How My Marriage Life is, Today….

“Marriage is about two flawed people making each other better…

And with us a lot of the time, we make ourselves better by fighting.” 

Cupcake baker and small business owner Allison Robicelli, on working (and arguing) with her husband.

Kenalan, masa pendekatan, menikah, punya anak, menjadi orang tua, fase paruh baya, menjadi orang tua, lantas menutup mata. Mungkin itulah sebagian besar fase yang akan kita semua jalani setelah masing-masing kita menikah dan memiliki keluarga sendiri.

Banyak pasangan yang saya rasa mengawali pernikahannya dengan impian melambung awan bahwa hidup dan cinta mereka akan selalu baik-baik saja, even better. Bahwa romansa mereka akan terus berkembang seperti saat mereka dilenakan oleh kata-kata manis saat terhanyut cinta masa muda.

Tapi entah kenapa, pelan-pelan…., lewat rutinitas dan sentuhan cinta yang mulai menguap dan menguap, segala romantisme cinta yang dulu selalu digembar-gemborkan seolah menjadi tidak penting lagi. Hidup menikah mendadak berubah menjadi kegiatan rutinitas untuk bangun, kerja cari nafkah untuk keluarga, pulang, nonton tv – baca koran, nonton bola, beresin rumah, dan tidur. Sering kali suami masih nonton bola saat istri sudah masuk kamar. Atau…., istri yang misuh-misuh lantas dengan gaya ABG labil posting status di facebook atau twitter mengisahkan kekesalannya tentang sang suami yang selalu pulang malam lah, atau tak pernah perhatian padanya. Ada juga suami yang jadi lebih suka mantengin teman-teman perempuan di Facebooknya dan tak peduli dengan betapa galaunya hati sang istri mengetahui tingkahnya itu.

Dalam beberapa pandangan mata saya, banyak sekali pasangan yang menjadikan pernikahannya menjadi sekedar kewajiban. Bahwa ritual yang seharusnya paling indah antara suami istri yang sudah halal pun hanya sekedar memenuhi kebutuhan biologis saja. Bahkan untuk mencium, memeluk dan bergandengan tangan pun sudah jarang terlihat hanya karena alasan klise; malu kalau terlihat anak-anak.

Saya menyadari saya juga bukan istri sempurna, tapi saya selalu berusaha menjadi yang terbaik untuknya. Pernikahan kami yang seiring waktu terus berjalan bukan hanya kewajiban semata, tapi juga sebuah kesenangan. Kebetulan saya punya suami yang tak begitu piawai menyampaikan rasanya lewat kata-kata, dan saya justru kebalikannya. Saya begitu rajin menggombalinya dengan berbagai kata rayuan yang tak pernah saya tau darimana datangnya. Saya kerap bertingkah lucu hanya untuk memancing senyumnya yang bagai anak kucing itu. Hal yang tak pernah saya lakukan saat pacaran. Bahkan saya kerap berbicara padanya dengan mimik dan suara bayi demi mendapatkan perhatiannya J

Kami bermimpi, bekerja, bermain, dan merencanakan banyak hal bersama. Saya pribadi sangat sulit rasanya untuk melakukan banyak hal tanpa dia disisi saya. Bukan karena saya manjaan atau tidak mandiri, tapi karena menurut saya, menikah bukan untuk berjauh-jauhan. menikah bukan untuk melakukan hal sendiri-sendiri. Tapi menikah menyatukan dua potensi dan jiwa untuk sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat.

Saat ini, saya bisa katakan, bahwa pernikahan membentuk karakter lebih baik dari masing-masing kami. Lewat tawa, candaan, sentuhan sayang, kata-kata cinta, bahkan terkadang teriakan marah, tangisan, cubitan kesal, atau aksi ngambek, semuanya selalu membuat kami menjadi pribadi pasangan lebih baik setelahnya. Paling tidak lebih baik bagi masing-masing kami satu sama lain.

After all, we both just an ordinary couple who always wants to be an extraordinary person for each other.

