Thank God

Finally, masalah dengan calon ibu mertua akhirnya selesai juga. Kuncinya, harus banyak sabar. Menjelang pernikahan kata orang adaaa…………….. aja hambatannya. Jadi sabar, tenang, jangan ceroboh, insyaallah semuanya bisa dilewati.

Fuh, lumayan bisa napas lega sekarang.

Eits, printilan kawinan masih belum kelar semua. Selesai-in dulu ah…..

Yuk, babay….

Theme, Wedding Day (Part 2)

Kembali dari acara pernikahan di Pandeglang itu, kami menuju tempat selanjutnya. Grand Wedding Expo yang diadakan di JCC Senayan. Sempat hamper tak jadi masuk karena melihat tarif masuk yang dibandrol 10.000/orang. Hehehe, I know what’s on your mind. What a stingy man! But, forget it. Karena selanjutnya kita tetap membeli tiket masuk itu. Dan petualangan didunia pernikahan pun dimulai.

Mata dan hati kami jatuh pada stand Richard Costume Design. Bermula dari Oho yang tiba-tiba berhenti dan memandangi jejeran jas yang dipajang di stand mereka. Tingkahnya tentu saja membuat SPB mereka mengundang kami untuk duduk. Meski sudah saya ingatkan bahwa kita tidak akan membeli apapun ditempat ini, pada akhirnya kami tetap ikut duduk dan mendengarkan ocehan SPB tersebut.

But wait, it’s not so bad anyway. Mereka punya bahan yang bagus, SPB yang ramah, desain yang indah, serta promo yang menarik. Hemat sampai 2.600.000! belum lagi mereka menawarkan sepatu Yongki Komaladi gratis, asli dari butiknya! So….kita berhenti disana untuk waktu yang sedikit lama. Melihat-lihat, bertanya-tanya, dan mengira-ngira.

Akhirnya kita sepakat untuk jalan lagi. Melihat-lihat yang lain lagi. Sepanjang jalan kita berdua sibuk disodori brosur. Ya iyalah, orang lagi pameran ini kan ya J  ada bridal, photografer, catering. Icip-icip makanan, lihat-lihat baju, lihat-lihat portofolio, dan sibuk menghitung-hitung berapa duit yang harus diatur untuk membayar DP hari ini.

Setelah berjalan kesana kemari, icip makanan disana sini, dan bertanya sana sini, kami menukar coca cola gratis seperti yang dijanjikan di tiket. Calon saya ini memang seseorang yang tak mau rugi. Apa yang dijanjikan harus didapatkanya. Nah, kebetulan jam 5 sore itu ada prosesi pernikahan adat palembang. Akhirnya kami duduk sebentar melihat-lihat sambil menghitung berapa duit yang harus kami keluarkan lagi, hehe.

Sambil menunggu kami sibuk mencoret-coret kertas. Menghitung pengeluaran sana sini. Dan akhirnya sepakat membayar DP untuk seperangkat jas dari Koh Richard. Dan prosesi adat yang kami nanti pun dimulai.

Ya tuhan…pakaiannya indah-indah. Adatnya juga menawan hati. Semuanya seperti tengah memporak-porandakan komitmen saya untuk melangsungkan pernikahan yang sederhana saja. Saya terpesona dengan keindahan adat mereka. Dan ujung-ujungnya setelah selesai acara saya merengek pada si gembul di sebelah saya. Saya ingin prosesi adat juga L

Dan sekarang, kita tengah sibuk membongkar pasang detik acara pernikahan kita nantinya. Saya tetep ingin yang sederhana. Tapi saya ingin memasukkan unsur heritage didalanya. Gak salah tha?

Theme, Wedding Day (Part 1)

Hmmm….facebook kantor sekarang dibanned. Artinya, posting status selama dikantor harus pending nunggu pulang kerumah dulu. Anyway, it doesn’t matter sih. Hitung-hitung ternyata ada hikmahnya juga. Saya bisa jadi lebih intens menulis panjang untuk blog yang selama ini telah saya tinggalkan karena tergoda rayuan pesbuk.

