What’s for breakfast?

Published Maret 9, 2012 by Mrs Nugroho

Well, morning guys….!

Howdy? Just wish you all fine wherever you are and whatever you do. Pagi yang terlalu indah untuk dilewatkan dengan setumpuk keluh kesah. Jadi saya tak akan mengatakan apapun. Saya hanya ingin mem-post sesuatu yang menarik dari seorang Ursula K.Le Guin bahwa;

“Cinta tidak diam membisu saja seperti batu; cinta, seperti halnya roti, mesti dibuat dan dibuat lagi berulang kali dan diperbaharui”

Well, hari ini singkirkan keluh kesah terhadap pasangan dan mari memperbaharui cinta.Caranya, diri anda sendiri pastinya lebih tau. Tapi semangkuk bubur soto ayam dan secangkir kopi rasanya akan jadi sarapan yang pas untuk saya dan suami pagi ini. Saya harap dia selalu tau, bahwa cinta saya tak pernah berhenti tumbuh bahkan disaat-saat terburuk sekalipun.

With love….

Dikit-dikit nangis…., dikit-dikit nangis…

Published Januari 5, 2012 by Mrs Nugroho

Kalimat diatas memang cukup menggambarkan kelakuan saya untuk setiap hal yg bagi saya cukup “menyentuh”.

Setiap kali melihat adegan sedih dalam film (bahkan film paling norak sekalipun), membaca kalimat yg menyentuh, menyanyikan lagu yang membangkitkan memory saya,melihat bapak2 dan ibu2 tua dijalan, membaca tulisan dalam buku atau dimana saja, mampu membuat saya meneteskan air mata yg sungguh tak bisa saya tahan (sumpah,mati2an saya kerap berusaha menahannya,tapi nol besar hasilnya). Pokoknya setiap touching momentlah,apapun itu,seremeh apapun,bisa membuat saya jadi sangat cengeng sekali.

Lalu, saya ingat dulu saat kecil. Saya ingat dulu saya tak pernah menangis. Tak peduli seburuk apapun keadaannya.
Waktu itu saya tinggal jauh dari orang tua saya, terpisah provinsi.
Saya hanya tinggal dengan atok,nenek,dan saudara2 papa.
Saat atok masih ada, saya gak pernah merasa asing.namun saat atok harus pergi selamanya saat saya kelas 4 SD, semua terasa berubah. Waktu jenazah atok dibawa kerumah saya adalah cucu yg tak menangis. Saat kepala kecil saya ditempeleng seorang om gara2 kesalahan seorang sepupu yg hendak ditutupi, saya juga tak menangis. Saya hanya masuk kamar, menutup muka dan berharap saya bisa kuat sampai saya besar nanti. Saat saya kerap disuruh cuci piring saat keluarga besar kumpul dan setelahnya mojok disudut hanya menatap kosong saya juga tak pernah menangis, saat saya didiemin tante hanya karena saya tak ingin mencuci piring saat berkunjung kerumah mereka dan selanjutnya juga tak diajak untuk acara kumpul bareng, saya hanya diam.

Saya melihat papa memperlakukan mama dengan tak pantas lewat mata kecil saya, saya tak juga menangis. Saat kelas 1 SMP saya melihat papa mengamuk dan menghancurkan banyak “hal”,  saya pun mengeras. Dan masih banyak saat2 lainnya yg entah bagaimana bisa saya lalui tanpa air mata.

Entah bagaimana, setamat kuliah dan bekerja saya jadi sangat cengeng. Gampang sekali menangis. Hal paling remeh yg menyentuh sekalipun dapat membuat dada saya sesak tak karuan. Saya tak paham psikologi kejiwaan. Saya hanya merasa terlalu banyak beban yg saya tahan dimasa kecil, yg tak pernah berani saya keluarkan karena saya takut, orang2 akan memarahi saya. Saya bahkan baru berani menangis didepan mama saat saya menikah karena tak tahan dengan beban waktu itu yg terlalu menggila.

Sekarang saya jadi begitu mudah nangis dan jatuh iba mungkin karena saya sudah merasa secure dan punya ruang untuk menangis tanpa takut dimarahi. Sekarang saya tak merasa takut mengeluarkan airmata saya untuk sesuatu paling “silly” sekalipun.

Entah, mungkin waktu itu saya memang takut dan merasa sendiri. Saya takut jika saya menangis, orang-orang akan menjadi marah pada saya. Kelak, jika saya punya anak, saya akan berusaha memberikan perlindungan hati dan mental untuk mereka ataupun anak-anak kecil lain yang berada disekitar saya.

Honeymoon (Again) Destination

Published Desember 29, 2011 by Mrs Nugroho

The place called Sikuai Island, lied in Western Sumatera, around 40 mnt from Padang.

Jadi judulnya perubahan mendadak pasca nonton the twilight breaking dawn part 1. Edward dan Bella kebetulan menghabiskan honeymoon mereka di Pulau Esme, sebuah pulau terpencil di Rio De Janeiro. Dan sudah saja, setelahnya saya langsung searching pulau mana di Indonesia yang bisa seperti itu ya ^_^

Nun, negara kita yang negara kepulauan ini punya banyak pulau-pulau cantik yang kadang masih jauh dari pemberitaan. Salah satunya Sikuai. Kebetulan saya pernah tinggal di Kota Padang, dan masih penasaran dengan banyaknya tempat indah yang belum sempat saya datangi.

Jadi begitulah, Sikuai ini letaknya di Padang. Perjalanan kesana ditempuh lewat laut dengan jarak kurang lebih 40 menit dari pelabuhan padang. Yang saya tau resort disana saat ini dikelola oleh Bule (see…., lihat kan maksud saya. jadi wondering dengan dinas pariwisata ngapain aja kerjanya). Punya pemandangan indah, saya belum lihat, hanya baru searching dan dengar cerita-cerita.

