Feeds:
Tulisan
Komentar

Tentang langit…

Langitku hari ini kelabu. Yah, sebagian besar memang karena musim penghujan telah memasuki masanya. Tapi, sesuatu yang lebih besar tengah mencengkram hatiku. Menelisik, seolah menguliti, apakah kisahku akan berakhir senyum, atau justru bersimbah air mata lagi.

Kurasa, aku takkan siap untuk sakit yang kesekian lagi. Tak siap untuk rasa hati yang entah. Permintaanku hanyalah sederhana saja. Cintai aku dengan seluruh hatimu. Itu saja. Tak kan kuminta kau membawakanku harta yang menggelimangi sudut ruangmu. Aku hanya berharap tulus cinta dari hatimu.

Jika ku boleh berkisah pada langit, ku mohon teranglah. Agar hati ini bisa sedikit lega dengan warna langitmu.

Hingga, saat itu, mungkin sekitar tanggal 25 oktober, ia berwacana tentang sesuatu hal, pernikahan. Yang tak butuh waktu lama baginya untuk berbusa-busa menjelaskan, langsung diiyakan sang pria. Toh, ia memang menginginkan gadis itu, untuk apa lagi menunggu waktu hingga 2011 seperti yang pernah menjadi obrolan sambil lalu mereka.

Dan begitulah. Mereka sudah sepakat untuk meresmikan ikatan cinta mereka. Awal tahun depan, begitulah niatan mereka. Hanya saja, masalah ternyata tak berhenti sampai disitu. Seorang pria dari masa lalu sang gadis ternyata datang lagi. Pria ini bukan sembarangan pria. Karena ia adalah orang yang selama ini ditunggu gadis itu sejak masa SMA hingga beberapa bulan sebelum ia bertemu dengan prianya ini. Dan setelah semua yang direncanakannya, kini pria itu datang lagi, dengan membawa hati yang selama ini ditunggu gadis itu.

Sang gadis terdiam. Sudut terdalam hatinya tak bisa memungkiri bahwa perasaan ingin itu masih ada. Tapi cintanya saat ini juga tak bisa dilepaskan begitu saja. Lebih tepatnya, ia tak mungkin melepasnya. Hingga akhirnya, pada suatu titik, ia meminta izin pria itu untuk menemui orang masa lalu itu. Hanya menemuinya. Dan memastikan bahwa ia sungguh tak membutuhkan pria itu lagi dalam kehidupannya. Sebuah tindakan yang tak perlu sebenarnya. Tapi ia berkeras ingin melakukannya.

Ada pandangan mata bertanya, kekhawatiran, resah yang tak terucapkan dari prianya. Yap, tentu saja ia tak ingin persiapan pernikahannya dikacaukan oleh orang yang Cuma sekedar masa lalu saja. Terlebih, ia tentu saja tak ingin dikalahkan oleh sang masa lalu. Dan memang ia melakukan sesuatu yang sempat membuat tegang keadaan. Untung saja kepala dingin pria itu membuatnya mampu melihat sesuatu secara lebih objektif pada akhirnya.

Pada akhirnya, mereka belajar memahami, bahwa masalah tak ada gunanya disimpan-simpan. Tak ada gunanya dipendam sendiri. Jika saling mencintai, maka hakikatnya adalah berbagi. Sekarang? Mereka sedang dibuat pusing tujuh keliling oleh persiapan pernikahan mereka.

 

P.S: ternyata kisahku gak jelek-jelek juga ya. Si ika masih narsis.

Tapi kisah mereka masih belum berakhir. Seninnya, yang sebenarnya adalah hari libur kemerdekaan Indonesia, masih saja memaksa gadis itu untuk menghabiskan waktu mengerjakan proyek kantornya. Sementara ia juga punya janji dengan sang pria untuk melihat pameran wayang di plaza semanggi. Janji pertama jam 1. tapi ia mundurkan lagi karena pekerjaan yang belum selesai hingga jam 2. dari jam 2 mundur lagi jam 3. dari jam 3 juga begitu. Mundur lagi jam 4. dan begitulah, hingga akhirnya ia baru bisa bertemu pukul 5. itupun karena ia melarikan diri dari kantor dan harus menanggung resiko disemprot keesokan harinya. Tapi begitulah hidup, menurutnya. Hidup yang lurus-lurus saja tak akan pernah membuat warna warni yang indah.