So…, setelah bersedih-sedih lewat posting terakhir, kali ini saya ingin bercerita tentang sesuatu yang indah. Sesuatu yang bernama pernikahan. Sabtu kemarin, tepatnya 30 januari 2010, teman dari calon suami saya melangsungkan pernikahannya di Pandeglang. Jadi beramai-ramailah kami kesana guna melihat hajatan teman kami tersebut.

Perjalanan yang cukup memakan banyak waktu dan uang – gak tau kenapa, bisa over budget – itu akhirnya berakhir saat kami tiba. Kebetulan saat itu akad nikahnya sudah selesai dan sedang berlangsung upacara adapt sunda. Jika beberapa teman saya yang lain memilih untuk antri bersalaman dulu baru makan, maka Oho, calon suami saya itu lebih memilih menyikat makanan terlebih dahulu baru bersalam ria.

Dan saya, saya memang mengikuti tingkahnya yang menginspeksi makanan terlebih dahulu. Daripada ntar antri salaman lama, ntar ngantri makan juga lama, mendingan saya makan dulu mumpung orang-orang rame sedang antri bersalaman. Tapi sambil makan saya mengamati keseluruhan pesta itu. Dekorasinya, hiburannya, makanannya, penjaga-penjaga makanannya, dan..apa lagi ya….oh ya, upacara adatnya.

Sesuatu mulai mengusik pikiran saya. Akan seperti apa perhelatan pernikahan saya nanti – yang sampai sekarang masih bingung dengan konsepnya. Saya hanya ingin pernikahan yang sederhana, hikmat, dan membumi. Bergembira, tanpa melupakan orang-orang papa disekitar. Sempat saya lihat beberapa anak kecil disekitar lokasi pesta yang melirik-lirik kue-kue yang ada di tangan tamu. Saya tidak ingin ada yang seperti itu saat saya menikah nanti.

Tentu saja saya bukan ingin mengatakan kalau teman yang menikah ini tak peduli dengan orang sekitar. Saya menuliskan ini hanya untuk diri saya sendiri. Dan setelah menulis ini, entah mengapa saya terus berpikir, kenapa sekarang ini saya tak lagi menyukai cara menulis saya yang seperti tumpul, lama tak diasah.

Dengarkan saya…..

Saya terkejut malam itu. Atau mungkin lebih tepat dikatakan shock. Bahwa apa yang selama ini saya pikirkan ternyata tak ada benarnya. Selama ini saya berpikir bahwa ibu dari calon suami saya bersikap baik-baik saja pada saya. Bahwa setiap kali saya ingin mampir kerumah dan berbicara tentang rencana pernikahan kami, dan ia selalu menolak, memang karena ia sedang tidak bisa menemui saya.

Tapi sebuah kenyataan seolah mencakar saya tepat di kening. Bahwa ternyata ia lebih menginginkan seorang calon menantu yang berasal dari suku jawa dibandingkan calon menantu yang memiliki marga dibelakang namanya. Kenyataan yang tak hanya membuat saya terpakuTapi juga menangis diam-diam disamping calon suami saya yang juga tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Ia meminta putra sulungnya itu untuk berpikir matang-matang lagi, ditengah-tengah persiapan pernikahan yang telah kami lakukan. Memintanya untuk memikirkan masak-masak agar tidak menyesal kemudian. Bahwa alas an keberatannya adalah karena saya memiliki banyak saudara, yang mana sebenarnya cuma bertiga. Akan ada banyak tanggungan, alasannya.

Demi tuhan, saya tak pernah ingin menikah karena ingin menumpangkan beban adik-adik saya kepada calon suami saya. Lagipula masing-masing mereka telah duduk dibangku kuliah. Adik kedua saya bahkan sudah hampir lulus. Dan seumur hidup, kami telah diajarkan untuk mandiri. Untuk tidak berharap pertolongan jika kami masih mampu melakukannya.

Tapi calon ibu mertua saya itu menganggap keberadaan adik-adik saya itu sebagai hal yang patut dicemaskan. Ketika lelaki  saya itu menjelaskan duduk perkaranya, saya berpikir masalahnya hanya sampai disitu. Tapi ternyata beliau memiliki persediaan masalah lainnya. Nama saya yang bermarga!