Sayangnya, saya bisa cuti, suami saya masih harus stay dulu karena stafnya baru saja cuti melahirkan (poor me). Tapi tak apalah, saya masih bisa menunggu. Toh Sikuai nya juga belum akan kemana-mana ^_^

Sikuai…, just wait me up ya =_=

Dia tidak bilang, bukan berarti dia tidak

Published November 14, 2011 by Mrs Nugroho

 

Sebagai seorang istri, saya termasuk istri yang ekspresif dan ekstrovert. Saya terbiasa mengekpresikan semua perasaan saya lewat kata-kata dan tindakan saya. Sayang, marah, kesal, cinta semuanya selalu tergambar jelas lewat mata saya dan tentu saja kata-kata yang keluar dari bibir saya. Setiap hari, saya tak pernah lupa mengucapkan betapa cintanya saya pada suami saya. Setiap kali hendak tidur, saya lagi-lagi tak pernah bosan menunjukkan perasaan saya padanya.

Saya juga kerap bertanya apakah ia bahagia? Apakah ia senang? Apakah ia suka dengan apa yang saya lakukan untuknya? Meski jawabannya selalu memuaskan saya, tapi ada satu hal yang mengganjal dihati saya. Ia tak pernah melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan. Yah, ia memang tak pernah mengumbar kata-kata romantis. Ia juga jarang mengekspresikan hal-hal seperti mengapa ia begitu mencintai saya. Saya sering bertanya padanya, mengapa ia begitu mencintai saya? Tapi ia tak pernah bisa menjawab pertanyaan itu dibawah pandangan mata saya. butuh energi ekstra untuk memaksanya menjawab pertanyaan saya, yang ujung-ujungnya hanya akan dijawabnya lewat pesan singkat di ponsel saya. Bayangkan saja, padahal ia hanya tinggal bicara, apa susahnya.

Tadinya saya berpikir, jangan-jangan saya hanya mencintainya sendirian. Jangan-jangan ia tak pernah mencintai saya sebesar saya mencintainya. Jangan-jangan, saya nanti akan kecewa lagi. Dan masih banyak jangan-jangan lainnya. Ketika suatu malam saya bertanya lagi dan tak kunjung mendapatkan jawaban – jangan bilang saya iseng, saya toh hanya ingin tau perasaan suami saya yang sesungguhnya – saya menangis. Saya terus menangis tersedu-sedu dan tak berhenti. Bahkan meskipun ia telah memeluk saya. Saya dapat mendengar jelas ia mengambil napas sangat panjang dan detak jantungnya yang berdebar sangat cepat.

Sampai akhirnya ia berbicara pelan;

“Sayang, kalo aku gak bilang sayang kaya kamu setiap hari, itu bukan berarti aku gak sayang sama kamu. Kalo aku gak pernah bilang kata-kata romantis, bukan berarti aku gak cinta sama kamu. Tolong pahami yang, aku susah untuk ngomong hal-hal seperti itu. Aku gak biasa yang. Tapi walaupun aku gak ngomong sama kamu, aku kan selalu nunjukin sayang aku ke kamu lewat tindakan aku. Aku selalu meluk kamu tiap malam, cium kamu tiap mau berangkat ngantor, megang tangan kamu kalo kita jalan diluar, itu semua karena aku sayang banget sama kamu yang. Kalopun aku gak ngomong, bukan berarti aku gak sayang sama kamu, aku cuma gak bisa ngomong seperti itu.”

Tapi saya masih belum puas dan terus memaksanya untuk mengatakan yang ingin saya dengar. Saya tau ia frustrasi, sama seperti frustrasinya saya yang menunggu jawabannya yang tak kunjung terdengar. Hingga setelah lama terdiam, dia akhirnya bilang begini: “aku sms aja ya sayang.” Dan mau tak mau saya harus terima.

Mau tau smsnya seperti apa? Ini dia…….

“Karena aku butuh kamu, karena kamu separuh nafasku, karena aku ingin kamu jadi bagian hidupku, dan seperti waktu dimenteng aku mau kamu jadi bagian dari cerita hidupku.”

Lain waktu saat saya bertanya lagi dan ia tak juga kunjung menjawab, lagi-lagi ia menawarkan kembali menjawabnya lewat sms, dan saya tak punya pilihan selain mengiyakannya. Mau tau? Ini dia…..

“Aku gak bisa kehilangan mata indah kamu, sifat buru-buru kamu, gak sabaran kamu, galak, preman kamu itu, meskipun kadang-kadang bikin kesel tapi itulah kamu yang gak bisa aku dapatin dari orang lain.”

Sejak saat itu, saya mulai memahami mengapa suami tercinta saya itu tak pernah sering mengutarakan perasaannya pada saya. Saya mulai memahami mengapa ia begitu gagu hanya untuk mengeja kata cinta secara jelas. Bukan karena ia tak memiliki rasa itu, tapi karena baginya perasaan cinta itu begitu besar dan ia tak punya banyak kata-kata yang pas untuk membahasakan rasa.

Dan ketika ada seorang adik yang bertanya mengapa pasangannya tak pernah mengatakan cinta dan kerap membuatnya bertanya-tanya, saya menukil jawaban suami saya. Bahwa para pria itu bukannya tak memiliki rasa cinta, mereka hanya tak pernah diajari untuk membahasakannya. Maka mereka tak pernah mengatakannya, tapi mereka akan melakukan semuanya untuk menunjukkan betapa mereka sangat mencintai kita, orang yang dia pilih untuk dicintai.

Saya tak pernah menghapus dua sms suami saya itu. Bagi saya itu adalah pernyataan cinta yang tak ada bandingannya dan selalu mampu membuat hati saya menghangat setiap kali membacanya ulang. Ia membuat saya merasa menjadi istri paling bahagia hanya dengan sms sederhana seperti itu. Dan meski saya tau ia tidak gampang untuk berkata cinta, saya tetap menunjukkan padanya perasaan cinta saya seperti biasa, ekspresif. Saya percaya, cinta harus ditunjukkan dengan jelas, dan terkadang seseorang butuh diajari untuk melakukannya.

Saya memang tak lagi memaksa suami saya untuk memaksanya memberi tahu saya mengenai perasaannya terhadap saya. Saya hanya lebih membuka lebar-lebar mata dan hati saya terhadap seluruh tindakannya terhadap saya. Seluruh tindakan yang meskipun kadang tidak begitu manis, tapi dilakukannya atas nama cinta. Karena kini saya mengerti dengan baik, bahwa meskipun suami saya tak pernah mengatakan cintanya dengan lancar, saya tau ia sangat mencintai saya. Hanya butuh waktu dan pembelajaran baginya untuk tak malu mengatakan cinta. Kalaupun ia tak pernah mengatakannya, saya mungkin akan memintanya mengirimkan sms lagi, hehehehe………..