18 agustus mereka masih bersama. Tapi ada sesuatu yang berbeda saat itu. Malam itu pembicaraan mereka di taman menteng mulai mengarah pada hal yang lebih personal. Tentang keluarga. Tentang harapan. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Yang jelas, tentang itulah mereka berbicara.

Pukul 02.15 am tanggal 19 agustus 2009, pria itu mengucapkan sesuatu yang membuat gadis itu menahan nafas. Pria itu memintanya menjadi gadisnya. Tapi sesungguhnya bukan itu saja yang membuatnya menahan nafas. Karena pria itu juga meminta hal itu tepat di sebelah meja para preman pasar yang tengah main gaple! What a man!

Hanya hitungan hari, mereka pun merajut berbagai harap yang dilabuhkan dalam kapal bernama relationship. Banyak protes yang datang. Mengapa gadis itu memutuskan secepat itu untuk jatuh cinta pada pria yang menurut orang-orang  itu kurang pantas untuknya. Banyak yang mencerca secara terang-terangan malah. Namun sang gadis bergeming, yang semakin membuat orang-orang itu mengira bahwa ia sedang dibutakan oleh cinta. Tapi ia hanya menganggap semuanya angin lalu. Biarlah mereka berhembus, lantas hilang, pikirnya.

Dan ia memang membuktikannya. Beberapa pria mapan yang entah bagaimana ceritanya bisa ada dalam hidupnya, satu-satu datang ke hadapannya dan meminta hatinya. Tapi ia pun tetap seperti semula. Tak bergeming.

to be continued….

Begitulah. Kenalan lewat sms tanggal 12 agustus 2009. hanya 1 hari setelah ulang tahun gadis itu. 13, 14 agustus mereka habiskan dengan bercengkrama hanya lewat teknologi yang satu itu. 15 agustus mereka janjian untuk bertemu muka. Tapi tak secepat yang diharapkan si pria. Karena sang gadis masih harus menghabiskan lembur akhir minggunya di kantor.

Jam makan siang, mereka pun akhirnya bertemu. Makan siang di solaria setiabudi. Nonton merah putih di setiabudi 21. dan melihat-lihat pameran keju di gelora bung karno. Tak banyak yang mereka lakukan disana. Hanya berbicara tentang banyak hal. Bertukar pikiran dan keinginan. Dan hanya begitu. Saling mempertanyakan kenyataan mengapa mereka memilih untuk menjadi jomblo.

Hingga tibalah waktu makan malam. Keduanya tak begitu selera dengan ragam makanan keju yang di pamerkan ternyata. Hingga keduanya memilih untuk mencari makan diluar. Pencarian makan malam yang lumayan boros, karena saking nervousnya sang pria, ia lupa bahwa gelora bung karno dekat dengan FX plaza ataupun Ratu plaza. Ia justru mengajak gadis itu jauh-jauh ke Plaza Semanggi untuk mencari makanan.

Di Platina lah mereka berakhir. Take away tentu saja. Karena mereka berencana untuk kembali lagi ke gelora bung karno. Ada pertunjukan Tompi disana. Paling tidak menikmati malam minggu dengan pertunjukan musik gratis, tak ada salahnya kan.

Tapi sang pria tak sadar, bahwa platina memberlakukan limit pembelian untuk penggunaan kartu kredit. Dan pembelian mereka ternyata masih belum mencapai jumlah minimum penggunaan kartu kredit. Dengan cengiran, ia menunjukkan pada sang gadis, bahwa dompetnya saat itu kosong. Dan jika diperbolehkan ingin meminjam pada gadis itu. Tak ingin berlama-lama, sang gadis pun meminjamkannya.

Tapi sang pria bukan tipe orang yang memanfaatkan orang lain. Meskipun ia tau gadis disebelahnya itu sebenarnya sah-sah saja membayari makan malam mereka, ia tak lantas menafikannya. Segera setelah itu ia mencari atm dan mengganti uang gadis itu.