Saya memang perempuan yang mengenakan marga dibelakang nama saya. Karena memang begitulah adat batak dalam pemakaian nama. Menyandang nama belakang ayahnya. Tapi yang tidak saya habis pikir, beliau ternyata menganggap itu terlalu berat. Beliau berpikir bahwa putranya kelak harus membeli nama. Harus memberi banyak hal. Yang mana artinya akan menghabiskan banyak biaya. Padahal, sama sekali tak pernah terbetik dalam pikiran saya tentang hal itu. Tidak pernah! Dan sekali lagi, beliau mengatakan untuk berpikir lebih matang lagi sebelum memutuskan.

Air mata saya terus jatuh. Seperti hati yang mulai berderai. Saya tak pernah meminta lebih. Saya tak meminta harta. Saya hana butuh seseorang yang akan selalu berdiri bersama saya dalam keadaan apapun. Yang memiliki cinta untuk dibagi kepada keluarga saya, tanpa harus menghapus cinta yang telah dimiliki oleh orang-orang terdekatnya.

Saya tentu tidak akan gegabah. Bersikap terburu-buru. Langsung memutuskan hubungan saya. Saya masih ingin menunggu. Semoga Allah memudahkan jalan kami berdua. Satu hal yang kali ini mulai saya ingat-ingat dalam hati, bahwa nanti….ketika saya menjadi ibu dan tiba masanya putra saya meminta restu saya untuk pilihan hidupnya, saya tidak akan pernah membuat calon menantu saya kelak merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan saat ini.

Tentang langit…

Langitku hari ini kelabu. Yah, sebagian besar memang karena musim penghujan telah memasuki masanya. Tapi, sesuatu yang lebih besar tengah mencengkram hatiku. Menelisik, seolah menguliti, apakah kisahku akan berakhir senyum, atau justru bersimbah air mata lagi.

Kurasa, aku takkan siap untuk sakit yang kesekian lagi. Tak siap untuk rasa hati yang entah. Permintaanku hanyalah sederhana saja. Cintai aku dengan seluruh hatimu. Itu saja. Tak kan kuminta kau membawakanku harta yang menggelimangi sudut ruangmu. Aku hanya berharap tulus cinta dari hatimu.

Jika ku boleh berkisah pada langit, ku mohon teranglah. Agar hati ini bisa sedikit lega dengan warna langitmu.

Pada suatu masa, kisah cinta ini pernah tercipta (part 4)

Hingga, saat itu, mungkin sekitar tanggal 25 oktober, ia berwacana tentang sesuatu hal, pernikahan. Yang tak butuh waktu lama baginya untuk berbusa-busa menjelaskan, langsung diiyakan sang pria. Toh, ia memang menginginkan gadis itu, untuk apa lagi menunggu waktu hingga 2011 seperti yang pernah menjadi obrolan sambil lalu mereka.

Dan begitulah. Mereka sudah sepakat untuk meresmikan ikatan cinta mereka. Awal tahun depan, begitulah niatan mereka. Hanya saja, masalah ternyata tak berhenti sampai disitu. Seorang pria dari masa lalu sang gadis ternyata datang lagi. Pria ini bukan sembarangan pria. Karena ia adalah orang yang selama ini ditunggu gadis itu sejak masa SMA hingga beberapa bulan sebelum ia bertemu dengan prianya ini. Dan setelah semua yang direncanakannya, kini pria itu datang lagi, dengan membawa hati yang selama ini ditunggu gadis itu.

Sang gadis terdiam. Sudut terdalam hatinya tak bisa memungkiri bahwa perasaan ingin itu masih ada. Tapi cintanya saat ini juga tak bisa dilepaskan begitu saja. Lebih tepatnya, ia tak mungkin melepasnya. Hingga akhirnya, pada suatu titik, ia meminta izin pria itu untuk menemui orang masa lalu itu. Hanya menemuinya. Dan memastikan bahwa ia sungguh tak membutuhkan pria itu lagi dalam kehidupannya. Sebuah tindakan yang tak perlu sebenarnya. Tapi ia berkeras ingin melakukannya.

Ada pandangan mata bertanya, kekhawatiran, resah yang tak terucapkan dari prianya. Yap, tentu saja ia tak ingin persiapan pernikahannya dikacaukan oleh orang yang Cuma sekedar masa lalu saja. Terlebih, ia tentu saja tak ingin dikalahkan oleh sang masa lalu. Dan memang ia melakukan sesuatu yang sempat membuat tegang keadaan. Untung saja kepala dingin pria itu membuatnya mampu melihat sesuatu secara lebih objektif pada akhirnya.