Berdamai dengan segala kekurangannya

Published November 14, 2011 by Mrs Nugroho

Suamimu bukan manusia sempurna, ia bukan malaikat, ia bukan makhluk tanpa dosa dan kesalahan, dan tentu saja bukan orang suci. Itu adalah pelajaran paling pertama saat sadar untuk memilih menghabiskan sisa kehidupan berdua dengan orang lain. Bagi saya, itu terasa sudah saya lumat sejak awal. Tapi rasanya proses mengunyah saya belumlah lancar. Masih ada yang tersendat.

Suatu hari di halte busway Kampung Melayu membuat mata saya terbuka bahwa proses penerimaan terhadap suami saya masih terus berlangsung. Prosesnya ternyata tidak pernah berhenti, tapi terus terjadi sepanjang hari-hari pernikahan. Bermula dari peraturan pengelola busway yang memisahkan antrian pria dan wanita. Karena kami harus melalui koridor yang lain untuk mencapai tujuan – berhubung koridor yang asli dihambat oleh bus mogok – maka kami harus naik ke arah halte bidara cina atau gelanggang remaja. Tapi melihat kondisi orang antri yang berdesak-desakan membuat ia tak mau memisahkan diri dari saya. Saya mengerti, ia pasti tak ingin saya atau dirinya kehilangan satu sama lain atau justru tertinggal.

Saat bus yang ditunggu datang, petugas sibuk menginstruksikan agar pria dan wanita berdiri di antriannya masing-masing. Saat itu saya sudah meminta suami untuk pergi ke antrian pria dan meyakinkannya bahwa saya akan turun di halte yang sama dengannya. Tapi ia tetap tidak beranjak dari sisi saya. Keributan mulai terjadi saat petugas mengingatkan suami untuk keluar dari antrian wanita. Ia bersikeras bahwa ia bersama saya, istrinya. Tapi petugas itu juga keukeuh. Dan bukan suami saya jika tidak melawan. Melihat situasi yang sudah memanas, saya menggandeng tangan suami dan menariknya menjauh dari situ. Ia bahkan sempat meninju atm Bank DKI yang ada di halte itu, yang mana tentu saja membuat saya ketar ketir karena petugas dibelakang juga membentaknya karena itu. Saya membawanya hampir ke pintu keluar, dan mengusulkan agar naik angkutan yang lain saja. Tapi ia menolak, dan jika pun keluar, ia mau uangnya dikembalikan!

Saya tau ia sedang emosi. Meladeninya sesungguhnya tak ada gunanya. Tapi kami harus pergi dan saya harus membujuknya untuk naik bus atau keluar. Saya katakan untuk antri saja, karena ini memang peraturan mereka. Kita hanya pengguna, tentu saja kita harus mengikuti aturan mereka. Tapi ia menolaknya, tentu saja. Ia katakan ia tak ingin terjadi apapun terhadap saya. beberapa menit saya hanya diam, berharap ia mendingin. Tapi sepertinya harapan saya sia-sia.

Ketika bus yang lainnya datang, ia mengajak saya untuk naik bus. Saya katakan padanya agar masuk lewat antrian yang seharusnya. Ia menurut, tapi saya tau ia masih emosi dengan petugas busway di halte tersebut. Terbukti karena ia lagi-lagi menghentakkan pintu penghalang antrian busway dengan kakinya, yang dengan segera menimbulkan keributan baru. Para petugas busway segera memburunya. Mencoba menariknya dari bus. Saya yang sudah masuk lewat pintu depan mencoba keluar dan berdiri diantara halte dan bus. Saya hanya tidak ingin jika suami saya ditarik dari bus dan saya masih ada didalam.

Suara-suara petugas yang merasa diatas angin – tentu saja, mereka ramai-ramai soalnya – membuat perasaan saya semakin kacau. Saya tidak ingin masalah ini sampai ke pihak berwajib. Bagaimana jika mereka melaporkan suami saya atas perusakan properti atau lainnya? Saya masih melihat atasan para petugas ini mencoba menarik suami saya. Petugas lainnya bahkan menyuruh agar ia dikeluarkan dari bus. Tapi ia berkeras, saya tak tau apa yang dikatakannya. Tapi akhirnya petugas itu membiarkan bus kami pergi.

Keadaan didalam busway masih sangat parah. Banyaknya orang membuat saya harus celingak celinguk mencari suami saya yang terjepit diujung belakang. Saya tau ini yang dikhawatirkan suami saya tadinya. Jadi ketika saya melihatnya, saya segera berteriak padanya agar turun di halte sesudah bidara cina. Saya tak peduli dengan kerumunan orang yang ada. Toh, saya berbisik pun suami saya tak mungkin mendengarkan saya.

Ketika turun di halte gelanggang remaja, ternyata antriannya bercampur kembali. Tak ada yang benar-benar patuh pada peraturan, sebab peraturan itu sendiri begitu tak jelasnya. Reaksi suami saya? Tentu saja ia mengomel panjang lebar lagiJ

Hal lainnya, ketika kami pindahan. Saat sampai dirumah yang dimaksud, ternyata gerbangnya dikunci sang penjaga rumah yang sedang makan siang. Dan segera yang saya dengarkan adalah beribu sumpah serapah dari suami saya. Segala macam umpatan ia lontarkan. Dan ditengah terik matahari siang itu, semuanya seolah bom waktu buat saya.

Saya bukan orang yang terbiasa melontarkan sumpah serapah kasar. Saya juga tak pernah ingin terlihat dalam pertengkaran yang hanya menghabiskan energi saya. tapi suami saya membuat saya mengalaminya. Berkali-kali saya katakan untuk belajar meredam emosinya, tapi berkali-kali pula ia melanggarnya. Berkali-kali saya katakan betapa tak nyamannya saya dengan umpatan-umpatan kasar yang dilontarkannya di area umum, tapi berkali-kali itu juga ia lupa dengan permintaan saya.

Hingga suatu ketika, saya sadar bahwa saya tak bisa mengubah sifatnya yang satu ini seperti membalik telapak tangan. Tak bisa semudah itu. saya harus rajin dan sering-sering mengingatkannya. Bahkan jika resikonya saya sendiri yang akan dibentaknya.