My Best Friend Ever

“You’re more than a lover
There could never be another
To make me feel the way you do
Oh we just get closer
I fall in love all over
Everytime I look at you
I don’t know where I’d be
Without you here with me
Life with you makes perfect sense
You’re my best friend”

Saya menyenandungkan lirik Tim McGraw diatas saat duduk bersama suami saya dimeja bulat ruang tamu apartment kami sambil menghadap laptop masing-masing. Yes, we’re both still working malam ini, meski waktu sudah hampir menjelang pukul 11 malam. Lalu, tiba-tiba saja dia membalas dengan senandung;

“Come fly with me. Come fly with me.”

Yeah, you guys please meet my best friend a.ka my husband.

Kenapa saya katakan best friend? Karena bagi saya, dirinya memang bukan sekedar seorang pencinta. Suami saya dimata saya adalah suami, pencinta, sahabat, mentor, kakak, dll.

Dia membuat saya selalu nyaman dengan diri saya apa adanya. Untuk mengatakan apapun, dan bertindak apapun. Tidak ada yang pura-pura. Just be me.

Well, saya tak tahu harus mulai dari mana untuk menceritakan sahabat terbaik yang satu ini. Tapi sejak saya memutuskan ingin berhubungan serius dengan seseorang, maka saya punya satu kategori yang mutlak harus ada dalam diri sosok itu, yaitu bagaimana dia menggunakan otaknya dengan ‘sebenar-benarnya’. Dan beruntunglah saya, memiliki Oho sebagai sosok itu. Dia telah membuat saya langsung jatuh cinta pada kali pertama hanya dengan berbagi sedikit dari pengetahuan sejarah yang dia punya saat kami nonton film ‘Merah Putih’ tahun 2009 lalu.

And next, we just keep on bringing out the best of us. Together.

Dia pintar. Cerdas. Saya tak tau pasti apa dua kata ini sama saja atau berbeda :)

Dan yah, kami selalu berbagi satu sama lain. Setiap hari, entah soal pekerjaan, perasaan, isi dompet :) , keinginan, dan banyak lagi. He simply enriches me. You know, selalu menyenangkan rasanya punya partner yang bisa diajak berbagi dan diskusi apapun, dimanapun.

Oho, suami saya itu paling suka berbicara tentang sejarah (apapun), financial, gadget dan investasi. Sementara saya sangat senang membicarakan sosial, hukum, masakan, pariwisata, dan alam. Dan kami sama sama menyukai buku, walau dengan topik yang berbeda.  Oho suka film sejarah dan fiksi ilmiah, sementara saya suka drama. Oho suka Frank Sinatra, dan saya suka semua penyanyi country. Saya belajar banyak mengenai sejarah, finansial dan investasi dari dia, sama seperti dia banyak sharing mengenai human resource atau hukum dengan saya.

Kami juga selalu berbagi tawa, entah dijalan, saat makan, bahkan saat-saat paling konyol sekalipun, entah saat dia lagi ngupil atau salah satu diantara kami buang angin disembarang tempat :) (Sorry……………………..)

Dan yang paling penting, kami membagi mimpi kami, membicarakannya, dan berdoa untuk mimpi itu.

Oho juga lucu. Sangat. Konyol. Dia selalu tau bagaimana membuat saya tertawa. Bahkan ketika dia tidak melakukan apa-apa sama sekali. Meskipun kadang dia juga menjengkelkan. Suka ngomel. Suka panik. Suka lupa. But that’s the reason why God put me in his life, rite?

He’s my best friend. Ever. Dan cuma dia yang selalu bisa membuat saya jatuh cinta dalam keadaan apapun tanpa harus kehilangan akal sehat saya. Atau…apa jangan-jangan saya sebenarnya tengah kehilangan akal sehat saya saat menuliskan ini? :)

ImageBut to you my best friend, I Love You….

Bahagia itu sederhana….

Dulu saat masih kecil, saya sering berkhayal bahwa saya baru akan bahagia jika saya punya rumah besar bertingkat yang lebar dengan furniture yang mewah. Saya baru akan bahagian, jika saya punya baju baju bagus yang saya lihat di etalase toko, atau jika saya punya gadget tercanggih yang baru keluar, fresh from the oven. Semua jika-jika itu cukup bikin saya lost waktu itu, dan merasa tak bahagia dengan apa yang saya punya. Sayangnya, ‘jika-jika’ itu masih saja ngintilin saya bahkan hingga saat saya kuliah. Kalau saat ini? Mmmm…., sekarang sih hanya selingan sesaat saja, yang gak terlalu diambil hati.