Pameran keju itu berakhir pukul 10 malam. Tapi keduanya belum juga ingin beranjak pulang. Mereka hanya duduk-duduk di tepi air mancur yang ada ditengah gelanggang. Terus begitu, hingga sampai pukul setengah 11. hingga sang gadis tiba-tiba nyeletuk untuk melewatkan malam dengan midnite show. Si pria menyetujuinya begitu saja. Malam itu, keduanya baru pulang kerumah pukul setengah 3 pagi. Hal yang sebelumnya tak pernah dilakukan gadis itu.

to be continued…

Cerita cinta ini biasa saja. Bermula dari dua orang asing yang bertetanggaan kantor. Tak saling kenal, dan bukan pula tipe orang yang suka flirting flirting tak jelas. Hanya saja, salah seorang di antara mereka berdua memiliki hobi yang agak berbeda. Dia hobi keluar masuk toilet.

Awalnya gadis itu merasa baik-baik saja. Ia, entah karena suatu alasan apa, begitu hobinya bolak balik toilet. Tentu saja, disana ia memang melakukan apa yang seharusnya dilakukan orang di toilet.

Hanya saja, di akhir juni 2009 ia merasa sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang lebih terasa seperti tengah diperhatikan atau apalah itu namanya. Dan benarlah dugaannya. Ada seseorang yang memang selalu memperhatikannya setiap kali ia bolak balik toilet.

Tapi hanya begitu saja. Pria yang memperhatikan itu tak juga berani mengenalkan dirinya. Hingga lama kelamaan, karena sebal merasa diperhatikan terus menerus, sang gadis bertanya pada office boy kantornya – sudah menjadi tradisi kalau para OB adalah orang yang paling tau segala sesuatu tentang orang-orang di kantor kan?

Ia hanya bertanya, siapa gerangan pria itu. Tapi yang tak disangkanya adalah sang OB justru selangkah lebih maju dari apa yang dipikirkannya. Tanpa sepengetahuannya, si OB menyampaikan salam darinya pada pria itu yang sebenarnya tak pernah di lakukannya. Dan dari sanalah berawal. Merasa mendapat angina, sang pria pun meminta no hp gadis itu. Kelakuan standar para pria yang ingin pedekate.

Tapi tak susah baginya mendapatkan gadis itu. Entah karena memang keberuntunganya, atau karena perempuan itu tak lagi ingin seperti para abege yang berlama-lama, mengulur waktu untuk suatu periode yang sering disebut penjajakan.

to be continued…

Mengenal Alm.Bapak Sarino

Malam ini saya sungguh tidak bisa memejamkan mata sedikitpun. saya tengah kangen dengan seseorang. seseorang yang belum lama ini mulai mengisi kesendirian saya selama  ini. Rasa rindu itu semakin menjadi, manakala hati menyadari bahwa kami berdua tengah dilanda masalah. Yang pada akhirnya membuat kami mengambil jarak untuk menjauh dan memulihkan diri.

Hingga tiba-tiba nama itu hadir begitu saja dalam benak saya. Bapak Sarino. Beliau adalah bapak dari kekasih jiwa saya itu. Tapi sayangnya beliau sudah tidak ada. Beliau pergi pada tanggal 28 Oktober 2005 silam karena menjadi korban perampokan taksi yang dikemudikannya saat itu.

Yah, beliau memang supir taksi express, yang harus berakhir hidupnya ditangan perampok-perampok gila di jakarta. Tadinya, saya sungguh tidak berpikir untuk mencari tau. Entah kenapa, malam ini saya begitu penasaran. Dan rasa penasaran saya itu terbayar sudah.

Dari dokumentasi-dokumentasi berita elektronik yang saya baca, Beliau adalah sosok seorang rekan kerja yang sangat berdedikasi. Bayangkan saja, ia sudah bekerja selama 15 tahun dan tidak pernah sekalipun membuat pelanggaran. Hal itu membuatnya dianugrahi predikat karyawan teladan oleh pihak perusahaan.

Tidak hanya itu, di mata tetangganya, Beliau juga seorang yang ramah dan santun. Menurut mereka, ia punya tawa yang khas. Sayang, saya tidak akan pernah lagi melihat tawa yang katanya khas itu.

Dan menurut keluarganya, ia adalah sosok ayah yang sangat bijaksana dan penuh perhatian. Saya mengenal Beliau sekilas dari mulut kekasih jiwa saya. Ia pernah bercerita, bahwa ia tidak malu meski ayahnya hanya seorang supir taksi. Sebab sang ayah punya cita-cita yang begitu tinggi, menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi sehingga berhasil dan jadi orang yang berguna. Dan beliau berhasil, kedua anaknya adalah lulusan dari Universitas Indonesia yang saat ini sudah bekerja sendiri-sendiri.