Saya jadi ingat saat pertama kali jatuh cinta padanya. Waktu itu saya tak ingin melihat kepalsuan sikap dan sifat selama masa pacaran dan memindahkan semuanya ketika sudah menikah. Jadi saya katakan padanya untuk selalu jujur dalam bersikap, karena saya ingin mencintainya secara keseluruhan. Satu paket apa adanya dia.

Dan ucapan saya waktu itu meminta pembuktiaanya setelah saya menikah. Bagaimanapun saya harus berlapang dada dengan seluruh kelakuan suami saya, sama seperti ia yang mungkin juga berlapang dada dengan semua kelakuan saya.

Saya seolah disadarkan kembali bahwa yang saya miliki hanya dua pilihan. Memikirkan seluruh kekurangan suami saya tersebut dan jadi makan hati karenanya, atau berdamai dengan hati dan kepala saya sendiri bahwa suami saya hanyalah seorang manusia biasa, sama seperti saya. Punya salah dan khilaf, tapi bukan berarti ia tak pernah benar. Toh, terkadang ia melakukannya juga karena ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada saya. yah, meskipun caranya mungkin buruk, tapi tujuannya selalu untuk melindungi saya. itu yang harus saya pahami.

Jadi saya berhenti ribut dengannya soal ‘kelebihan’nya yang satu ini. Jika suatu waktu terjadi, saya akan mendiamkannya saja, dan baru akan mengingatkannya ketika ia sudah tersenyum lagi. Kadang saya juga hanya akan menggamit tangannya atau mencubit pelan pinggangnya, untuk memberitahu bahwa saya tidak suka dengan ucapannya.

Jadi daripada uring-uringan, saya memilih berdamai dengan kekurangan suami saya. Karena keberadaannya disisi saya sampai saat ini pasti juga karena ia terus berdamai dengan kekurangan saya. saya tak ingin menjadi istri yang egois dan membuat suami saya merasa menjadi orang paling buruk sedunia. Toh, pada kenyataannya ia adalah orang yang sangat saya cintai.

Pernikahan hanya akan indah jika kita menerima pasangan kita sebagai manusia. Itu membuat kita memaklumi jika suatu saat pasangan kita berbuat salah. Itu membuat kita berbesar hati jika mendapati bahwa pasangan kita jauh dari apa yang kita harapkan, bahwa kita adalah berbeda satu sama lain. Maka ketika ada pasangan yang ingin berpisah dengan alasan, tidak ada kecocokan lagi diantara mereka, mungkin saja itu karena mereka tidak sepenuhnya hidup didunia nyata. Mereka hidup didunia dimana mereka menginginkan pasangan mereka sebagai sosok yang sempurna tanpa cela. Dan ketika setitik cela itu muncul, tidak ada kecocokan lagilah yang menjadi alasan perpisahan.

Bukankah suami istri pada dasarnya memang dua individu yang berbeda. Kita lahir dari orang tua yang berbeda, suku yang mungkin juga berbeda. Kita besar dan tumbuh dalam lingkungan yang berbeda. Bersekolah dan bekerja ditempat yang juga berbeda. Dan tentu saja punya pemikiran yang berbeda. Apa yang lantas membuat kita merasa cocok dengan pasangan kita?

Bukan kecocokan 100% yang membuat langgeng sebuah pernikahan. Tapi bagaimana mengelola banyaknya perbedaan itu menjadi hal-hal yang memperkaya hubungan suami istri. Segala hal mengenai suami kita tak pernah benar-benar cocok untuk kita, para istri. Tapi ketika kita memilih dan dengan sadar hidup dalam dunia yang sebenarnya, kita akan melihat bahwa sesungguhnya segala perbedaan kitalah yang membuat kita selalu jatuh cinta dengan pasangan kita, setiap harinya. Bayangkan saja jika kita berdua selalu punya kesukaan yang sama, sikap yang sama, sifat yang sama, semua-mua yang sama, intinya cocok yang sama-sama, pernikahan kita pasti dengan segera akan menjadi pekerjaan kedua paling membosankan. Sebab tak ada lagi yang bisa kita eksplor dari pasangan kita. Tak ada lagi hal-hal baru yang bisa membuat kita takjub setiap kali menjumpainya. Yang ada hanya kebosanan tingkat tinggi.

“Jadi sayang….., percayalah aku tak akan meninggalkan kamu hanya karena kebiasaan kamu yang suka mengumpat. Aku lebih memilih untuk berdamai dengan yang satu itu daripada kehilangan kesempatan melihat hal-hal baru lainnya setiap hari”

Ritual Pagi Hari

Published November 14, 2011 by Mrs Nugroho

 

Pagi selalu menjadi favorit saya dari seluruh pergerakan waktu. Tidak hanya karena itu adalah permulaan hari, pagi bagi saya adalah indikator keberhasilan amunisi saya dalam menjalani hari. Itu sebabnya saya selalu berusaha menjaga kualitas pagi saya. Pun ketika sudah menikah, ritual pagi saya menjadi lebih berwarna. Meski tentu saja harus diolah sebaik-baiknya karena ritual yang berwarna itu berpotensi banyak hal, termasuk yang negatif.

Bagi saya, tak ada yang lebih indah dipagi hari selain melihat suami kita berada disamping kita. Tertidur pulas, nyenyak. Saya selalu menyukai pemandangan dimana suami saya tertidur pulas dengan posisi menyamping sambil tangannya menyangga kepalanya. Wajahnya begitu polos, seperti anak kecil. Jika sudah begitu saya tidak akan tahan untuk tidak mencium pipinya. Tangan saya akan membingkai wajahnya dan mencium kedua matanya, sampai ia terbangun. Biasanya ia tidak akan terbangun terlalu lama, sebab detik berikutnya ia akan bersiap melanjutkan tidurnya yang terganggu oleh saya. tapi saya tidak akan menyerah begitu saja sampai ia benar-benar bangun dan pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Yah, waktunya subuh berjamaah. Sungguh, tak ada yang lebih menyejukkan dibandingkan mencium tangan suamimu selepas subuh. Dan saya ketagihan oleh itu.

Lepas subuh saya akan berbaik hati membiarkan suami melanjutkan tidurnya lagi. Saya tau ia masih capek, sebab kerja terlalu larut malamnya. Kali ini saya tidak akan mengganggunya. Jadi saya menyibukkan diri dengan menyetrika kembali pakaian kerja yang akan dipakainya dan menyiapkan seluruh perlengkapannya. Baru setelah itu saya akan kedapur dan memasak untuk sarapan dan bekal makan siangnya.