Tapi sekarang, saya sudah lebih mengerti, bahwa untuk bahagia itu sederhana saja. Gak butuh semua yang saya angan-angankan sebelumnya untuk bahagia. Hanya butuh hati saya yang berlapang dada untuk semua yang saya alami.

Setelah menikah, saya semakin menyadari, saya sudah punya nyaris ‘semuanya’. Dan apa alasan saya untuk tidak bahagia? Hanya dengan melihat suami saya yang tertidur dengan caranya yang lucu dan menggemaskan yang saya abadikan dalam kamera saya selalu bisa menciptakan senyum saya. Saya tak butuh liburan mewah keluar negeri hanya untuk mencecap bahagia. Cukup bersama dia, sambil makan kacang garuda, dan nonton film horor, cukup sudah. Itu, setidaknya salah satu bahagia yang saya punya, dan percayalah saya masih punya banyak koleksi saat bahagia lainnya.

Nah, ketika melihat orang yang kurang beruntung diluaran sana, mata saya jadi terbuka lebih lebar. Suatu sore di akhir minggu, saya pernah melihat seorang bapak pemulung dan anak lelakinya yang masih kecil. Mereka berdua sedang duduk dan beristirahat dihalte perdatam, kalibata. Sang bapak terlihat tengah menjahit sendal jepit anaknya yang putus dengan tali rafia. Dan bagi saya yang sentimentil ini, moment itu sangat lebih dari cukup untuk membuat cengeng saya naik ke permukaan. Tapi tidak bagi mereka, alih alih sedih karena tak bisa membeli sendal baru, sang bocah justru bercanda dan tertawa bersama bapaknya, sama sekali tak menunjukkan, ‘ugh….kenapa aku gak bisa pake sendal bagus seperti yang lain’. Mereka tertawa berdua tanpa mempedulikan orang lain yang sedang menunggu angkutan umum. Dan saya bisa lihat bocah itu bahagia dengan kasih sayang dari bapaknya, walau hanya lewat jahitan tali rafia untuk sendalnya yang putus.

Sudahkah kita merasa bahagia hari ini? 

Ketika Nenek pergi untuk selamanya….

6 Oktober 2012, 12.54 PM, ini jam ketika mama sms mengabari bahwa nenek sakit dan gak bisa dibangunkan. Seperti yang sudah-sudah saya sms kembali dan menyarankan mama untuk menunggui nenek siapa tau kenapa-napa (walau rasanya sudah ketar ketir). Sampai akhirnya saya telepon dan mama bilang seluruh tubuh nenek sudah dingin semua, kecuali lehernya yang masih hangat. Saya mencoba meminta mama untuk cepat membawa mama ke rumah sakit, karena sebelumnya mama cerita dokter sempat datang untuk ngecek dan benar saja, tensi darah nenek naik 210/100. Tinggi sekali.

Telepon putus sambung terus. Sampai akhirnya mama cerita kalau nenek ngorok keras 3 kali saat terakhirnya. Deg! Entah kenapa saya merasa nenek mungkin sudah pergi. Tapi mama masih percaya nenek masih ada, karena lehernya masih hangat. Kami sudah bertangisan. Di ujung telepon, mama yang terus memanggil membangunkan nenek bahkan sudah sesenggukan. Samar-samar saya denger “Mak’e bangun Mak. Bangun Mak”.

Telepon terputus lagi. Pada detik ketika saya bermohon kepada Allah untuk memberikan kesempatan kami berkumpul dengan nenek, agar nenek sehat dan bangun lagi, detik itu pula saya merasa nenek sudah pergi meninggalkan kami. Saya telepon lagi, dan benar saja, mama mengabarkan kalo nenek sudah gak ada. Nenek sudah pergi ketika beliau ngorok keras untuk terakhir kalinya tadi.