Pada akhirnya, mereka belajar memahami, bahwa masalah tak ada gunanya disimpan-simpan. Tak ada gunanya dipendam sendiri. Jika saling mencintai, maka hakikatnya adalah berbagi. Sekarang? Mereka sedang dibuat pusing tujuh keliling oleh persiapan pernikahan mereka.

 

P.S: ternyata kisahku gak jelek-jelek juga ya. Si ika masih narsis.

Pada suatu masa, kisah cinta ini pernah tercipta (part 3)

Tapi kisah mereka masih belum berakhir. Seninnya, yang sebenarnya adalah hari libur kemerdekaan Indonesia, masih saja memaksa gadis itu untuk menghabiskan waktu mengerjakan proyek kantornya. Sementara ia juga punya janji dengan sang pria untuk melihat pameran wayang di plaza semanggi. Janji pertama jam 1. tapi ia mundurkan lagi karena pekerjaan yang belum selesai hingga jam 2. dari jam 2 mundur lagi jam 3. dari jam 3 juga begitu. Mundur lagi jam 4. dan begitulah, hingga akhirnya ia baru bisa bertemu pukul 5. itupun karena ia melarikan diri dari kantor dan harus menanggung resiko disemprot keesokan harinya. Tapi begitulah hidup, menurutnya. Hidup yang lurus-lurus saja tak akan pernah membuat warna warni yang indah.

18 agustus mereka masih bersama. Tapi ada sesuatu yang berbeda saat itu. Malam itu pembicaraan mereka di taman menteng mulai mengarah pada hal yang lebih personal. Tentang keluarga. Tentang harapan. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Yang jelas, tentang itulah mereka berbicara.

Pukul 02.15 am tanggal 19 agustus 2009, pria itu mengucapkan sesuatu yang membuat gadis itu menahan nafas. Pria itu memintanya menjadi gadisnya. Tapi sesungguhnya bukan itu saja yang membuatnya menahan nafas. Karena pria itu juga meminta hal itu tepat di sebelah meja para preman pasar yang tengah main gaple! What a man!

Hanya hitungan hari, mereka pun merajut berbagai harap yang dilabuhkan dalam kapal bernama relationship. Banyak protes yang datang. Mengapa gadis itu memutuskan secepat itu untuk jatuh cinta pada pria yang menurut orang-orang  itu kurang pantas untuknya. Banyak yang mencerca secara terang-terangan malah. Namun sang gadis bergeming, yang semakin membuat orang-orang itu mengira bahwa ia sedang dibutakan oleh cinta. Tapi ia hanya menganggap semuanya angin lalu. Biarlah mereka berhembus, lantas hilang, pikirnya.

Dan ia memang membuktikannya. Beberapa pria mapan yang entah bagaimana ceritanya bisa ada dalam hidupnya, satu-satu datang ke hadapannya dan meminta hatinya. Tapi ia pun tetap seperti semula. Tak bergeming.

to be continued….

Pada suatu masa, kisah cinta ini pernah tercipta (part 2)

Begitulah. Kenalan lewat sms tanggal 12 agustus 2009. hanya 1 hari setelah ulang tahun gadis itu. 13, 14 agustus mereka habiskan dengan bercengkrama hanya lewat teknologi yang satu itu. 15 agustus mereka janjian untuk bertemu muka. Tapi tak secepat yang diharapkan si pria. Karena sang gadis masih harus menghabiskan lembur akhir minggunya di kantor.

Jam makan siang, mereka pun akhirnya bertemu. Makan siang di solaria setiabudi. Nonton merah putih di setiabudi 21. dan melihat-lihat pameran keju di gelora bung karno. Tak banyak yang mereka lakukan disana. Hanya berbicara tentang banyak hal. Bertukar pikiran dan keinginan. Dan hanya begitu. Saling mempertanyakan kenyataan mengapa mereka memilih untuk menjadi jomblo.