Setelah semua urusan dapur selesai, baru saya kembali lagi ke kamar, menjenguk suami saya yang tengah berjalan-jalan kembali dalam mimpinya. Biasanya saya sudah menaruh gelas teh atau kopinya didekatnya sebelum membangunkannya plus sepiring sarapan pagi. Setelahnya, barulah saya bermain-main sejenak dengan suami saya sambil berusaha membangunkannya. Sungguh, suami saya termasuk tipe orang yang sedikit susah untuk dibangunkan. Diperlukan ekstra kesabaran agar tidak terbawa emosi dipagi hari. Tadinya saya tak terbiasa dengan itu. tapi lama kelamaan saya mencoba melihat apa yang bisa saya lakukan dengan baik.

Jadi alih-alih mengambil hati terhadap kesukaran membangunkannya, kini saya lebih melihatnya sebagai cara baru untuk menunjukkan cinta saya padanya. Sebab biasanya dia akan bermanja-manja dulu sebelum bangun. Selalu ada saja permintaanya, dari mulai menarik saya dalam pelukannya, dan dia akan menahan saya berlama-lama dalam dekapannya, sampai saya membujuknya untuk bangun dan sarapan. Lain kali dia akan mengeluh capek dan minta diinjak-injak. Postur tubuh saya yang mungil memang membuatnya lebih suka diinjak-injak daripada sekedar dipijit, tidak terasa kalau Cuma dipijat tangan, begitu selalu alasannya. Lain waktu saya akan bermain gerak bibir dengannya. Saya akan memintanya melakukan suatu gerakan, dan ia akan melakukannya dengan bibirnya. Dan masih banyak lagi.

Ritual pagi sebelum sarapan dan mandi itu, kini bagaikan terapi stress buat saya. Sebab itu ampuh untuk membuat saya tersenyum sepanjang hari. Tentu saja diperlukan banyak usaha lainnya. Tapi semuanya tak akan lengkap tanpa ‘main-main’ dipagi hari.

Setelah mandi lagi-lagi punya bagiannya tersendiri. Suami saya tak pernah mengelap kering tubuhnya saat masih dikamar mandi. Bahkan sampai dikamar pun ia akan langsung mengenakan pakaian dalam tanpa mengeringkan tubuhnya terlebih dahulu. Mengamati hal tersebut selama beberapa hari pernikahan kami membuat saya berinisiatif untuk selalu menyambutnya setelah keluar dari kamar mandi dan mengambil alih kendali atas handuknya. Saya yang akan mengelapnya sampai kering dan memakaikan deodorannya. Saya juga yang akan menahannya untuk tidak memakai baju dahulu sampai deodoran itu mengering. Dan biasanya ia akan mematut-matut diri dicermin sambil menunggu.

Sarapan sudah, berpakaian sudah, kini saatnya berangkat kantor. Setelah memastikan semuanya tak ada yang tinggal, saya akan menyisakan uang kecil untuk ongkos busnya ke kantor. Lebih mudah baginya daripada harus mengambil kedalam dompetnya lagi. Setelah itu saya akan menaruh kotak bekal makan siangnya ditas. Dan ia siap berangkat. Menunggunya memakai kaus kaki saya akan memegang tas kerjanya, sampai ia selesai. Dan seperti biasa, saya akan menyalim tangannya dan memberikan kening saya untuk diciumnya. Setelah itu giliran saya mencium pipinya. Dan saya melepasnya berangkat ke kantor sambil tak lupa mengatakan betapa sayangnya saya padanya.

Oh ya, ada yang ketinggalan, ia tak pernah meninggalkan rumah tanpa mencium dan memeluk saya erat-erat. Tapi tentu saja yang terakhir ini dilakukannya dikamar, sebelum memakai sepatu. Sebab terlalu mencolok jika dilakukan diluar, kami tentu saja tak ingin membuat orang lain heboh.

So……, bagaimana ritual pagi anda? Adakah yang berbeda setiap harinya, atau tak pernah sama sekali? Hanya anda yang tau seperti apa anda menginginkan kehidupan pagi anda bermula. Sebagian ada yang mengusahakan yang terbaik untuk itu, sebagian lagi merasa harus mengusahakannya dengan terpaksa, dan sebagiannya lagi justru mengabaikannya begitu saja.

Saya mengerti dengan baik, bukan kapasitas saya untuk menggurui anda mengenai bagaimana anda memulai hari anda. Saya toh, hanya orang lain bagi anda semua. Hanya saja, saya sangat ingin membagi keajaiban pagi bersama suami yang telah saya alami semenjak hari pertama pernikahan saya. saya juga tak akan bertingkah layaknya guru pernikahan sejati. Saya hanya ingin anda juga merasakan kebahagian pagi yang saya rasakan. Keseluruhan hari kita bergantung pada seperti apa pagi yang kita ciptakan bukan? Maka mulailah melihat kembali pagi anda, sudahkah ia membuat anda tersenyum setelahnya? Have a great morning, ladies!

 

Puasa arafah berdua, euy!

Published November 4, 2011 by Mrs Nugroho

Well, karena 2 hari besok itu adalah hari raya idul adha, saya udah meniatkan untuk puasa selama dua hari kedepan. Soalnya, disunahkan buat kita-kita yang belum bisa berangkat haji untuk puasa arafah menjelang idul adha. Jadi, kenapa gak, itung-itung nabung amalan lain sebelum bisa naik haji beneran, ya gak?

So…saya tanya suami, mau ikut puasa atau gak. Kalo saya gak salah denger sih dia bilang gak ikut puasa. Jadilah waktu belanja kebutuhan dapur malamnya, saya ambilkan kangkung buat dia. Maksudnya sih untuk dimasak buat bekal makan siang dia besok. Tapi pas sampai rumah dia malah nanya, “kamu masak sahur ntar kan sayang?”

“Loh…..maksudnya? kamu mau ikut juga”

“Iya donk, kan barengan.” ” Halah, tadi kenapa gak bilang kalo kamu mau ikut puasa juga. Tau gitu kan aku gak perlu beli kangkung. “

“Kan aku kira buat dimasak sahur yangggg….”