Ada air mata yang mengalir saat membaca kronologis pembunuhan itu. Ada isak yang saya hasilkan saat membaca baris demi baris dimana kekasih jiwa saya begitu tak mampunya menahan kesedihannya saat harus kehilangan sebelah sayapnya. Pun dengan Ibu, Istri Bapak. Baru saya mengerti mengapa ia jauh lebih banyak diam setelah itu. Kata mereka, ia tak pernah menangis setelah kejadian itu. Tapi saya yakin, ia punya trauma dan kekhawatiran yang dalam terhadap anak-anaknya. Ia juga pasti punya kesedihan yang sangat maha karena harus kehilangan belahan jiwanya.

Saya mulai mengingat lagi perselisihan saya dengan anak sulung Bapak, kekasih jiwa saya itu. Saya tau saya tak akan bisa mengulang waktu. Saya tau saya tak akan bisa membalikkan keadaan seperti semula. Saya tau dia pasti kecewa. Saya memahami semuanya.

Saya hanya ingin menjadi perempuan dibaliknya yang menyokongnya untuk mewujudkan semua mimpi dan harapannya. Seperti yang diharapkan oleh Bapak, untuk menjadi orang yang berguna. Saya hanya ingin menjadi perempuan itu. Saya ingin menemaninya dalam perjalanan yang pasti akan panjang. Saya ingin memeluknya saat ia terjatuh. Dan menghiburnya jika ia menangis.

Saya mungkin tidak akan pernah lagi bertemu dengan Alm.Bapak. Saya tidak akan pernah mempunyai calon ayah mertua. Tapi saya seperti sudah mengenalnya bertahun-tahun. Saya menangis membaca beritanya. Saya menangis membaca kesedihan yang tertera dalam tiap baris ucapan anak dan istri Bapak.

Kesedihan yang membuat saya tiba-tiba begitu rindunya dengan anak sulung Bapak. Kekasih jiwa saya. Selamat Jalan, Bapak. Semoga Diberikan tempat terbaik disisi-Nya. Saya berjanji, jika saya memang diberi kesempatan, saya akan menjaga anak sulung Bapak dengan seluruh jiwa raga saya.

Kepada hati itu aku terlena. dimana kau berada, aku terbawa. kepada hati itu, aku terus mencoba, dimana kau berada, aku terbawa.

Entahlah, kemana dia. sampai pada pucuk cemara jejaknya pun hanya tinggal hembusan angin.

Bahkan angin pun tak lagi menyisakan apa-apa tentang harumnya. membuatku kembali menunduk menatap tanah, mencoba mencari jejak langkahnya. tapi tetap tak ada. segalanya, seperti hilang bersama angin.

Setidaknya, pada tanah ada harapan yang dinyanyikan rindu. setidaknya pada tanah, pelangi selalu menari. setidaknya pada semua, rindu akan selalu menggebu.

Tapi kali ini tak ada rindu yang bermuara harap. tak ada hujan pula yang mencipta semburat warna warni di ujung langit. pun sejujurnya, aku tak tau kemana rindu ini bermuara. ia seolah kehilangan dermaganya. dermaga yang tadinya masih disana. tapi tak lagi kulihat kini.

Jika tak ada rindu lagi, untuk apa perahu itu melaut. hanya pada lambaian selendang nona ditingkahi lenggok nyiur kelapa, pelabuhan menjadi bermakna, dan demi pasir yang mengajarkan tepi pada laut….melati terus berharap.

Rindu itu masih ada. hanya saja, bumi seolah enggan menerimanya. hingga ia melayang kesana kemari tak tentu arah. rindu itu masih ada. hanya saja, ia masih menunggu. ia berharap ada tepi pada laut yang bisa diinjaknya. tapi, ia tetap tak menemukannya. ada rindu, yang tak menemukan tempat berpulangnya, maka kemana langkah harus kubawa?

Bukankah antara langit dan bumi ada horison yang membuat semuanya lebih indah. rindulah pada suatu ketika yang merenggutmu dari kehidupan dan juga pada waktu yang tak pasti menarikmu kedalam bianglala kebahagiaan.