Tidak perlu saya katakan seperti apa tangis yang pecah mendengar kabar duka tersebut. Dunia saya seperti diam. Seolah ini hanya mimpi, besok terbangun dan bisa mendengar suara nenek lagi. Tapi ini bukan mimpi. Ini sungguh terjadi. Saya sudah gak punya nenek lagi. Nenek terakhir yang saya punya, yang sebelumnya saya masih sempat bilang suatu ketika kita akan cari kakak nenek yang masih tinggal di banyumas ya.

Nenek, sungguh sosok yang sangat unik. Beliau sangat mandiri. Meski sudah tua dan sederhana, nenek gak pernah mau ngerepotin orang lain. Nenek bukan tipikal orang tua yang pandai memanfaatkan keadaannya supaya mendapatkan perhatian. Di usia 82 terakhir ini pun nenek gak pernah mau dicucikan bajunya. Meski mama sudah merendam baju untuk dicuci, pagi-pagi buta setelah shubuh, nenek pasti ngambilin bajunya untuk dicuci sendiri. Ngurus ladang sawahnya juga masih sendiri. Pokoknya, Nenek sangat mandiri. Bahkan disaat terakhirnya, Nenek lagi-lagi tak ingin merepotkan anak cucunya. Nenek pergi dengan tenang dan dalam diam. Tanpa drama ketakutan akan kematian itu sendiri.

Pun dalam hal perhatian, nenek sesungguhnya sangat penyayang. Dulu saat masih berusia belasan tahun, saya kurang pas menanggapi bentuk perhatian nenek. Saya berpikir nenek yang kerap mengomel memang sebel sama saya. Tapi semuanya justru karena nenek sayang pada saya. Saya masih ingat saat sakit cacar saat masih SMA kelas 1, nenek yang jemput saya pulang dan merawat saya 10 hari (karena mama jauh di Riau). Selama itu, nenek yang kerap menjaga makan saya. Nenek yang selalu menyiapkan air tajin sisa beras untuk mandi saya, supaya cacarnya gak berbekas. Saat saya sakit demam tinggi, nenek yang berjaga sepanjang malam, menyelimuti saya sambil terus bergumam;”kepalanya panas, kakinya dingin” dalam bahasa jawa yang berulang-ulang. Saat malam pengumuman SPMB, saya yang tidur bareng dengan nenek ditelpon salah seorang om, mengabarkan saya lulus SPMB dan diterima di Hukum Andalas Padang. Saya cerita ke nenek, jam 12 malam itu dan nenek hanya menanggapi dengan sedih. “Jauh sekali”, katanya. “Gimana kalau nanti nenek udah gak ada?”. Insyaallah gak jauh nek. Nenek pokoknya sehat-sehat ya”. Kata sayadulu menghiburnya. Saat penelitian skripsi dan saya dan adik mengalami tabrakan motor, kami sengaja gak bilang ke nenek soal itu. Tapi sore hari pas pulang nenek yang diberi tahu tetangga sudah sibuk. Saat itu nenek sangat mengkhawatirkan keadaan cucunya. Dan beliau memaksa untuk memijit kami supaya gak kenapa kenapa kalau ada urat yang terkilir. Alhamdullillah, nenek masih sempat melihat saya menikah. Dan lebaran tahun 2011 kemarin ternyata jadi lebaran terakhir saya. Sungguh ada perasaan menyesal ketika tidak bisa pulang lebaran tahun ini karena saya harus ke Jawa =_=

Nenek yang lucu, Nenek yang perhatian, sekarang sudah gak ada dirumah marelan lagi. Nenek udah pergi. Maafin Ika ya nek, kalau dulu sering sekali melawan. Semoga nenek damai dan tenang dirumah baru. Semoga nenek mendapat tempat terbaik disisi Allah. Semoga nenek senang disana. I love you Nek, forever……..

Image

Sungguh tak cukup kata-kata yang bisa saya tuliskan. Karena mulai saat ini, setiap saya kangen, yang bisa saya lakukan hanyalah memandangi fotonya atau menjenguk makamnya kelak. Tidurlah nyenyak, Nek. Semoga damai disana, jauh dari kesusahan dunia. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un.

What’s for breakfast?

Well, morning guys….!