Oh gitu, ya sudah. biar deh, demi suami tercinta apa sih yang enggak. Kangkungnya saya petikin, cabe dan bawang udah disiapin, berikut sekaleng sarden. yang simpel aja ya sayang…….

Tapi belum mulai masak, udah diprotes lagi. katanya masaknya ntar aja, pas mau sahur. kalo sekarang ntar dingin, gak enak (lah kan bisa diangetin pak….!). tapi akhirnya saya ngikut maunya bos. masak ntar mau sahur, dengan konsekuensi dia mesti nemeni saya masak jam 3. moga aja kebangun yak!

Untungnya alarm kita bekerja dengan baik. terbangun jam 3 beneran. langsung deh bangunin si bapak. yuk sayang, temeni masak. abis heboh bentaran kelentang kelenteng di dapur, akhirnya siap juga. makan deh……

Selamat puasa arafah hari ini ya sayang……

I Love You my big big cimoyi……..

A Bad Morning in Friday

Published Oktober 14, 2011 by Mrs Nugroho

Hi…..,

Ketika saya memposting hal ini, bukan berarti saya ingin mengumbar aib dalam rumah tangga saya. Saya hanya ingin cerita bahwa tak ada yang baik dari yang namanya pertengkaran.

Pagi tadi seperti biasa, saya dan suami bersiap-siap untuk ngantor seperti biasa. Mulanya tak ada yang bermasalah. Hanya saja saat bercanda, tiba-tiba lelaki saya itu mengucapkan suatu hal yang sangat tidak saya sukai. Awalnya merepet sebentar, lantas diam. Namun hormon menjelang datang bulan saya sepertinya minta untuk dilepaskan selepas-lepasnya. Dan jadi saja, saya ngamuk, ngambek, sampai-sampai ngancam akan berangkat ngantor sendiri (yang mana seandainya dituruti suami saya, pasti saya akan tetap ngintilin dia berangkat bareng). Saya bahkan ngambek sampai bermenit-menit diruang tamu and keep saying gak mau berangkat bareng. Pastinya dengan bermacam ocehan ala perempuan yang kalau direkam pasti tidak enak banget untuk didengar.

Di lift menjelang turun ke lobby, suami saya minta maaf atas becandaannya. Tapi dasar saya yang sedang high temperamen, justru mencubit kedua pipinya montoknya (orangnya kesakitan pastinya). Dan bisa ditebak, kami jalan ke parkiran sendiri-sendiri. Toh, pada akhirnya kami berangkat bareng juga, dasar!

Namun perjalanan kami jadi gak seperti biasanya. Saya dan dia hanya diam menatap jalanan. Saya gak tau pasti apa yang dipikirkan suami saya, namun yang jelas, hati dan pikiran saya riuh sekali. Saya nyesel, nyesel, nyesel, kenapa mesti ngomel-ngomel dipagi hari, jumat lagi. Saya nyesel setengah mati kenapa saya harus nyakitin suami saya lagi. Saya nyesel senyesel-nyeselnya karena janji saya selama ini hanya janji sambal, lupa, bikin lagi.

sampai akhirnya saat saya harus turun duluan, saya genggam tangannya. Gengsi sih masih ada pastinya :) , tapi saya gak mau hari saya dan dia diawali dengan pertengkaran belum berujung. Saya pegang tangannya, menciumnya dan meminta maaf. Saya juga katakan betapa saya sangat mencintainya. Dan saat melepasnya jalan kekantor, saya yang memang cengeng ini sudah mewek sambil memohon doa agar suami saya di lindungi dalam perjalanannya kekantor. Mewek saya bahkan masih berlanjut sampai saya dikantor. Daripada bikin malu, saya terpaksa belok ke toilet dan mewek sejadi-jadinya disana. Sambil janji lagi, saya gak akan ngulangi hal seperti ini lagi (janji lagi, janji lagi).

Namun yang pasti saya terluka sangat, saat menyakiti suami saya. Saya jauh lebih kecewa dan marah dengan diri saya saat saya marah padanya. Saya harusnya bisa lebih sabar lagi, harusnya bisa lebih cool lagi, karena saya bukan bocah lagi, saya seorang istri, yang seharusnya bisa lebih dewasa.

See…., saya gak pernah suka bertengkar, karena bukannya puas karena sudah marah-marahin pasangan, tapi justru penyesalan sejadi-jadinya yang ada. Entah dengan pasangan yang lain, yang mungkin akan dengan mudahnya bilang sudah tidak cocok lagi. Namun bagi saya, tak ada manusia yang saling cocok didunia ini. Yang ada hanyalah mencocokkan perbedaan-perbedaan itu agar menjadi sebuah harmoni.

Saya yakin suami saya tau, that I love him a lot.

Hayoks, smile lagi………………………… ^_^

Jangan pernah lupa masa pacaran

Published Agustus 14, 2011 by Mrs Nugroho

 

Dulu saya sangat takut jika pasangan saya akan berubah suatu saat setelah beberapa tahun pernikahan kami. Atau lebih buruk lagi, tak lama setelah pernikahan. Oleh karena itu, saya tak pernah berhenti bertanya padanya apakah ia menyayangi saya? Apakah ia akan berubah suatu saat nanti? Apakah ia akan meninggalkan saya jika suatu saat ia menemui seseorang yang lebih istimewa dari saya? Dan jawaban semuanya adalah iya, tidak dan tidak.

Saya takut pernikahan saya akan hambar pada tahun-tahun setelah tahun pertama dan suami saya perlahan-lahan berubah dan semuanya hanyalah tinggal rutinitas belaka. Tak ada lagi kejutan, yang ada hanya perbuatan yang terus diulang-ulang. Ini bermula dari obrolan saya dengan seorang driver direksi saat saya masih bekerja di kantor yang sebelumnya. Hanya ingin belajar dari seorang yang sudah berpengalaman tepatnya, sebab saat itu saya memang belum menikah.