Hingga tibalah waktu makan malam. Keduanya tak begitu selera dengan ragam makanan keju yang di pamerkan ternyata. Hingga keduanya memilih untuk mencari makan diluar. Pencarian makan malam yang lumayan boros, karena saking nervousnya sang pria, ia lupa bahwa gelora bung karno dekat dengan FX plaza ataupun Ratu plaza. Ia justru mengajak gadis itu jauh-jauh ke Plaza Semanggi untuk mencari makanan.

Di Platina lah mereka berakhir. Take away tentu saja. Karena mereka berencana untuk kembali lagi ke gelora bung karno. Ada pertunjukan Tompi disana. Paling tidak menikmati malam minggu dengan pertunjukan musik gratis, tak ada salahnya kan.

Tapi sang pria tak sadar, bahwa platina memberlakukan limit pembelian untuk penggunaan kartu kredit. Dan pembelian mereka ternyata masih belum mencapai jumlah minimum penggunaan kartu kredit. Dengan cengiran, ia menunjukkan pada sang gadis, bahwa dompetnya saat itu kosong. Dan jika diperbolehkan ingin meminjam pada gadis itu. Tak ingin berlama-lama, sang gadis pun meminjamkannya.

Tapi sang pria bukan tipe orang yang memanfaatkan orang lain. Meskipun ia tau gadis disebelahnya itu sebenarnya sah-sah saja membayari makan malam mereka, ia tak lantas menafikannya. Segera setelah itu ia mencari atm dan mengganti uang gadis itu.

Pameran keju itu berakhir pukul 10 malam. Tapi keduanya belum juga ingin beranjak pulang. Mereka hanya duduk-duduk di tepi air mancur yang ada ditengah gelanggang. Terus begitu, hingga sampai pukul setengah 11. hingga sang gadis tiba-tiba nyeletuk untuk melewatkan malam dengan midnite show. Si pria menyetujuinya begitu saja. Malam itu, keduanya baru pulang kerumah pukul setengah 3 pagi. Hal yang sebelumnya tak pernah dilakukan gadis itu.

to be continued…

Pada suatu masa, kisah cinta ini pernah tercipta (part 1)

Cerita cinta ini biasa saja. Bermula dari dua orang asing yang bertetanggaan kantor. Tak saling kenal, dan bukan pula tipe orang yang suka flirting flirting tak jelas. Hanya saja, salah seorang di antara mereka berdua memiliki hobi yang agak berbeda. Dia hobi keluar masuk toilet.

Awalnya gadis itu merasa baik-baik saja. Ia, entah karena suatu alasan apa, begitu hobinya bolak balik toilet. Tentu saja, disana ia memang melakukan apa yang seharusnya dilakukan orang di toilet.

Hanya saja, di akhir juni 2009 ia merasa sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang lebih terasa seperti tengah diperhatikan atau apalah itu namanya. Dan benarlah dugaannya. Ada seseorang yang memang selalu memperhatikannya setiap kali ia bolak balik toilet.

Tapi hanya begitu saja. Pria yang memperhatikan itu tak juga berani mengenalkan dirinya. Hingga lama kelamaan, karena sebal merasa diperhatikan terus menerus, sang gadis bertanya pada office boy kantornya – sudah menjadi tradisi kalau para OB adalah orang yang paling tau segala sesuatu tentang orang-orang di kantor kan?

Ia hanya bertanya, siapa gerangan pria itu. Tapi yang tak disangkanya adalah sang OB justru selangkah lebih maju dari apa yang dipikirkannya. Tanpa sepengetahuannya, si OB menyampaikan salam darinya pada pria itu yang sebenarnya tak pernah di lakukannya. Dan dari sanalah berawal. Merasa mendapat angina, sang pria pun meminta no hp gadis itu. Kelakuan standar para pria yang ingin pedekate.

Tapi tak susah baginya mendapatkan gadis itu. Entah karena memang keberuntunganya, atau karena perempuan itu tak lagi ingin seperti para abege yang berlama-lama, mengulur waktu untuk suatu periode yang sering disebut penjajakan.

to be continued…

Mengenal Alm.Bapak Sarino

Malam ini saya sungguh tidak bisa memejamkan mata sedikitpun. saya tengah kangen dengan seseorang. seseorang yang belum lama ini mulai mengisi kesendirian saya selama  ini. Rasa rindu itu semakin menjadi, manakala hati menyadari bahwa kami berdua tengah dilanda masalah. Yang pada akhirnya membuat kami mengambil jarak untuk menjauh dan memulihkan diri.