Howdy? Just wish you all fine wherever you are and whatever you do. Pagi yang terlalu indah untuk dilewatkan dengan setumpuk keluh kesah. Jadi saya tak akan mengatakan apapun. Saya hanya ingin mem-post sesuatu yang menarik dari seorang Ursula K.Le Guin bahwa;

“Cinta tidak diam membisu saja seperti batu; cinta, seperti halnya roti, mesti dibuat dan dibuat lagi berulang kali dan diperbaharui”

Well, hari ini singkirkan keluh kesah terhadap pasangan dan mari memperbaharui cinta.Caranya, diri anda sendiri pastinya lebih tau. Tapi semangkuk bubur soto ayam dan secangkir kopi rasanya akan jadi sarapan yang pas untuk saya dan suami pagi ini. Saya harap dia selalu tau, bahwa cinta saya tak pernah berhenti tumbuh bahkan disaat-saat terburuk sekalipun.

With love….

Dikit-dikit nangis…., dikit-dikit nangis…

Kalimat diatas memang cukup menggambarkan kelakuan saya untuk setiap hal yg bagi saya cukup “menyentuh”.

Setiap kali melihat adegan sedih dalam film (bahkan film paling norak sekalipun), membaca kalimat yg menyentuh, menyanyikan lagu yang membangkitkan memory saya,melihat bapak2 dan ibu2 tua dijalan, membaca tulisan dalam buku atau dimana saja, mampu membuat saya meneteskan air mata yg sungguh tak bisa saya tahan (sumpah,mati2an saya kerap berusaha menahannya,tapi nol besar hasilnya). Pokoknya setiap touching momentlah,apapun itu,seremeh apapun,bisa membuat saya jadi sangat cengeng sekali.

Lalu, saya ingat dulu saat kecil. Saya ingat dulu saya tak pernah menangis. Tak peduli seburuk apapun keadaannya.
Waktu itu saya tinggal jauh dari orang tua saya, terpisah provinsi.
Saya hanya tinggal dengan atok,nenek,dan saudara2 papa.
Saat atok masih ada, saya gak pernah merasa asing.namun saat atok harus pergi selamanya saat saya kelas 4 SD, semua terasa berubah. Waktu jenazah atok dibawa kerumah saya adalah cucu yg tak menangis. Saat kepala kecil saya ditempeleng seorang om gara2 kesalahan seorang sepupu yg hendak ditutupi, saya juga tak menangis. Saya hanya masuk kamar, menutup muka dan berharap saya bisa kuat sampai saya besar nanti. Saat saya kerap disuruh cuci piring saat keluarga besar kumpul dan setelahnya mojok disudut hanya menatap kosong saya juga tak pernah menangis, saat saya didiemin tante hanya karena saya tak ingin mencuci piring saat berkunjung kerumah mereka dan selanjutnya juga tak diajak untuk acara kumpul bareng, saya hanya diam.

Saya melihat papa memperlakukan mama dengan tak pantas lewat mata kecil saya, saya tak juga menangis. Saat kelas 1 SMP saya melihat papa mengamuk dan menghancurkan banyak “hal”,  saya pun mengeras. Dan masih banyak saat2 lainnya yg entah bagaimana bisa saya lalui tanpa air mata.

Entah bagaimana, setamat kuliah dan bekerja saya jadi sangat cengeng. Gampang sekali menangis. Hal paling remeh yg menyentuh sekalipun dapat membuat dada saya sesak tak karuan. Saya tak paham psikologi kejiwaan. Saya hanya merasa terlalu banyak beban yg saya tahan dimasa kecil, yg tak pernah berani saya keluarkan karena saya takut, orang2 akan memarahi saya. Saya bahkan baru berani menangis didepan mama saat saya menikah karena tak tahan dengan beban waktu itu yg terlalu menggila.

Sekarang saya jadi begitu mudah nangis dan jatuh iba mungkin karena saya sudah merasa secure dan punya ruang untuk menangis tanpa takut dimarahi. Sekarang saya tak merasa takut mengeluarkan airmata saya untuk sesuatu paling “silly” sekalipun.

Entah, mungkin waktu itu saya memang takut dan merasa sendiri. Saya takut jika saya menangis, orang-orang akan menjadi marah pada saya. Kelak, jika saya punya anak, saya akan berusaha memberikan perlindungan hati dan mental untuk mereka ataupun anak-anak kecil lain yang berada disekitar saya.