Dan jawabannya sangat mengejutkan saya. Bahwa setelah memiliki beberapa anak, percikan-percikan api cinta – katakanlah seperti itu – yang dulu selalu muncul kini sudah tak ada lagi. Urusan tak pernah lagi menjadi kamu dan aku, tapi anak-anak. Pelukan dan ciuman adalah hal yang jika kini dilakukan akan terasa sangat canggung sekali. Dan bagaimana dengan hubungan suami istri? Tanya saya penasaran. Dan taukah kalian jawabnya, hubungan suami istri pun hanya dilakukan karena kebutuhan biologis semata, hubungan yang satu itu tak lagi dijadikan cara untuk mengungkapkan seluruh perasaan kita pada pasangan kita.

Waktu itu saya hanya mengerenyit, membayangkan semua hal yang  saya rasa tak masuk akal di dalam pikiran itu. seolah tau jalan pikiran saya, driver itu mengatakan pada saya, nanti ketika saatnya tiba, kamu juga pasti merasakan hal yang sama. Tapi tentu saja bukan saya jika ingin mengalami hal yang sama. Dengan penuh keyakinan saya katakan padanya, bahwa saya tak akan membiarkan hal yang sama terjadi pada saya. Dan sebagai balasan saya pun mendapatkan seringai ejekan.

“Percaya deh, setelah punya anak, kalian udah gak akan sempat ngapa-ngapain.” Itu ucapannya saat pergi meninggalkan saya. Dan itulah alasan kenapa saya selalu bertanya apa pasangan saya akan berubah setelah menikah nanti.

Hal yang sama juga pernah saya  tanyakan pada salah seorang atasan saya. Dan jawabannya adalah, bahwa ia tak pernah mengucapkan I Love You sejak ia menikah dengan suaminya. Dan hal ini lagi-lagi membuat saya bertanya-tanya, bukankah cinta itu sesuatu yang harus ditunjukkan, harus dikatakan? Alasannya, ia bukanlah tipe orang yang suka seperti itu. Tapi tidakkah rasa cinta yang besar untuk pasangan kita bahkan bisa membuat kita melakukan hal-hal yang menurut kita tidak mungkin untuk kita lakukan? Setidaknya untuk saya, cinta harus ditunjukkan dengan perbuatan, dizahirkan dengan ucapan, dan dihembuskan dalam setiap keseharian kita. Tapi ternyata masih terlalu banyak penafsiran cinta diluar sana yang sangat tak bisa saya mengerti.

Maka ketika menikah, saya katakan pada suami saya, saya tak menginginkan perubahan apapun pada sikap kami. Tentu saja ada yang memang harus berubah. Sikap dan tanggung jawab serta status kami harus berubah dan disesuaikan. Tapi bukan berarti cara kami mencintai pun harus berubah bukan? Artinya, saya tak ingin kami merubah gaya kami mencinta satu sama lain. Saya ingin terus memelihara budaya pacaran kami dalam keseharian rumah tangga kami.

Dan memang itulah yang kami lakukan. Ketika jam pulang kantor suami saya tiba, dan mama tiba-tiba menelepon dan bertanya saya sedang apa dan dimana, saya katakan saya sedang di  jalan dan ada janji dengan suami. Biasanya beliau hanya tertawa mendengar alasan saya, dan mengatakan kami seolah-olah masih pacaran saja. Masih janji-janji ketemu segala macam, padahal setiap hari tentu saja sudah bertemu dirumah.

Kami tak pernah melepaskan tangan satu sama lain saat berjalan. Selalu bercanda saat suntuk kala macet. Jalan-jalan tanpa tujuan pada weekend yang bokek. Nonton midnite di 21. Berburu makanan murah saat duit sedang tidak banyak dikantong. Bermain monopoli saat sedang tak ingin keluar rumah. Saling mencium dan memeluk saat akan berpisah. Tak pernah absen bilang I Love You atau Aku Sayang Kamu pada setiap kesempatan.

Sama seperti mama, orang-orang dijalanan juga sering kali menduga kami masih pacaran. Hal itu baru akan tertepis jika kami sudah keluar belanja bulanan setelah jam pulang kantor dengan mengenakan baju tidur dan membawa plastik belanja bulanan sambil nongkrong sebentar di burger king plaza semanggi.

Yah, saya memang selalu berusaha untuk tak pernah melepas tangannya ketika berjalan. Memang ada kalanya saya lupa dan membiarkan tangan saya bebas, tapi biasanya tak pernah lama. Jika kebetulan saya berjalan didepannya, saya akan mengulurkan tangan kebelakang dan menunggu tangannya menggenggam tangan saya. Jika saya berjalan di belakangnya, maka saya akan memintanya untuk menggenggam tangan saya dan tak akan mulai berjalan sampai ia menggenggamnya. Mungkin sebagian orang akan mengatakan hal seperti itu terlalu repot. Tapi bagi saya, itu adalah salah satu cara untuk terus memelihara rasa sayang dan cinta saya pada suami. Itu salah satu cara untuk menunjukkan pada dunia bahwa saya bahagia bersamanya.

Kami juga tak pernah melupakan bercanda. Bukan berarti kami selalu bercanda tentang hubungan kami. Tapi daripada diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing – seperti yang kadang sering dilakukan beberapa pasangan lainnya, kami sering melakukan hal-hal yang ajaib dan kadang konyol hanya untuk memancing salah satu dari kami agar tertawa saat jalanan sedang macet parah. Suami saya punya bakat alam bahwa ia tak perlu memancing tawa saya dengan joke-joke apapun, tapi cukup hanya dengan gerakan atau ucapan tak sengajanya saja. Biasanya gerakan anehnya yang spontan sudah berhasil mengundang tawa saya. Atau ucapan aneh lain yang keluar begitu saja dari bibirnya. Sementara saya, perlu usaha lebih dengan melakukan hal-hal kreatif untuk membuatnya menarik garis bibirnya ke atas.

Kadang saya hanya memberikannya teka teki garing. Namun tak jarang saya akan bertingkah aneh menirukan beberapa binatang sambil menghadap kearahnya. Gaya favorit saya adalah simpanse mode:on. Suami saya paling tak tahan jika sudah melihat saya memasang pose seperti itu. Ia akan tertawa dan langsung memalingkan mukanya setelah itu. Ngeri liat monyet, katanya. Tapi tentu saja itu tak pernah membuat saya berhenti melakukannya. Pernah suatu kali ia menggendong saya didepan tubuhnya, dan secara mendadak saya berpose dan berlaku seperti simpanse. Reaksi suami, terbahak tentu saja dan langsung memelorotkan gendongannya. Ia tak ingin melihat pose konyol saya itu berlama-lama.

