah sedikit susah didapat untuk saat ini.
Dan akan saya katakan pada kalian, bahwa saya tak pernah melupakan untuk memeluk dan mencium suami saya saat akan berpisah. Jika dirumah saya akan memeluknya erat dan memintanya mencium saya. Jika diluar rumah, saya akan merangkulnya dan menyalim tangannya. Tentu saja sedikit ribet untuk memberinya ciuman diluar. Yang ada bisa-bisa kena pasal tindakan asusila.
Tak pernah absen bilang I Love You atau Aku Sayang Kamu pada setiap kesempatan. I really do! Saya mengatakannya dalam sms, dalam telepon, saat akan berangkat kerja, saat akan tidur, saat bangun tidur, bahkan saat tak ada kerjaan dan hanya memandanginya. Saya mengucapkannya dan tak akan berhenti sampai ia mengucapkan hal yang sama pada saya.
Tentu saja, saya tak akan menunggunya untuk berbuat terlebih dahulu baru saya berbuat hal yang sama. Saya percaya cinta adalah bagaimana kita memperlakukan orang yang kita kasihi dengan perlakuan yang terbaik. Cinta adalah bagaimana soal membuat orang yang kita sayangi bernapas dengan nyaman saat berada bersama kita. Bahwa cinta adalah hal yang harus kita tunjukkan dan katakan pada orang yang kita cintai, karena akan kejam sekali rasanya jika kita tak pernah membiarkannya tau betapa kita mencintai mereka. Cinta adalah soal membuat seseorang yang kita pilih untuk bersama kita selama sisa hidup kita selalu tersenyum dalam keadaan apapun.
Memang saya dan suami tak pernah tau apa yang terjadi. Kami baru menikah. Orang-orang pasti akan bilang, wajar saja jika mereka masih hot-hotnya. Sebentar lagi ketika sudah punya anak juga pasti akan berubah. Tapi saya dan suami juga punya pilihan untuk memilih. Dan kami berdua sudah memilih untuk tidak pernah meninggalkan romantisme pacaran kami dalam kehidupan rumah tangga kami. Untuk saat ini, dan mudah-mudahan juga nanti dimasa depan, saat kami diberi kepercayaan oleh Allah untuk mendidik bayi-bayi kecil kami.
Oh ya, apa saya sudah bilang pada kalian, bahwa suami saya masih selalu deg-degan jika berada didekat saya atau saat sedang memeluk saya, sama seperti pertama kali ia mencium saya dulu……