Andai ada horison yang bisa  menempatkan rindu itu disana, maka pasti akan kulakukan. rindu itu memang telah menarik jiwaku dari raganya. membawanya pada suatu tempat yang mulai tak kukenali. bukan bianglala kebahagiaan. dan kuharap bukan pula bianglala kesengsaraan. tapi rindu itu hanya berputar-putar disana. ia tak bisa memilih tempatnya menjejak. namun entah kenapa, sejauh mata memandang, hanya ada hamparan gelap. tak ada cahaya yang bisa menuntun rindu ini. aku mulai lelah, tapi masih tak ingin menyerah…..

ada sayap yang terluka, ada gelap yang menghunjam…. dimanakah rindu saat gelap itu mengundang dirimu masuk kedalamnya, disana mungkin tidak ada tarian dengan kipasan sayap… tapi pada kegelapan cahaya lebih berarti, pada kesengsaraan kebahagiaan lebih terasa indah…..

tapi dimana menemukan cahaya saat gelap mengepungku? tak ada tarian yang bisa kulihat karena mataku menjadi buta bersama gelapnya ragaku. andai ada cahaya diujung sana, akan kukejar seberat apapun jalannya. meski mungkin saja akan mengoyak-ngoyak sayapku yang telah terluka. aku hanya ingin melihat setitik saja cahaya. adakah yang bisa menuntunku?

biarlah waktu yang mengobati hati dengan sebentuk senja, bersiullah pada pucuk2 ilalang semoga embun masih tersimpan dibalik kelopak untuk menghilangkan dahaga… biarlah mengalir jejak itu sampai meninggalkan debu.. mungkin pada tikungan sana ada seseorang yang menyambutmu dengan pelukan hangat dan sekuntum mawar…

Maka itulah yang akan kulakukan. terlalu lelah aku melanjutkan perjalanan dan mencari jawab. maka biarkan aku disini, menunggu dalam kesendirian, dalam kegelapan. aku percaya, ada cahaya diujung sana. aku percaya, ada cahaya…..

Writen by: Neng feat Kang Almas

a lonely saturday nite……..

Kalau ada yang mengatakan betapa tak belajarnya saya tentang sebuah rasa sakit akibat mencintai, mungkin itu memang benar. Betapa tidak, sekian pengelaman menyakitkan ternyata tak juga menyurutkan rasa hati ini untuk mencintai seseorang. Bahkan meskipun rasa itu harus membuat hati berdarah-darah karenanya.

Tapi memang bukan saya namanya jika pernah kapok. Toh, saya pada akhirnya jatuh cinta lagi. Jatuh cinta yang membuat saya merasa selalu cerah. Meski tak selalu melihat sosoknya, rasa itu sanggup melukis berbagai siluet warna setiap kali saya menatap cahaya.

Hah…, berubah puitis pula saya. Tapi, biarlah. Intinya, saya saat ini tengah terpesona. Saya tengah terpesona akan semua gerak-geriknya. Saya terpesona pada semua yang ditulisnya. Saya terpesona pada semua yang dijadikannya indah penuh warna diatas frame. Saya……, memang sedang terpesona agaknya.

Saya ingin terus terpesona. Karena itu, sedikit banyak membuat saya merasa menjadi perempuan. Perempuan yang tengah mencintai seseorang, dengan apa adanya dirinya.

Saya ingin terus terpesona. Karena itu membuat saya merasa paling ahli dalam bidang seni, meskipun saya tak menyandang gelar untuk itu. Keterpesonaan itu mendadak mampu membuat saya mengerti apa kata angin. Membuat saya mengerti apa yang tengah dimaksud bumi saat dicurah ribuan tetes air dari langit.

Ah, semakin tak karuan saja rasanya puitis ini. Satu yang saya rasa, saat ini saya memang terpesona padanya. pada dia yang disana, yang terpisah oleh batasan-batasan tembok gedung ibukota.

Tapi saya tak peduli. karena keterpesonaan saya, ternyata mampu merubuhkan batasan itu……..

God, please……….

How’s life treating you?

For me, it’s not always good. and  i do believe that all people do face the same thing as me.

I Really do not want to complain. but my life seems getting more horrible day after day.

Until i think, that i’m not breathing again……..

Re-plan my life

i just read this quote a couple days ago, which said that;

“Life is all about yourself and your passion, not others”

i thought, i have put my life into people’s control since i joined office’s environment anymore. and with all due respect to everyone, i need to re-plan mine. need to re-arrange my future.

That’s it!

Tulisan Sebelumnya »