Jika dulu kami sering menekuk muka jika bokek saat weekend, maka saat ini kami lebih sering melakukan hal-hal spontan untuk mengatasi kebosanan kami. Hal yang paling sering dan memungkinkan tentu saja jalan-jalan. Tapi jalan-jalan kami kali ini tanpa tujuan. Hanya jalan saja. Kemana kaki kami mau melangkah, tanpa berniat singgah dimanapun. Pernah satu kali malam minggu sebelum jadwal gajian, dan kami harus irit sampai gajian tiba. Tentu saja tak ada budget untuk jalan, apalagi makan. Tapi mau diam dirumah saja juga rasanya malas sekali. Jadi kami memutuskan keluar dan berkeliling jakarta dengan busway. Kami naik dari halte kuningan madya, turun di dukuh atas, naik ke arah kota, transit di harmoni, antri di koridor menuju pulogadung, turun di senen, lanjut ke matraman, dan menuju dukuh atas lagi untuk antri kembali di koridor menuju ragunan. Hanya begitu saja. Berkeliling melihat jakarta sambil bercerita tentang banyak hal.

Kalau dulu nonton midnite sering membuat saya merasa tak enak hati karena harus pulang malam dan membiarkan suami saya pulang kerumah tengah malam dengan harap-harap cemas, kini nonton midnite dengannya tak lagi menjadi masalah. Menjadi suami istri artinya kami bebas pulang jam berapapun. Tak lagi risih jika ditanyai orang yang kebetulan melintas, dan jauh lebih bebas mengekspresikan perasaan kami saat saling menggenggam tangan atau menyenderkan kepala saya di bahunya saat nonton atau karena ac bioskop yang terlalu dingin.

Pun saat ingin sekali makan tapi tidak tersedia cukup uang dikantong. Biasanya saya punya keinginan untuk makan yang sangat susah sekali untuk dikendalikan. Sering datangnya tanpa direncanakan dengan baik sebelumnya. Artinya, sering sekali saya tiba-tiba ingin makan sesuatu sementara kantong sedang bokek. Jadi jika sudah begitu, saya dan suami biasanya menyiasatinya dengan berburu makanan murah. Contoh, jika saya sedang ingin makan makanan berkuah. Ada bakso yang memang enak banget, tapi mahal dan isinya dikit bow! Kami tidak akan meliriknya, dan akan terus melangkah ke warteg yang kami tau soto ayamnya enak banget dan murah, plus bisa nambah tempe kering sampe 4 biji lagi!

Jika perut sudah lapar tapi rasanya masih sayang banget membelanjakan uang karena beberapa jam lagi sudah waktunya jam makan besar, yang akan menjadi sasaran kami berikutnya adalah tukang gorengan. Beli ubi, tempe, tahu, dan pisang goreng, dan dimakan berdua, rasanya sudah cukup untuk mengganjal perut yang bahkan tanpa kami sadari sering bertahan lebih lama dari yang kami harapkan.

Hehehe, sungguh bukan karena pelit. Hanya saja ketika keadaan sedang tidak memungkinkan, tentu saja kami harus berpikir cerdas untuk menyelamatkan kantong kami tapi tidak mengorbankan perut kami sendiri.

Beruntunglah plaza semanggi punya satu gerai didalam giant yang khusus menjual mainan dan makanan zaman dahulu kala. Jadi ketika suatu waktu kami mendapati monopoli tanpa pikir panjang kami langsung membelinya, walaupun dihargai 17 ribu rupiah. Padahal dulu tentu saja gak sampai segitu ya? Dan monopoli inilah yang kadang menolong kami jika kami diserang rasa bosan ngapa-ngapain saat dirumah. Main dan mengocok dadu, sambil berteriak-teriak karena berhasil membangun hotel dan memblokade sebuah wilayah adalah sebuah kesenangan tersendiri yang sudah sedikit susah didapat untuk saat ini.

Dan akan saya katakan pada kalian, bahwa saya tak pernah melupakan untuk memeluk dan mencium suami saya saat akan berpisah. Jika dirumah saya akan memeluknya erat dan memintanya mencium saya. Jika diluar rumah, saya akan merangkulnya dan menyalim tangannya. Tentu saja sedikit ribet untuk memberinya ciuman diluar. Yang ada bisa-bisa kena pasal tindakan asusila.

Tak pernah absen bilang I Love You atau Aku Sayang Kamu pada setiap kesempatan. I really do! Saya mengatakannya dalam sms, dalam telepon, saat akan berangkat kerja, saat akan tidur, saat bangun tidur, bahkan saat tak ada kerjaan dan hanya memandanginya. Saya mengucapkannya dan tak akan berhenti sampai ia mengucapkan hal yang sama pada saya.

Tentu saja, saya tak akan menunggunya untuk berbuat terlebih dahulu baru saya berbuat hal yang sama. Saya percaya cinta adalah bagaimana kita memperlakukan orang yang kita kasihi dengan perlakuan yang terbaik. Cinta adalah bagaimana soal membuat orang yang kita sayangi bernapas dengan nyaman saat berada bersama kita. Bahwa cinta adalah hal yang harus kita tunjukkan dan katakan pada orang yang kita cintai, karena akan kejam sekali rasanya jika kita tak pernah membiarkannya tau betapa kita mencintai mereka. Cinta adalah soal membuat seseorang yang kita pilih untuk bersama kita selama sisa hidup kita selalu tersenyum dalam keadaan apapun.

Memang saya dan suami tak pernah tau apa yang terjadi. Kami baru menikah. Orang-orang pasti akan bilang, wajar saja jika mereka masih hot-hotnya. Sebentar lagi ketika sudah punya anak juga pasti akan berubah. Tapi saya dan suami juga punya pilihan untuk memilih. Dan kami berdua sudah memilih untuk tidak pernah meninggalkan romantisme pacaran kami dalam kehidupan rumah tangga kami. Untuk saat ini, dan mudah-mudahan juga nanti dimasa depan, saat kami diberi kepercayaan oleh Allah untuk mendidik bayi-bayi kecil kami.

Oh ya, apa saya sudah bilang pada kalian, bahwa suami saya masih selalu deg-degan jika berada didekat saya atau saat sedang memeluk saya, sama seperti pertama kali ia mencium saya dulu……

 

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.