Hingga tiba-tiba nama itu hadir begitu saja dalam benak saya. Bapak Sarino. Beliau adalah bapak dari kekasih jiwa saya itu. Tapi sayangnya beliau sudah tidak ada. Beliau pergi pada tanggal 28 Oktober 2005 silam karena menjadi korban perampokan taksi yang dikemudikannya saat itu.

Yah, beliau memang supir taksi express, yang harus berakhir hidupnya ditangan perampok-perampok gila di jakarta. Tadinya, saya sungguh tidak berpikir untuk mencari tau. Entah kenapa, malam ini saya begitu penasaran. Dan rasa penasaran saya itu terbayar sudah.

Dari dokumentasi-dokumentasi berita elektronik yang saya baca, Beliau adalah sosok seorang rekan kerja yang sangat berdedikasi. Bayangkan saja, ia sudah bekerja selama 15 tahun dan tidak pernah sekalipun membuat pelanggaran. Hal itu membuatnya dianugrahi predikat karyawan teladan oleh pihak perusahaan.

Tidak hanya itu, di mata tetangganya, Beliau juga seorang yang ramah dan santun. Menurut mereka, ia punya tawa yang khas. Sayang, saya tidak akan pernah lagi melihat tawa yang katanya khas itu.

Dan menurut keluarganya, ia adalah sosok ayah yang sangat bijaksana dan penuh perhatian. Saya mengenal Beliau sekilas dari mulut kekasih jiwa saya. Ia pernah bercerita, bahwa ia tidak malu meski ayahnya hanya seorang supir taksi. Sebab sang ayah punya cita-cita yang begitu tinggi, menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi sehingga berhasil dan jadi orang yang berguna. Dan beliau berhasil, kedua anaknya adalah lulusan dari Universitas Indonesia yang saat ini sudah bekerja sendiri-sendiri.

Ada air mata yang mengalir saat membaca kronologis pembunuhan itu. Ada isak yang saya hasilkan saat membaca baris demi baris dimana kekasih jiwa saya begitu tak mampunya menahan kesedihannya saat harus kehilangan sebelah sayapnya. Pun dengan Ibu, Istri Bapak. Baru saya mengerti mengapa ia jauh lebih banyak diam setelah itu. Kata mereka, ia tak pernah menangis setelah kejadian itu. Tapi saya yakin, ia punya trauma dan kekhawatiran yang dalam terhadap anak-anaknya. Ia juga pasti punya kesedihan yang sangat maha karena harus kehilangan belahan jiwanya.

Saya mulai mengingat lagi perselisihan saya dengan anak sulung Bapak, kekasih jiwa saya itu. Saya tau saya tak akan bisa mengulang waktu. Saya tau saya tak akan bisa membalikkan keadaan seperti semula. Saya tau dia pasti kecewa. Saya memahami semuanya.

Saya hanya ingin menjadi perempuan dibaliknya yang menyokongnya untuk mewujudkan semua mimpi dan harapannya. Seperti yang diharapkan oleh Bapak, untuk menjadi orang yang berguna. Saya hanya ingin menjadi perempuan itu. Saya ingin menemaninya dalam perjalanan yang pasti akan panjang. Saya ingin memeluknya saat ia terjatuh. Dan menghiburnya jika ia menangis.

Saya mungkin tidak akan pernah lagi bertemu dengan Alm.Bapak. Saya tidak akan pernah mempunyai calon ayah mertua. Tapi saya seperti sudah mengenalnya bertahun-tahun. Saya menangis membaca beritanya. Saya menangis membaca kesedihan yang tertera dalam tiap baris ucapan anak dan istri Bapak.

Kesedihan yang membuat saya tiba-tiba begitu rindunya dengan anak sulung Bapak. Kekasih jiwa saya. Selamat Jalan, Bapak. Semoga Diberikan tempat terbaik disisi-Nya. Saya berjanji, jika saya memang diberi kesempatan, saya akan menjaga anak sulung Bapak dengan seluruh jiwa raga saya.